Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 55


__ADS_3

***


Hari-hari Zivana kini terasa berat saat pagi hari, benar kata dokter dia mengalami morning sickness di tri semester pertama nya. Tentunya itu terkadang membuat Zivana kesusahan, dia sering merasa lemas sebab semua makanan yang dia makan akan dia keluarkan. Dean menjadi lebih protektif sekarang ini, semua yang di makan dan yang Zivana lakukan Dean mengatur nya.


Kadang Zivana merasa risih, tapi dia mencoba untuk memahami kekhawatiran Dean apa lagi mereka jauh dari keluarga. Dean hanya mengambil kerja setengah hari, dia tidak bisa meninggalkan Zivana terlalu lama. Zivana juga masih kuliah, tapi kadang dia melakukan pembelajaran via online.


Seperti saat ini Zivana tak bisa pergi ke kampus, masa tri semester pertama ini terasa berat untuk nya. Mood nya juga selalu berubah-ubah sekarang, kadang begitu ceria lalu kesalahan sedikit saja bisa membuat nya menangis. Sudah di pastikan Dean yang lebih kewalahan menghadapi nya.


"Ngapain yah? Nungguin sampai mas Dean pulang kayaknya masih lama, aku merasa bosan di sini." Zivana duduk dengan tv menyala di di hadapan nya, dia kadang berjalan ke dapur untuk mengambil minum lalu duduk lagi.


Kadang juga dia berjalan ke arah jendela melihat pemandangan kota dari sana, tapi itu terasa membosankan karena dia tidak bisa keluar.


Tak selang beberapa menit Dean pulang, pria itu langsung memeluk Zivana yang tengah duduk menonton tv di sopa. "Sudah pulang? Bukannya ini masih jam kerja?" Tanya Zivana heran.


"Aku bos nya, jadi tidak akan ada yang memarahi ku jika pulang lebih awal."


Zivana memutar bola matanya jengah, memang benar dia bos nya tapi ini masih belum tengah hari. Jika seperti ini tadi pagi dia tidak perlu pergi kekantor, buang-buang tenaga pergi kekantor dan pulang lagi.


"Mas, bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar? Kita sudah lama tidak pergi keluar bersama, benar kan?"


Dean nampak berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk setuju. Tidak ada salahnya kan, lagi pula Zivana juga membutuhkan udara segar di luar. Dia sudah membatasi aktivitas Zivana, lagipula mereka keluar bersama.


"Baiklah, ayo kau mau kemana?"


Zivana langsung terlihat bersemangat, dia segera membuat daftar tempat yang harus mereka kunjungi hari ini. Dean menggeleng kan kepalanya, Zivana seperti seseorang yang terbebas dari kurungan. Mungkin ini sebab Dean yang membatasi aktivitas nya, jadilah Zivana seperti ini.


"Ziva pengen ke mall, taman, dan masih banyak tempat lainnya."


"Baiklah terserah pada mu, aku akan ikuti semua kemauan mu."


"Huaaaa!! Makasih."


***


Dean nampak kelelahan setelah mengikuti Zivana berjalan kesana kemari, mereka sedang berada di mall besar di sana. Zivana sibuk memilih beberapa pakaian untuk nya, dia akan mengoleksi dress yang pas untuk wanita hamil. Itu menurutnya lebih nyaman di gunakan, apa lagi dalam beberapa bulan lagi perut Zivana akan terlihat membesar.


"Mas, lihat warna apa yang lebih cocok untuk ku?" Zivana memperlihatkan dress berwarna pink dan biru muda.

__ADS_1


"Dua-duanya."


"Kalau ini, bagus yang mana?" dia kembali memperlihatkan dua piyama tidur dengan model berbeda, yang satu di atas lutut dan satunya panjang.


"Dua-duanya juga bagus."


"Ini lebih bagus mana?" Zivana menunjukan lingerie seksi berwarna hitam dan merah.


Dean menautkan alisnya, dia menatap intens Zivana. "Kau yakin akan memakai itu?" Setahu Dean, Zivana itu sangat tidak nyaman memakai lingerie seksi seperti itu. Kalau kata Zivana sih, untuk apa memakai lingerie lebih baik tidak usai memakai apapun.


