Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 29


__ADS_3

***


"Zivana!"


Mendengar ada orang yang memanggil nya, Zivana yang baru saja akan masuk kedalam taxi pun menoleh ke belakang. Seorang wanita paruh baya dengan dress warna hitam yang terlihat begitu elegan, berdiri tepat di belakang nya. Sosok yang selama ini ingin dia temui, untuk menumpahkan semua isi hatinya. Rasa terima kasih nya, kata maaf nya dan masih banyak hal yang ingin dia sampaikan.


"Ma____" kata itu yang dulu begitu lancar dia ucapkan, kini menjadi begitu sulit dia lontarkan. 'Mama' kata yang dia ucapkan untuk pertama kali saat belajar berbicara, sebuah kata namun memiliki makna yang tak terhingga.


Kini dia tidak bisa lagi mengucapkan kata itu pada wanita ini, dia kehilangan hak nya karena sebuah kenyataan. Tentu nya kalian tahu betul wanita itu siapa, ya dia Resa.


"Untuk apa kamu datang ke kemari? membuat keributan?" tanya Resa.


Zivana lantas menundukkan pandangannya, jadi Resa juga ada di pesta? Pasti wanita ini juga menyaksikan keributan itu.


"Kamu benar-benar pandai membuat kekacauan. Saya malu terhadap diri saya sendiri, bagaimana mungkin saya yang telah membesarkan anak seperti kamu." Kata Resa penuh dengan kebencian.


Tatapan Resa yang dulu begitu teduh dan hangat, kini menjadi begitu dingin dan di penuhi kebencian. "Cihh! kamu benar-benar mirip ibu mu." Resa berdecih, dan lagi-lagi menyebut almarhumah ibu Zivana.


Zivana mengepalkan tangannya, dia tidak suka mendengar hal buruk tentang ibunya. Dia juga tidak mau menjawab perkataan Resa, dia tidak ingin Resa semakin marah padanya. Mati-matian Zivana menahan dirinya untuk tidak berkata kasar, dia paham kenapa Resa begitu membenci ibu nya.


"Tante saya mohon, jangan terus melibatkan ibu saya di setiap perbincangan kita. Biarkan ibu saya istirahat dengan tenang." Kata Zivana dengan mengganti gaya bicara menjadi formal, dia juga tak lagi memanggil Resa mama.


"Bagaimana bisa, saya membiarkan wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaan saya beristirahat dengan tenang?" jawab Resa.


Berusaha untuk tak hilang kendali, Zivana mencoba untuk tidak mendengarkan perkataan Resa. Bagaimana pun sikap Resa yang sekarang, dia tetap wanita yang memiliki kebaikan hati yang belum tentu di miliki wanita lain. Dia merawat Zivana seperti putrinya, padahal dia adalah putri dari hasil perselingkuhan suaminya.


"Saya minta maaf untuk semuanya, ampuni semua dosa ibu saya kepada tante. Biarkan ibu saya beristirahat tenang." Zivana menyatukan tangan nya, dia memohon maaf kepada Resa.


Resa memalingkan wajahnya, dia tidak suka melihat itu. Hatinya menjadi batu karena luka lama kembali muncul, dulu hati itu yang membuat nya menerima semuanya tapi sekarang hati itu pula yang membuat nya membenci semuanya.


"Aku sangat membenci mu dan ibu mu. Karena kalian aku kehilangan kebahagiaan ku, karena kehadiran kalian aku menderita." Ujar Resa yang mendadak emosi, dia mendorong dorong bahu Zivana sehingga gadis itu terus memundurkan tubuhnya.


"Aku kehilangan anak ku karena kalian! Aku sangat menderita, luka yang ibu mu sebabkan tidak bisa terobati!" Luapan emosi Resa kembali membuncah.


Zivana pasrah saat Resa terus mendorong nya, dia juga tidak menghindar. Dia membiarkan Resa melakukan nya, tak ada juga niatan untuk membalasnya.


"Kau tau? Aku adalah wanita paling menyedihkan. Tau kenapa? Karena aku menerima perselingkuhan suamiku dengan wanita lain, bahkan aku menerima putri hasil perselingkuhan mereka!" Seru Resa yang terus meluapkan kekesalannya.


"Ziva minta maaf, maaf!" hanya itu saja yang bisa dia ucapkan sekarang.


