
***
Hari yang cerah awal yang baik juga, hari ini Zivana sudah mulai bekerja. Hidup baru Zivana di mulai, dia menata hidup nya untuk lebih baik lagi kedepannya. Soal orang tuanya, Zivana tak sempat berpamitan. Kedua orang tuanya pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan, Zivana sudah menitipkan pesan pada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah nya.
Untuk masalah kuliah nya, Zivana belum tahu akan melanjutkan nya atau tidak. Gaji di caffe itu tidak terlalu besar, jika dia kuliah maka dia harus bekerja dengan penghasilan lebih besar dari itu. Tempat tinggal, makan dan kebutuhan lainnya Zivana tidak tahu apakah gajinya akan cukup untuk itu semua. Apa lagi selama ini Zivana hidup enak, apapun yang dia mau dia selalu mendapatkan nya.
"Pagi, San. Pagi mbak," sapa Zivana saat masuk ke caffe. Di sana sudah ada Sandra dan mbak Diyah salah satu karyawan caffe, mereka sedang bersiap-siap untuk membuka caffe hari ini.
"Pagi Ziva," balas Sandra yang sedang merapihkan meja dan kursi caffe.
"Pagi." Balas mbak Diyah.
Zivana masih belum tahu apa yang akan dia kerjakan di sini, ini hari pertamanya. "Emmm, mbak aku bantuin ya." Zivana membantu mbak Diyah merapihkan meja kasir.
"Oh iya, Ziva kamu jadi kasir di sini. Berdua sama Sandra," kata mbak Diyah memberi tahu pekerjaan Zivana di sana.
Gadis itu mengangguk mengerti, menjadi seorang kasir tidak terlalu sulit pikir Zivana. Apa lagi, dia berdua dengan Sandra. "Iya mbak,"
Caffe sudah di buka, selang beberapa menit sudah mulai ada pengunjung bertandatangan. Ini caffe sudah berdiri cukup lama di sini, hanya saja setiap tahun akan ada perubahan pada caffe nya. Caffe akan di ubah mengikuti perkembangan zaman.
"Kak, Americano satu." Ucap salah seorang pengunjung.
"Baik tunggu sebentar. Duduk di meja nomor berapa?" sahut Zivana.
"Saya di meja nomor 7 Kak, nanti antarkan saja kesana ya." Jawabnya.
__ADS_1
Zivana mengangguk mengerti, gadis itu bekerja cukup baik di hari pertama nya. Membuat kesalahan itu hal wajar, apa lagi di hari pertama. Gadis yang baru lulus SMA itu sekarang dia tahu, betapa sulit nya mencari uang dan bertahan hidup dengan mengandalkan gaji dari hasil keringat sendiri.
Untuk hari pertamanya bekerja Zivana masih membuat sedikit kesalahan, tapi dia bekerja cukup baik. Setelah pekerjaan nya selesai, Zivana langsung pulang. Gadis itu pulang berjalan kaki karena jarak caffe dan kontrakan nya tak terlalu jauh. Zivana melihat ponselnya yang berdering, ternyata itu panggilan masuk dari Dean.
"Halo!"
"Apa aku mengganggu mu?" tanya Dean.
"Tidak, tentu saja tidak. Mana mungkin om mengganggu, orang telpon dari om selalu Ziva tunggu." Sahut Zivana yang berhasil mengundang tawa Dean.
"Serius? Ah, tau begitu setiap detik aku akan menelpon mu." Ujar Dean bercanda.
Zivana tertawa kecil, gadis itu terus berjalan sambil mengobrol dengan Dean di telepon. "Kapan om kembali ke Indonesia? Apa kerjaan om di sana banyak banget ya?"
"Hey, ada apa ini? aku baru kemarin berangkat, dan kau sudah menanyakan kapan aku kembali." Kata Dean sambil terkekeh.
Dean tertawa renyah kali ini, gadis ini benar-benar mood bagi Dean. Baru di tinggal kemarin tapi sudah begitu merindukan nya, bohong jika Dean tak memikirkan gadis itu saat akan pergi ke London. Bahkan sebelum dia pergi ke London, Dean sempat berpikir untuk tidak pergi karena tidak mau berjauhan dari Zivana. Entah, tapi rasanya Dean seperti tak tenang saat akan meninggalkan gadis nya itu. Tapi, karena urusan nya begitu mendesak akhirnya Dean pergi.
