Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
S2• Bolehkah?


__ADS_3

***


Arzan sedang duduk di kursi pinggir jalan, dia sedang memesan martabak. Dia berniat untuk mengunjungi rumah Kia, sekaligus menjemput gadis itu. Arzan sudah memutuskan untuk mencarikan Kia tempat tinggal, dia tidak bisa percaya Fardan dengan sepenuhnya. Sebab Fardan di kenal picik, jadi dia pikir akan lebih baik Kia menjauh dari nya.


Gadis itu bisa melanjutkan hidupnya dengan baik setelah jauh dari Fardan, melupakan kejadian kelam nya dan membuka lembaran baru. Kia bisa hidup bersama ibunya, melanjutkan kuliahnya dan bekerja dengan keras untuk hidup yang lebih layak. Arzan tidak bisa meninggalkan Kia begitu saja ke London, dia akan memastikan Kia hidup dengan aman dan baik. Setelah itu, dia akan pergi ke London untuk membawa cinta nya kembali ke tanah air.


"Mas, ini martabaknya." Si tukang penjual martabak itu menyerahkan pesanan Arzan, pria itu mengeluarkan uangnya dan membayar martabak pesanan nya.


"Makasih mas, semoga pacar nya suka. Tapi, saya yakin pacar mas pasti suka sama martabak buatan saya hehe...." Penjual martabak itu terkekeh sendiri.


"Benarkah? Jika tidak suka apakah aku bisa meminta uang ku kembali?" Sahut Arzan.


"Yeh, si mas mah gimana sih? Atuh tidak bisa mas, saya bisa rugi kalau begitu." Penjual martabak itu mengeluarkan logat Sunda nya.


Arzan memutar bola matanya jengah, dia pun bergegas pergi dari sana. Dengan menenteng plastik yang berisikan martabak spesial kesukaan Kia, dia melangkah penuh percaya diri. Entah kenapa, Arzan merasa sangat bersemangat mengingat dia akan pergi menjemput Kia.


"Penguntit cilik, aku datang."


Saat Arzan hendak masuk kedalam mobil, tak sengaja dia melihat seseorang yang melewatinya dengan berjalan pincang. Mungkin orang itu tak melihat nya, tapi Arzan melihat jelas siapa orang itu.


"Kia?"


Kia berjalan dengan pincang, dia menyebrangi jalan dan menunggu sebuah angkutan umum di sebrang jalan sana. Rupanya Kia tak menyadari adanya Arzan di sana, gadis itu habis dari apotek.


"Kia!" panggil Arzan setengah berteriak, pria itu berdiri di pinggir jalan untuk menyebrang menghampiri Kia. Dia juga melambaikan tangan nya pada Kia, terlihat Kia yang nampak membalas lambaian tangan Arzan.


"Uncle!" Kia yang awalnya sedikit kaget mendengar namanya di panggil, mendadak jadi riang saat tahu Arzan yang memanggil nya. Gadis itu tersenyum lebar, sambil melambaikan tangan nya.


Arzan menyebrangi jalan, dia menghampiri gadis itu. "Sedang apa di sini?"

__ADS_1


"Dari apotek, uncle sendiri sedang apa di sini?"


Arzan mengangkat plastik yang dia pegang. "Untuk ini, martabak spesial yang kata penjual nya sangat enak."


Kia tertawa kecil mendengar nya, dia kenal pada penjual martabak itu. Kia adalah langganan setia mang Jajang, ya nama penjual nya mang Jajang.


"Martabak mang Jajang emang enak, aku juga sangat menyukai nya." Kata Kia penuh semangat.


Arzan langsung menyerahkan plastik berisikan martabak itu. "Ini untuk mu, aku tidak tertarik."


Dengan cepat Kia mengambil alih plastik itu, dia sangat menyukai martabak apa lagi martabak mang Jajang. "Untuk apa kau membeli nya jika tidak tertarik?"


