
***
Kia mondar-mandir tak jelas di dalam kamar nya, ini sudah pukul 10 malam tapi Arzan masih belum kembali. Pria itu pergi sudah sangat lama, apakah dia berbohong pada Kia?
Tapi, mengingat perkataan nya sebelum pergi, Kia jadi teringat dengan scene kissing mereka.
Oh, astaga! Itu sangat memalukan, Kia jadi bersyukur jikalau malam ini pria itu tak jadi kembali ke rumah. Setidaknya malam ini Kia bisa tidur dengan tenang, meski itu terdengar sedikit sulit untuk di lakukan.
"Tidurlah Kia, biarkan saja uncle Spiderman itu. Dia bisa makan sendiri bukan? Dia juga bisa memanaskan makanan nya sendiri." Kia duduk di tepi ranjang, dia akan tidur saja.
Ayo tidur! tidur! tidur! Kia geram sendiri, kenapa dia tidak bisa berbaring dengan tenang lalu tidur? Kenapa pikirannya selalu tertuju pada Arzan?
"Kau gila? Iya, kau sudah gila Kia, kau gila hanya dalam hitungan hari." Kia memutuskan untuk mengambil minum kedapur, gadis itu tidak tahu lagi bagaimana harus mengendalikan dirinya sekarang ini.
Dengan terus menggerutu Kia mengambil minum, setelah itu dia kembali ke kamar. Tapi tunggu dulu, kenapa dia seperti melihat bayangan seseorang? Perlahan Kia menghampiri nya, rupanya itu Arzan. Kapan dia datang?
Arzan berdiri di dekat jendela dengan gorden jendela yang terbuka, pria itu menatap keluar jendela. Dia juga nampak sedang menelpon seseorang, Kia samar-samar mendengar perkataan Arzan. Setelah beberapa menit Arzan selesai dengan teleponnya, pria itu berbalik dan sialnya Kia ketahuan menguping.
Sialan! Kia perpura-pura tak mendengar apapun, padahal sudah jelas Arzan tahu dia menguping. "Eh, uncle kapan sampai?"
Kia tersenyum lebar menutupi kegugupan nya, Arzan hanya memutar bola matanya jengah. Pria itu berjalan mendekati Kia, tentu saja itu membuat Kia tak karuan.
"Uncle mau makan? Nanti akan ku sajikan untuk mu, duduk lah." Kia baru saja akan pergi ke dapur mengambil makana untuk Arzan, tapi pria itu menahan tangan nya.
"Apa kau tidak akan bertanya?" Arzan menatap intens wajah Kia, gadis itu terlihat berpikir sejenak.
__ADS_1
"Bertanya soal apa? Sudahlah, lepaskan tanganku."
"Kau yakin tidak akan bertanya?"
Kia berusaha melepaskan tangan nya, gadis itu benar-benar tidak peduli meski dia penasaran. Itu urusan Arzan akan terkesan tidak sopan jika dia ikut campur, atau hanya ingin sekedar tahu.
"Itu urusan mu, aku tidak mau tau." Sahut Kia.
"Nona Zivana dan tuan Dean akan bertunangan minggu depan, apa kau tidak ingin tahu itu?"
"Hah? apa?!" Seru Kia shock, gadis itu langsung memberikan pertanyaan beruntun. "Apa kau bercanda? Oh, astaga! aku bahkan belum berbicara dengan nya lagi."
"Uncle, apa dia akan mengundang ku? Kau tahu tidak daftar tamu undangan nya?"
"Coba kau tanya langsung padanya."
"Ihh, uncle!" Bibir Kia terlihat maju, gadis itu memanyunkan bibirnya sebagai tanda ngambek nya.
"Berbaikan dengan nya, dia juga sangat ingin bisa bertemu dan berbicara dengan mu lagi." Kata Arzan.
Kia nampak diam, dia bingung apakah dia bisa menemui Zivana? Lihatlah dirinya juga sudah jauh berbeda, dia bukan lagi Kia si anak pengusaha besar dengan prestasi membanggakan. Tapi, dia adalah Kia anak malang yang di korbankan demi uang, anak yang bahkan tak pernah di anggap manusia.
"Perlu ku buatkan janji untuk menemuinya?" tawar Arzan, ini tawaran bagus tapi Kia masih sedikit tidak yakin.
"Akan aku temui nanti, tapi bukan untuk sekarang." Kia berlalu dari sana setelah dia melepaskan tangan dari cekalan Arzan.
__ADS_1
...***...
Hari dimana pertunangan Zivana pun datang, Kia sudah berbaikan dengan nya . Dengan dress sederhana nya Kia menghadiri pertunangan itu, sebenarnya itu bukan pertunangan tapi pernikahan. Iya, yang tadinya acara pertunangan berubah jadi acara pernikahan. Ini benar-benar di luar dugaan, Kia ikut berbahagia juga.
"Selamat ya Ziva, aku ikut bahagia untuk mu."
"Makasih Kia,"
Setelah mengucapkan selamat pada Zivana, tiba-tiba saja Kia harus pulang lebih awal. Dia mendapatkan telpon dari mama nya, Fardan mendatangi rumah mereka dan meminta uang untuk mengurus perceraian mereka. Mama Kia meminta bercerai, dan Fardan akan menceraikan nya kalau dia memberikan uang sebesar mahar mereka waktu menikah dulu.
Sepanjang perjalanan Kia hanya diam, bahkan Arzan pun beberapa kali mengajak nya bicara tapi Kia tetap diam.
"Kita akan memberikan uang nya, jangan khawatir." Kata Arzan.
"Apa dia datang hanya untuk meminta uang nya kembali? Aku takut dia menyakiti mama."
"Tenanglah itu tidak akan terjadi." Arzan menggenggam tangan mungil Kia, hanya sebuah genggam tapi mampu membuat Kia lebih tenang.
Seperti nya Kia sudah benar-benar bergantung pada Arzan, setiap ada masalah pria itu selalu menyelesaikan nya. Setiap Kia merasa takut, Arzan yang akan menenangkan nya. Jika terus seperti ini, apa dia akan baik-baik saja ketika mereka berpisah nanti?
Apa Kia tidak akan terluka saat Arzan berhasil membawa pulang cintanya yang dulu?
...***...
...Up!Up!Up!...
__ADS_1