"Aku jauh lebih merindukan mu," ucap Dean yang mampu membuat Zivana salah tingkah sendiri.
"Aaaaa, om Dean! Ziva tuh gak kuat kalau udah di gombalin om Dean, rasanya tuh kaya Ziva mau terbang tinggi banget. Banget! banget! banget!" heboh Zivana.
Gadis itu terlihat melompat-lompat saking senangnya, dia tidak perduli bahwa dia sekarang sedang di pinggir jalan. Zivana untuk sesaat melupakan masalahnya, berbicara dengan Dean benar-benar obat terbaik baginya.
Dean tertawa puas, pria itu kini tengah beristirahat setelah mengerjakan beberapa pekerjaan nya di sana. Dia di London bersama Arzan, tentunya tanpa Arzan dia akan kerepotan mengurus urusan di sana.
__ADS_1
"Kau tau Ziva, aku sempat berpikir bagaimana jika saat ini kau ada di sini bersama ku? Pasti pekerjaan ku disini akan terasa ringan, tapi itu tidak mungkin." Tutur Dean terdengar begitu berharap.
Sebelumnya Dean pikir dia akan ke London setelah bersama Zivana, dia berniat pergi satu sampai dua tahun lagi. Tadinya Dean kesana berniat untuk mengembangkan bisnisnya, tapi bulan lalu dia mendapat kabar bahwa ada pengusaha yang ingin bekerja sama dengan dengannya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Dean memutuskan untuk pergi ke sana langsung. Sebenarnya London bukan tempat baru, dulu dia kuliah di sana. Nenek Dean dulu menetap di sana, tapi sekarang hanya tinggal bibi nya dan dua sepupu Dean.
"Om, Ziva beli tiket pesawat sekarang ya? Ziva susul om, denger om ngomong kaya gitu rasanya Ziva pengen nyamperin." Kata Zivana yang sudah sangat dibuat salah tingkah. Gadis cantik itu sudah sampai di kontrakan nya, dia duduk di depan teras.
Jarak ternyata membuat kedua begitu saling merindukan satu sama lain, saat ini mereka seperti pasangan muda yang tengah di mabuk asmara. Bahkan lelah Zivana di hari pertama bekerja tak terasa, seakan hilang begitu saja.
"Lupakan soal menyusul ku ke London. Sekarang katakan, kau mendaftar di universitas mana?" tanya Dean yang baru teringat tentang itu.
Zivana terdiam sebentar, haruskah dia mengatakan keadaan nya sekarang?
"Hmmm, belum daftar om. Ziva masih bingung." Jawab Zivana.
"Apa mau aku beri beberapa rekomendasi universitas bagus? Aku bisa membantu mu masuk di universitas yang aku rekomendasikan." Ujar Dean.
Zivana kembali diam beberapa saat, dia tidak bisa mengatakan semuanya sekarang. Zivana takut setelah tahu kebenaran tentang ibunya, Dean akan menjauhinya. Selama ini yang Dean tahu orang tua nya salah satu rekan bisnis nya, tapi apakah Dean akan terima saat tahu jika Zivana itu anak tidak sah. Apakah Dean akan mempertaruhkan nama baiknya sendiri demi dia?
"Tidak perlu, om. Ziva akan memikirkan nya nanti saja," balas Zivana.
"Baiklah. Aku tutup telponnya, jaga dirimu baik-baik. Dah, aku mencintaimu gadis nakal." Kata Dean lalu menutup telponnya.
Dengar apa yang dia katakan? ini sangat langka, pria itu mengatakan 'aku mencintaimu' ini benar-benar langka. Pria itu sekarang mulai terbuka, dia berani mengatakan apa yang dia rasakan.
"Apa setelah tau yang sebenarnya, aku tidak akan lagi mendengar kalimat itu darinya?"
__ADS_1
...***...
...Hallo, up nih!...