"Untuk mu penguntit cilik,"


"Hah? Aku? Seingat ku, aku tidak memintanya." Kia dibuat bingung oleh Arzan, seingatnya dia tidak menyuruh Arzan membeli martabak untuk nya.


"Jangan banyak bertanya, sudahlah ambil saja makanan nya. Ayo, aku antar pulang setelah itu kita akan pergi ke tempat tinggal baru mu." Ujar Arzan.


"Uncle, Kia pusing. Maksudnya apa sih? Bisa di jelaskan!"


"Akan aku jelaskan nanti, ayo sekarang pulang dan berkemas. Ajak juga ibu mu, kalian bisa melanjutkan hidup di tempat lain dengan baik."


Meski bingung tapi Kia menurut, sore itu Arzan mengantarkan nya pulang ke rumah untuk berkemas. Mama Kia juga ikut berkemas, sama halnya dengan Kia meski bingung tapi tetap menurut.


Setelah selesai berkemas keduanya menghampiri Arzan di bawah, ada banyak sekali pertanyaan di kepala mereka namun memilih untuk diam.


"Sudah?" Tanya Arzan yang di jawab anggukan kepala oleh Kia. "Ayo! Kita pergi sekarang."


Arzan mengambil alih koper Kia dan mama nya, pria itu menarik keluar dua koper besar tersebut. Kia dan mama nya masih belum bertanya apa-apa, keduanya hanya mengikuti setiap yang Arzan katakan.

__ADS_1


Setelah memasukkan kedua koper itu ke dalam mobil, Arzan menyuruh Kia dan mama nya untuk masuk. "Masuklah! Akan aku antar kalian ke tempat tinggal baru, kita harus cepat sebenar lagi malam akan tiba."


Kia dan mama nya masuk kedalam mobil, keduanya hanya saling lempar pandangan satu sama lain. Setelah beberapa saat mobil itu melaju, rasanya Kia sudah tidak tahan lagi. Gadis itu memberanikan diri untuk bertanya.


"Uncle, kita akan pergi kemana?" tanya Kia.


"Rumah baru kalian."


"Tapi uncle, aku dan mama tidak membeli rumah baru."


"Aku yang membeli nya."


Apa?! Kia terkejut mendengar nya, setelah mengeluarkan uang untuk investasi di perusahaan papa sekarang dia membelikan tempat tinggal baru untuk ku? Kia menggelengkan kepalanya, ini sepertinya tidak mungkin. Apa dia salah dengar?


"Tidak ada yang salah dengar, aku membelikan tempat tinggal baru untuk kalian. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi aman dan cukup nyaman untuk kalian tempati." Jelas Arzan.


Kia menatap sang mama, hal yang sama pun di lakukan mama Kia. Keduanya terlihat sama-sama terkejut, ini sudah terlalu besar. Bantuan Arzan rasanya sudah terlalu banyak, dan Kia semakin bingung akan membayar nya bagiamana nanti.


"Nak, tidakkah ini terlalu banyak? Kami sudah banyak menerima bantuan dari mu, sampai kami tidak tahu harus membayar nya dengan apa sebab ucapan terima kasih saja tidak cukup." Ujar mama Kia.


"Iya uncle, aku dan mama tidak bisa menerima bantuan sebesar ini." Tambah Kia.


"Ucapan terima kasih sudah lebih dari cukup, aku membantu kalian dengan niat mendapatkan ucapan terima kasih dan doa baik dari kalian." Ujar Arzan.


Sungguh ini terasa tidak nyaman bagi Kia, dia sudah terlalu merepotkan Arzan. Apakah ucapan terima kasih saja cukup? Kia rasa itu tidak akan pernah cukup, tapi untuk apa juga Arzan melakukan hal sebesar ini?


Bolehkah Kia berpikir hal lain, selain karena rasa kasihan? Benarkah jika Kia berharap Arzan melakukan semuanya untuk Kia, bukan karena kasihan tapi benar-benar karena Kia?


...***...

__ADS_1


...Holla! Baru up guys🙏...


__ADS_2