Plakkk!!!


Plakkk!!!


Plakkk!!!

__ADS_1


Tiga tamparan berturut-turut dari Resa, tamparan yang begitu keras. Sudut bibir Zivana bahkan sedikit mengeluarkan darah. Karena marah Resa bahkan mengeluarkan tenaga lebih, dia hendak kembali menampar wajah Zivana tapi niat itu dia urungkan saat melihat gadis itu mengusap darah dari sudut bibirnya.


"Kenapa berhenti? tampar lagi, ayo tampar lagi!" teriak Zivana yang sudah muak dengan semuanya, gadis itu mengusap air matanya.


"Tampar lagi, jika menurut tante itu bisa membalaskan rasa sakit yang tante rasakan selama ini." Ujar Zivana.


Resa menatap gadis di hadapannya, dia iba melihat nya tapi amarah dan luka di masa lalunya menutup semuanya. Dia kembali mengangkat tangan nya, Zivana yang siap menerima tamparan itu memejamkan matanya.


Plakkk!!!


Suara tamparan nya begitu keras, bahkan Zivana sampai meremas bajunya. Tapi, ada yang aneh. Kenapa dia tidak merasakan sakit? Perlahan gadis itu membuka matanya, mulutnya terbuka lebar saat melihat apa yang terjadi.


Resa terlihat memegangi pipinya yang memerah, ada tanda merah bekas tamparan di sana. Yang membuat Zivana semakin tak percaya adalah, saat melihat pelakunya. Dia tidak sedang bermimpi kan?


"Om Dean?" beo nya tak percaya.


Sementara itu sang pelaku yang tak lain adalah Dean, terlihat begitu menggebu. Sangat terlihat jelas betapa murkanya Dean saat ini, nafas pria itu memburu. Entah bagaimana bisa Dean ada di sana.


"Anda kehilangan hak atas Zivana, pada saat anda membiarkan nya pergi dari rumah. Sejak saat itu, baik anda ataupun suami ada bukan lagi orang tua nya. Tidak ada hubungan apapun antara kalian sekarang ini, jadi berpikir lebih baik lagi saat ingin melakukan sesuatu padanya. Karena saya, tidak akan pernah mentolerir semua itu."


Setiap kata yang keluar dari mulut Dean, penuh dengan penekanan. Dia tidak bisa lagi diam, kata-kata yang dia ucapkan tidak main-main. Dia tidak peduli siapa wanita yang kini berdiri di hadapannya, yang jelas dia hanya ingin melindungi gadis nya.


"Ayo!" Dean menarik Zivana yang kini hanya terdiam, dia membawa gadis itu pergi. Masih dengan diam, Zivana mengikuti kemana Dean membawanya. Mereka masuk kedalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana, Arzan membukakan pintu untuk keduanya.


"Ar, jalan!" titah Dean yang di angguki kepala oleh Arzan.


"Om Dean," panggil nya lagi, namun masih sama Dean tak menghiraukan nya.


Dean memilih menyandarkan punggungnya, pria itu juga terlihat memejamkan mata. Wajah nya menampilkan rasa lelah, jika di perhatikan juga seperti nya Dean kurang tidur. Kantung mata nya terlihat jelas, dan juga berwarna kehitam.


"Om capek ya? Ziva pijitin ya?" tangan mungil Zivana terulur untuk memijat lengan Dean. Pria itu membiarkan Zivana dan kegiatan nya, tapi dia juga tidak memberikan respon apapun.


Zivana tak menyerah, dia beralih mengusap pelan wajah Dean. "Om pasti kurang istirahat, kenapa om gak bilang kalau sudah kembali ke Indonesia?"


Dean menghentikan tangan Zivana, dia menghempaskan tangan mungil itu dari wajahnya. Tentu saja Zivana terkejut, apa lagi melihat wajah Dean dengan tatapan nya yang menyeramkan.


"Apa sekarang itu penting?" tanya Dean dengan sinis.


"Maksud om apa? Tentu saja penting, Ziva juga harus tau dong om kapan pulang nya." Sahut Zivana, gadis itu sedikit takut saat matanya menatap mata Dean.


"Siapa yang memberimu hak untuk itu?" tanya Dean terdengar bagai tamparan keras untuk Zivana.


