
***
Zivana rasanya seperti mimpi, menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Seakan dia masih tak percaya, Resa mengajak nya masuk. Wanita itu juga terlihat baik padanya, saat seperti ini Zivana berharap waktu berhenti sejenak. Dia ingin menikmati setiap momen nya, sudah lama dia tidak merasakan perasaan ini.
Kembali ke rumah, perlakuan baik Resa dia kembali mendapatkan itu. Zivana tak henti-hentinya mengucapkan syukur, ini benar-benar suatu keajaiban. Sabar yang dia miliki pada akhirnya membuahkan hasil.
"Mama," Zivana masih tak percaya ini, gadis itu memeluk Resa begitu erat.
Resa yang tengah menyajikan makanan tersentak kaget, tapi dia pun mengulas senyum di wajahnya. "Kenapa hmm?"
Zivana melepaskan pelukannya, dia menampilkan wajah menggemaskan nya. "Ziva kangen mama,"
"Mama juga." Resa mengelus lembut puncak kepala Zivana, dia pun sangat merindukan putri kecilnya ini. Tapi ternyata waktu berjalan dengan cepat, Zivana kini sudah menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.
Acara temu kangen antara ibu anak itu berlanjut, mereka makan bersama dengan mengobrol asyik. Sesekali tertawa bersama, bahkan membicarakan beberapa kenangan di saat Zivana kecil dulu. Resa banyak bicara tentang Zivana waktu kecil dulu, tentu saja itu sesekali membuat Zivana merajuk.
Asyik mengobrol dan bercerita tentang masa kecil Zivana, gadis itu hampir lupa cerita mengenai pertunangan nya. Ragu tapi dia harus menceritakan nya, Zivana memberanikan diri untuk mengatakan nya.
"Ma, Ziva mau mengatakan sesuatu. Boleh?"
Resa tersenyum hangat. "Bicara saja, tidak perlu ragu. Sekarang kamu tidak boleh menyembunyikan apapun lagi dari mama."
__ADS_1
Zivana mengangguk, dia pun mulai menceritakan tentang pertunangan nya dengan Dean. Resa mendengarkan semua yang gadis itu cerita kan, tidak ada yang terlewat sedikit pun kali ini Zivana menceritakan semuanya. Pertemuan pertama dengan orang tua Dean, lalu penetapan hari pertunangan dan juga hari pernikahan mereka.
Jujur saja Resa bahagia tapi dia juga merasa sedih, karena dirinya yang terlalu egois kemarin dia melewatkan satu momen bahagia dalam hidup gadis itu. Resa merasa begitu bersalah, pasti Zivana sedih karena tidak ada keluarga nya di sisi dia pada saat itu. Harusnya penentuan hari pertunangan dan juga pernikahan, orang tua Zivana ikut serta tapi ini tidak.
"Mama bahagia untuk kamu, tapi mama merasa bersalah banget sama kamu. Harus nya mama dan papa nemenin kamu, tapi kami bahkan mengusir kamu dari rumah."
Zivana langsung menggelengkan kepalanya, gadis itu tidak mempermasalahkan semua itu. Dia tidak peduli dengan hari kemarin yang membuat nya hidup sendiri, yang terpenting sekarang mereka sudah kembali bersama.
"Jangan bicara seperti itu, Ziva gak mau mama bahas hal itu lagi."
Kembali mereka saling merengkuh, Zivana merasa begitu nyaman dalam pelukan sang mama. Dia begitu merindukan sentuhan itu, dia sangat merindukan kasih sayang sang mama. "Maafin mama ya, mama kemarin egois banget. Bisa-bisanya mama ngusir kamu, dan membiarkan putri mama hidup sendirian di luar sana."
Pemandangan yang sempat hilang beberapa waktu lalu, kini sudah kembali terlihat di rumah besar milik keluarga Zivana. Hendri yang baru kembali dari kantor mematung di tempatnya, menyaksikan pemandangan yang sudah lama dia rindukan. Putri dan istrinya kembali bersama.
Setelah beberapa saat Hendri hanya menyaksikan dalam diam, pria itu pun menghampiri mereka. Hendri berdehem singkat menyadarkan Zivana dan Resa, mereka melepaskan pelukannya. Menatap pada Hendri yang kini juga sedang melakukan hal yang sama.
"Papa," Zivana langsung berdiri dan memeluk erat sang papa, dia juga sangat merindukan cinta pertama nya ini. "Ziva kangen papa."
"Papa juga kangen Ziva," Hendri mengelus puncak kepala putri nya itu, dia mengecup singkat kepala Zivana.
Tadinya Hendri akan menceritakan semua yang dia ketahui tadi siang pada Resa, tapi siapa sangka setelah sampai rumah dia melihat pemandangan itu. Pelukan hangat antara ibu dan anak, hati Hendri yang melihat nya pun ikut menghangat juga.
__ADS_1
"Papa tadinya ingin menceritakan semua yang papa ketahui hari ini. Tapi, siapa sangka semua sudah membaik sebelum papa ceritakan." Mereka berkumpul dan bercengkrama bersama, sudah lama rumah itu tidak di isi dengan suasana hangat keluarga.
"Cerita apa?" Resa baru datang dengan beberapa kue di nampan, dia menyajikan itu di meja.
"Tadi papa ada pertemuan dengan rekan bisnis papa. Lebih tepatnya pertemuan dengan pria yang menjalin hubungan dengan Ziva,"
Hendri menceritakan kembali cerita dari Broto tadi siang, di sini Resa semakin merasa bersalah. Dia begitu keterlaluan waktu itu, sehingga dia tidak mau mendengarkan Zivana. Lihat sekarang, gadis itu benar mereka salah paham. Jujur saja Resa merasa sangat malu, bagaimana bisa dia meragukan putri yang dia rawat.
"Mama malu, mama sangat keterlaluan sama kamu. Lihat sekarang, kamu berkata jujur dan kami yang salah paham." Zivana kembali memeluk mama nya, dia tidak ingin membahas itu. Semua sudah berlalu, Zivana pun sudah melewati masa itu.
"Ini kali terakhir kita bahas soal ini, Ziva gak mau denger lagi mama atau papa bahas hal ini." Seakan tak mau di bantah lagi, Zivana mengatakan itu dengan jelas dan tegas.
Keluarga mereka sudah kembali bersama, kemarin itu hanyalah angin lalu saja. Mungkin menyebabkan adanya jarak di antara mereka, tapi sekarang semua sudah berhasil di lewati. Tidak ada hal lain lagi yang perlu di sesali.
"Biarkan itu berlalu, ayo melangkah maju untuk menyambut kebahagiaan lain nya yang akan datang." Kata Hendri yang juga ikut memeluk kedua perempuan paling berharga dalam hidup nya.
Ibarat jantung dan hati, kedua perempuan itu adalah hidup nya Hendri. Resa adalah hatinya, dan Zivana adalah jantung nya. Dia tidak bisa hidup jika keduanya tidak ada, atau salah satu dari mereka tidak ada.
...***...
...Hai!! Up!!!...
__ADS_1