Zivana menggelengkan kepalanya, dia menaruh kembali dua lingerie itu ketempat nya. "Lagian di tanya jawabannya gitu mulu, kan Ziva bingung."


"Kenapa bingung? Sudah ambil semuanya yang kau mau, uang ku tidak akan habis hanya karena dia dress dan dua piyama tidur."


Ah, Zivana lupa suaminya itu sangat kaya. Dia seharusnya tidak melupakan itu, dia juga tak seharusnya bingung saat berbelanja. Zivana bebas membeli apapun yang dia suka.


"Suami Ziva sangat kaya, kenapa Ziva lupa ya? Baiklah, Ziva beli semuanya." Zivana akhirnya membeli semua yang dia pilih, dia merasa begitu puas.


Setelah selesai berbelanja Zivana dan Dean berniat pergi ke taman, sesuai dengan keinginan Zivana. Keduanya mengunjungi taman di kota, banyak sekali orang yang datang kesana.


"Mas, lihat itu bunga nya cantik banget. Ziva mau bawa pulang, boleh ya?" Zivana langsung membuat Dean menghela nafas, permintaan nya itu sangat aneh. Di sini tidak di perbolehkan memetik bunga, apa lagi membawa bunganya pulang.


Namun, Zivana memajukan bibirnya. Dia memasang wajah merajuk nya, itu membuat Dean menghela nafas lagi.


"Sayang," memelas Dean.


Zivana tetap kekeh menginginkan bunga itu, dia bahkan hampir menangis sekarang ini. Matanya sudah berkaca-kaca, siap menumpahkan cairan bening nya hanya karena bunga yang ada di taman.


"Baiklah, aku akan bicara pada penjaga taman di sini." Jujur saja Dean tidak yakin, tapi dia akan mencobanya.


"Ziva, tunggu di kursi sana." Dia berjalan menuju kursi panjang di bawah pohon, sementara Dean pergi untuk menemui pengelola taman.


***


"Pak, saya mohon bantu saya. Istri saya sedang mengandung, dia mengidam memetik bunga di taman ini. Setidaknya, anda memiliki hati nurani untuk seorang wanita hamil."


"Maaf, tuan tapi saya tidak bisa mengambil resiko. Ini kebijakan di sini, saya hanya pegawai dan tidak memiliki wewenang untuk memberikan izin."

__ADS_1


"Pak, saya mohon."


"Maaf, tidak bisa tuan."


Sial! Dean menggeram tertahan, dia harus apa sekarang. Bagaimana bisa dia datang menemui pimpinan mereka, ini masalah bunga dan sangat sepele tapi menjadi rumit karena sebuh kebijakan dan keinginan Zivana.


Dean berjalan dengan perasaan campur aduk, apa yang akan dia katakan? Zivana pasti akan menangis, Dean tidak bisa membujuk nya.


"Arzan?" Dean melihat Arzan berdiri tak jauh dari nya, dia menghampiri pria itu.


"Ar, sedang apa kau?"


Arzan menunjuk pada Zivana yang tengah duduk di kursi taman. "Nona Zivana memanggil ku. Apa ini, kau tidak bisa memberikan setangkai bunga untuk nya?"


"Kebijakan sialan itu, kau tau kan?"


Arzan tertawa kecil, dia juga menunjukan bunga yang Zivana pegang sekarang. Itu sama dengan bunga yang ada di taman, tapi itu Arzan dapatkan di toko bunga.


"Bagaimana bisa?"


"Dia mengatakan ingin bunga di taman ini, lalu dia memotretnya. Aku tau kau tidak akan bisa melakukan apapun, jadi aku membelikan bunga itu dari toko bunga."


Dean bernafas lega, tapi dia mengumpati dirinya sendiri kenapa tidak terpikir untuk meminta bantuan Arzan.


"Terima kasih."


Arzan berdehem singkat. "Tidak gratis, kau harus membayar ku."


"Katakan apa mau mu?"


Arzan tersenyum penuh arti, tapi dia membuat Dean bergidik ngeri. Seperti permintaan nya akan sangat menakutkan.


"......."


"Apa?!"


...***...

__ADS_1


...Up!Up!Up!...


__ADS_2