"Om, maksud om apa? Ziva..." Gadis itu sudah mengeluarkan air matanya, dia begitu sakit saat mendengar perkataan semacam itu dari Dean.


Dean mengusap kasar wajahnya, dia benar-benar kacau saat ini. Pikirannya sedang berantakan sekarang ini, tanpa sadar dia malah menyakiti dirinya sendiri dengan membuat gadis nya itu menangis. Perlahan Dean bergerak untuk memeluk Zivana, pria itu masih diam tapi tangannya memeluk erat tubuh mungil Zivana. Dia mengusap-usap punggung Zivana untuk menenangkan nya.

__ADS_1


"Maaf," hanya satu kata itu yang Zivana dengar dari mulut Dean, buru-buru Zivana menggelengkan kepalanya saat mendengar Dean meminta maaf.


"Gak, harusnya Ziva yang minta maaf. Maaf Ziva bohong sama om, Ziva gak cerita." Ujar Zivana menyesal, dia mengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Dean. "Tapi, Ziva bisa jelasin semuanya. Kenapa Ziva gak cerita sama om," lanjutnya.


"Sudahlah tidak perlu menjelaskan apapun. Mungkin itu semua karena salah ku sendiri, aku terlihat tidak menyakinkan sehingga kau tidak percaya padaku. Aku mungkin terlihat payah, atau aku terlihat tidak____"


Telunjuk gadis itu bertengger manis di bibir Dean, perkataan Dean terpotong karena itu. "Jangan ngomong gitu, Ziva gak suka. Om, Ziva bisa jelasin semuanya."


Terlihat Dean yang malah mengalihkan pandangannya, dia juga menyingkirkan telunjuk gadis itu. Entahlah, dia merasa tidak baik-baik saja sekarang ini. Ada banyak hal yang dia pikirkan, dan itu sangat menganggu dirinya.


"Ar, berhenti di depan." Katanya yang langsung membuat Zivana menatap penuh tanda tanya. Arzan mengentikan mobil nya sesuai dengan permintaan Dean.


"Kenapa berhenti om?" tanya Zivana, namun Dean tak menjawab nya.


"Antar dia pulang." Kini Zivana semakin dibuat tercengang, dia menatap Dean yang hendak turun dari mobil.


Apakah dia begitu marah, sampai tidak mau satu mobil dengan nya?


"Om," Zivana mencekal lengan nya, lagi-lagi Dean melepaskan cekalan itu.


"Pulanglah, aku butuh waktu." Kata Dean lalu keluar dari mobil.


Zivana hendak ikut turun juga, namun Arzan menghentikan nya. Arzan tahu, Dean butuh waktu dan tidak baik jika saat ini Zivana memaksa untuk berbicara padanya. Yang ada nantinya, Dean akan mengeluarkan kata-kata atau bahkan perlakuan yang tidak mengenakkan karena emosi.


"Nona, biarkan. Tuan Dean butuh waktu, dia sedang kacau saat ini." Kata Arzan.


"Tapi____"


"Nona, tuan tau semuanya. Dia hanya butuh waktu untuk menerima semua itu." Ujar Arzan yang langsung membuat Zivana diam.


"Tau semuanya? Apa om Dean___" Zivana berpikir hal tidak baik sekarang ini, tapi dia memohon agar semua yang dia pikirkan itu tidak terjadi.


"Tidak Nona, tuan tidak mempermasalahkan tentang orang tua anda. Tuan, hanya merasa bersalah karena pergi disaat anda sedang membutuhkan nya. Dia marah pada dirinya sendiri, karena itu biarkan tuan Dean tenang dulu." Terang Arzan lagi.


Zivana diam tak lagi membantah, tapi rasa bersalah kain menjalar. Dia benar-benar tidak bermaksud merahasiakan semuanya, tapi dia hanya takut Dean akan membencinya. Dia juga berniat menceritakan semuanya saat Dean kembali, tapi ternyata semua diluar dugaan nya.


"Aku hanya takut dia akan membenci ku," lirih Zivana.


...****************...


...Hallo, up nih!...


Om Dean comeback dong😂 tapi om Dean sat set ya, gak pake banyak omong langsung tampar balik😂


Jadi, kalian tim siapa nih? Om Dean apa Bos Gio?🙈🤣

__ADS_1


__ADS_2