
***
Kia baru saja sampai di rumah nya, dia melihat keadaan rumah yang sepi. Bahkan tidak ada asisten rumah tangga yang biasa bekerja, kemana orang-orang pikir Kia. Gadis itu menaiki anak tangga, dia pergi menuju kamar nya. Tiba-tiba saja Kia di kejutkan dengan suara teriakan, sontak saja Kia langsung berlari menuju kamar orang tua nya dimana sumber suara itu berasal.
Pemandangan pertama yang dia lihat cukup membuat nya terguncang, gadis itu mematung di tempatnya tatkala melihat sang ibunda sedang bersimpuh di lantai dengan beberapa luka lebam.
"Mama!" seru Kia.
Fardan ayah Kia, dan Gina ibu Kia menatap pada gadis itu. Gina menahan kaki Fardan saat pria itu hendak menghampiri Kia.
"Jangan sentuh putri ku." Gina menyuruh Kia untuk lari, wanita itu menahan kuat-kuat kaki Fardan.
"Lepaskan sialan!" Fardan berusaha melepaskan tangan Gina, karena tak mau melepaskan tangan nya Gina akhirnya mendapatkan sebuah pecutan dari ikat pinggang yang Fardan pegang.
"Aaakkk!!"
"Mama!!"
Kia ingin berlari dan memeluk ibunya itu, namun dia tidak bisa melakukan itu. Fardan seperti monster, dia bukan manusia. Dia menyiksa istri nya sendiri, bahkan dia ingin mengorbankan masa depan putri nya sendiri untuk menutupi hutang perusahaan nya.
"Berhenti! Jika kau ingin mama mu ini aku lepaskan, turuti semua perintah ku." Kata Fardan.
"Tidak, jangan dengarkan dia Kia. Pergi lah, mama baik-baik saja."
Baik-baik saja apanya? Jelas-jelas dia terluka akibat ulah Fardan, Kia tidak bisa membiarkan itu. Dia harus menolong mama nya dulu, dia juga harus memberikan Fardan pelajaran. Dia sudah berubah menjadi monster, dia bukan lah manusia.
"Hey, anak tidak berguna. Kau mau mama mu ini mati hah?" Fardan menarik rambut Gian dengan kuat, wanita itu merintih kesakitan rambut nya di tarik sekuat itu oleh Fardan.
__ADS_1
"Aaaakkk!!!! Lari Kia, lari!"
"Diam!!"
"Lari Kia!!!"
Kia tak tahan lagi, gadis itu berlari dan mendorong Fardan dengan kuat. "Fardan, lepaskan!!"
Fardan? Kia memanggil nya tanpa embel-embel papa, gadis itu memanggil pria itu dengan namanya.
"Sialan!" Fardan langsung bangkit, dia menarik rambut Kia. "Kemari kau, akan aku beri pelajaran untuk ku."
"Aaakkk!! lepaskan sialan!" Kia menahan sakit yang luar biasa, gadis itu mencoba melepaskan tangan Fardan dari rambutnya.
Sementara itu Gina sudah memohon bersimpuh di kaki Fardan, dia memohon untuk Kia. Siksa saja dirinya, asalkan jangan Kia. "Lepaskan Fardan, dia anak mu. Apa kau lupa itu? Setidaknya kau masih memiliki hati nurani sebagai seorang ayah, ku mohon lepaskan dia."
"Aaakkk! Fardan sialan! Dasar kau monster, kau bukan manusia!" Sempat-sempatnya Kia memaki Fardan, padahal dia sedang di ambang akhir dari hidup nya. Menurut Kia mati pun tidak masalah, dia lebih memilih tiada dibandingkan menuruti perintah Fardan.
Fardan semakin murka, dia menghempaskan Kia sampai membentur tembok. Tubuh mungil Kia rasanya remuk semua, tidak hanya sampai di situ Fardan pun menggunakan ikat pinggang nya untuk memberikan cambukan.
"Aaakkk!!!
"Kia!!" Gina kembali memohon, wanita itu menahan kaki Fardan. Dia tidak bisa membiarkan itu, Kia tidak boleh terluka.
"Fardan, lepaskan Kia ampuni dia." Sekali lagi permohonan Gina tidak di indahkan, bahkan Gina mendapatkan tendangan keras dari Fardan karena menghalangi nya.
Tidak, Fardan tidak akan berhenti. Pria itu menyeret Kia menuju kamar mandi, setelah memberikan cambukan sampai mengisahkan warna merah di tubuh gadis itu Fardan sengaja menyiramkan air dingin. Karena ada beberapa bagian yang tergores, tentu saja pada saat air mengenai luka nya akan terasa perih. Kia memejamkan matanya, ini sakit tuhan tapi jauh lebih sakit lagi saat sadar siapa yang memberikan luka itu. Bukan hanya tubuh nya yang sakit, tapi hatinya juga.
__ADS_1
"Kau masih mau membantah ku?" Fardan menyalakan air panas, dia menyiramkan air itu pada kaki Kia.
"Aaakkkk!!! Panas, aawwss!!" Kia meniup-niup kaki nya, Fardan benar-benar monster kejam.
"Fardan, berhenti! Tolong sudahi semuanya, dia putri mu. Kau mau membunuh darah daging mu sendiri?" Gina memeluk tubuh Kia, dia melihat luka Kia yang cukup parah di tambah kakinya yang di siram air panas.
Fardan meletakkan kembali sower nya, dia meninggalkan Kia dan Gina di sana. Hari ini itu cukup untuk memberikan Kia peringatan, lain kali Fardan akan memberikan yang lebih dari itu agar mereka tahu mereka tidak bisa membantah dirinya.
"Ini peringatan dari ku." Tegas Fardan.
"Restauran Ivender, meja nomor 9 pukul 3 sore. Seseorang ingin bertemu dengan mu, dia investor besar untuk perusahaan." Perkataan Kia berhasil menghentikan langkah Fardan, dia berbalik pada Kia.
"Pria tua mana yang kau goda? Apakah dia lebih kaya dari rekan ku?" Tanya Fardan.
"Temu saja dan kau akan tau sendiri, dia akan melakukan negosiasi dengan mu." Ujar Kia.
Fardan tersenyum culas, dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Baiklah, dia akan menemui investor besar yang di dapatkan Kia. "Baiklah, kita lihat seberapa kaya dia."
Helaan nafas panjang terdengar dari Kia, setelah Fardan pergi Kia baru bisa bernafas dengan sedikit lega. Dia di bantu Gina untuk keluar kamar mandi, setelah itu Gina langsung mengobati lukanya.
"Siapa investor itu?" Gina sangat penasaran siapa investor yang di dapatkan Kia, juga dengan keberadaan Kia beberapa hari lalu.
"Nanti akan aku kenalkan, untuk sekarang yang terpenting adalah terbebas dari monster kejam itu dulu." Sahut Kia.
...***...
...Up!Up!Up!...
__ADS_1