Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 58


__ADS_3

***


Pencarian Ciko berlanjut, terpaksa Dean harus keluar mencari Ciko. Dia juga melapor pada petugas keamanan di sana, Dean tidak bisa kembali sebelum menemukan Ciko. Jelas Zivana begitu marah padanya, ibu hamil yang satu itu begitu murka.


Dean mengumpat kesal, kenapa juga kucing itu sampai hilang? Yang paling membuat tercengang itu, bagaimana bisa kucing keluar dari kandang nya padahal sudah di kunci.


"Sial! Seekor kucing benar-benar membuat ku tidak beruntung."


Pria itu duduk di kursi panjang di pinggir jalan, hari pun sudah mulai merangkak pagi. Rasanya Dean sudah sangat lelah berkeliling mencari Ciko di jalanan, dia juga butuh tidur.


"Excuse me!" Dean yang duduk bersantai pun langsung berdiri saat seorang waria menghampiri nya, pria itu langsung berniat untuk pergi.


"Eike, mau nanya dong. Situ bisa bahasa Indonesia gak ya?" tanya orang itu.


"Hah? Saya tidak bisa berbahasa Indonesia, maaf saya permisi."


Oh, sialan! Dean mengatakan itu dalam bahasa Indonesia, buru-buru dia menutup mulutnya yang tak bisa di ajak bekerja sama itu.


"Aduhh gimana sih? Katanya gak bisa bahasa Indonesia."


Dean merinding di tempat nya, dia sangat geli mendengar dan melihat gaya waria satu ini. Bagaimana bisa makhluk jadi-jadian seperti ini ada di London pikir Dean.


"Maaf, saya permisi." Dean berlalu dari sana, tapi sialnya waria itu mengejar Dean.


"Mas, tunggu dong! Kita belum kenalan."


Dean semakin mempercepat langkahnya, pria itu berusaha mencari bantuan untuk mengusir waria itu. Ini benar-benar gila, pertama Ciko yang membuat nya terjaga di pinggir jalan lalu sekarang waria itu.


Brukk!!


"Sial!!!" pekik Dean saat kaki nya masuk ke selokan air, dia berusaha untuk mengeluarkan kaki nya.

__ADS_1


"Tuh, kan jatuh. Sini, Angel bantu." Waria yang mengaku bernama Angel itu mengulurkan tangannya.


Dean mendengus kesal, dia tidak bisa menerima bantuan dari Angel si waria ini tapi dia butuh bantuan nya untuk menarik kakinya.


"Mas, ayo Angel bantu." Dia pun berjongkok untuk menarik kaki Dean, tenaga nya sangat kuat Dean bahkan tak mengira itu.


"Pelan-pelan, kaki ku sakit sialan!" umpat Dean.


"Iya mas, tahan ya." Angel menarik sekali lagi kaki Dean, dia mengerahkan seluruh tenaga nya.


Tiba-tiba saja Dean menjadi merinding saat Angel mengedipkan sebelah matanya, waria itu seperti menatap penuh damba pada Dean. Andai saja ada orang lain yang bisa di minta tolong, mungkin Dean tidak akan mau di tolong Angel ini. Sayangnya, ini masih terlalu pagi jadi jalan masih sepi kebetulan juga di sana memang tidak terlalu ramai yang lewat berenda dari jalan yang lain.


"Mas, sakit ya? Gak apa-apa ya, tahan sebentar. Nanti enakan ko, percaya deh sama aku." Angel mengatakan nya dengan gaya sexy dia, tapi itu sangat mengerikan untuk Dean.


Oh, ya Tuhan! Makhluk seperti apa yang ada di hadapan Dean ini, sekarang Dean menjadi sangat takut. Dia takut di lecehkan, secara Angel terlihat begitu kuat di bandingkan dirinya.


"Berhenti berbicara, cepat keluarkan kaki ku. Aku buru-buru." Tegas Dean.


...***...


Akhirnya Dean pulang dengan kakinya yang pincang, dia pasrah sekarang jika Zivana marah padanya. Dia menyerah, Ciko tidak di temukan yang ada dia malah bertemu Angel si waria yang menolong nya itu. Dean jadi berpikir bagaimana jika tadi tidak ada Angel yang membantu ny? Tapi, dia jatuh ke selokan juga gara-gara Angel.


"Areghh!! Ciko sialan, Angel mengerikan."


Dean berjalan memasuki lobby apartemen, wajah nya kusut, dia juga kotor dan dia berjalan terpincang-pincang. Kondisi nya sangat menyedihkan, dia terlihat tidak seperti seorang pengusaha tapi lebih terlihat seperti seorang gelandangan.


"Ya, ampun mas!" suar Zivana memekik indra pendengaran Dean, pria itu menghembuskan nafas nya. Baru sampai lobby, tapi dia sudah di sambut suara cempreng Zivana.


"Astaga, mas! Kamu kenapa?" Zivana menatap penampilan Dean, lihat dia juga memakai sandal hanya sebelah.


"Aku baik-baik saja." Dean berlalu begitu saja, dia masuk kedalam lift sendirian meninggalkan Zivana di lobby.

__ADS_1


Zivana menatap nya dengan perasaan bersalah, dia tidak mengira akan seperti ini. Lagi pula, kenapa bisa penampilan nya seperti itu? Dia hanya pergi untuk mencari Ciko, bukan untuk hal lainnya. Zivana langsung mengejar Dean, dia menyusul Dean ke unit mereka.


"Mas!" Zivana mencari keberadaan Dean, dia mengecek kamar dan mendengar suara gemercik air. "Mas, masih lama mandi nya?"


Tak ada sahutan, Zivana pun merasa kalau Dean pasti kesal padanya. Dia duduk di tepi ranjang menunggu Dean selesai mandi, Zivana juga harus minta maaf kepada Dean ternyata Ciko tidak hilang. Kucing itu ada di dalam apartemen, Ciko masuk ke dalam tong sampah yang ada di dapur.


Merasa Dean yang mungkin akan selesai mandi nya, Zivana pun berinisiatif untuk mengambilkan pakaian untuk Dean. Celana pendek dengan kaus warna putih polos, Zivana sangat menyukai pakaian santai Dean yang seperti itu. Dia pun sudah mengambil celana nya, untuk kaus nya ada di bagian paling atas.


"Tinggi banget sih." Gerutu Zivana yang kesusahan untuk menggapai kaus itu.


Zivana mencari kursi kecil, dia pun menggunakan itu untuk mengambil kaus Dean. Berdiri di atas kursi kecil, Zivana berusaha mengambil kausnya itu sangat susah di tambah perut buncitnya. Siapapun yang melihatnya pasti akan ngeri sendiri.


"Astaga Zivana!" seru Dean dengan wajah terkejut nya, dia langsung berlari menghampiri Zivana. "Kamu ngapain? Turun!"


Zivana menyengir kuda, dia mengangkat kaus putih polos yang berhasil dia ambil. "Ini mas, ngambil kaus buat kamu."


"Aku tidak meminta mu mengambil kan nya, aku bisa mengambil itu sendiri." Dean terdengar kesal karena ulah Zivana ini.


Apakah dia tidak berpikir sebelum melakukan itu? Tidakkah dia takut terjatuh?


"Maaf," cicit Zivana sambil menunduk, dia takut kalau Dean mulai marah padanya.


"Turun!" titah Dean dengan tatapan tajam nya.


Zivana mengangguk dia pun berniat untuk turun, tapi siapa sangka kaki nya salah pijakan.


"Aaaaaakkk!!!!"


"Zivana!!!!"


...***...

__ADS_1


...Up!Up!Up!...


__ADS_2