Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Epilog


__ADS_3

***


Tepat pukul 02 dini hari Zivana merasakan sesuatu di perut nya, dia mengalami kontraksi. Tentunya semua orang langsung membawa Zivana ke rumah sakit, di sini yang paling merasa ketakutan itu Dean. Entah kenapa dia merasa tidak tega melihat Zivana sekarang, apa lagi pikiran-pikiran buruk muncul di kepalanya.


Usia Zivana yang bahkan belum menginjak 20 tahun, Dean takut sesuatu terjadi saat proses persalinan yang di akibatkan usia Zivana yang masih muda. Tapi, di luar sana juga sebenarnya banyak ibu muda seusia Zivana yang bisa melahirkan normal tanpa kendala. Dean sudah pernah menyarankan agar Zivana tidak melahirkan secara normal, namun Zivana menolaknya. Zivana merasa dirinya mampu, dan dia yakin dia akan baik-baik saja. Sangat berbeda jauh dengan pemikiran Dean, pria itu sangat takut jika membahas proses persalinan normal.


Untung nya di saat seperti ini seluruh keluarga hadir, Dean yang seperti orang linglung karena cemas itu tidak bisa melakukan banyak kalau tidak ada orang tua mereka yang mengarahkan. Lihat saja sekarang, Hendri yang menyetir mobil menuju rumah sakit.


"Mah, Zivana akan baik-baik saja kan? Tidak akan terjadi hal buruk padanya bukan?" Entah sudah berapa kali Dean mengajukan pertanyaan yang sama.


"Bisakah kau diam sebentar? Zivana akan merasa khawatir mendengar pertanyaan seperti itu." Kesal mama Dean, harusnya Dean menenangkan Zivana memberi nya semangat.


Dean menurut dia diam tak bertanya lagi, sementara itu Zivana berusaha keras menahan sakit. Dia menggenggam erat tangan Dean, saat rasa sakit nya kian terasa Zivana meremas tangan Dean itu semakin membuat Dean tak karuan.


"Mas, sakit!"


Dean ngilu sendiri mendengar nya, dia mengelus-elus perut Zivana. "Sayang, sabar sebentar ya. Kita akan segera bertemu, daddy mohon jangan buat mommy kesusahan. Cepat keluar saat kita sampai di rumah sakit nanti."


Zivana menggigit bibir bawahnya, dia menahan sakit yang kian menjalar. Untung nya mereka sudah sampai di rumah sakit, dengan cepat Dean mengangkat tubuh Zivana memindahkan nya pada bankar rumah sakit. Zivana langsung di arahkan keruang persalinan, dokter Cicilia sudah menyiapkan semua nya sebab Dean ternyata menelepon nya untuk memberitahu bahwa Zivana mengalami kontraksi dan menuju rumah sakit.


"Dok, istri saya akan baik-baik saja kan?"


"Mohon bersabar tuan, istri anda pasti baik-baik saja. Silahkan ikut masuk, mungkin istri anda akan merasa lebih baik saat suami nya menemani proses persalinan nya." Dokter Cicilia masuk lebih dulu, di ikuti Dean dengan perasaan campur aduk nya.


Dean memberanikan diri untuk mendampingi Zivana, sesungguhnya tubuh Dean sudah melemas melihat Zivana mengeluarkan darah. Dean berada di samping Zivana, dia menggenggam erat tangan mungil Zivana.


"Sayang, kamu pasti bisa." Bisiknya.


Zivana yang sudah berkeringat itu hanya menganggukkan kepalanya, dia mulai menarik nafasnya sesuai instruksi dokter.


"Nona, lakukan seperti yang sudah kita pelajari. Tarik nafas, dan hembuskan. Pelan-pelan saja, aku yakin anda bisa melakukan nya." Dokter Cicilia mengingatkan Zivana pelatihan yang sering dia berikan saat Zivana cek kandungan, dia juga sengaja mengajak Zivana untuk berbicara agar lebih tenang.


Zivana mengingat nya dengan baik, tapi entah kenapa sekarang dia susah melakukan nya. Dia terlalu gugup saat ini. "Huuuufffhhh!!! Dok, saya tidak kuat."


"Tenang, pelan-pelan saja. Anda melakukan nya dengan baik saat pelatihan, coba untuk melakukan itu sekarang. Tenangkan diri anda, kita ulangi sekali lagi."


Zivana mencoba nya lagi, dia meremas tangan Dean lebih erat lagi. Dapat Dean rasakan kuku-kuku Zivana menancap di kulit nya, bahkan dia mengeluarkan sedikit darah karena kuku tajam Zivana. Dean berpikir pasti yang Zivana rasakan sekarang jauh lebih menyakitkan.

__ADS_1


"Ayo, sayang kamu pasti bisa. Ini hanya sesaat, setelah itu kita akan bertemu malaikat kecil kita." Dean berusaha memberikan semangat, dia memberikan kecupan-kecupan di wajah Zivana. "Semangat!"


Mendengar kata malaikat kecil, membuat Zivana lebih semangat lagi. Benar, dia sebentar lagi akan bertemu malaikat kecil nya, mereka akan berkumpul bersama saat Zivana berhasil melewati ini. Semangat Zivana kembali membara, dia mulai melakukannya dengan baik.


"Aaaaaaaaa!!!!!"


"Bagus, ayo lakukan lagi."


"Ayo, sayang kamu pasti bisa."


"Huhhhh!!!!" Zivana mengatur nafasnya, dia mengambil ancang-ancang untuk kembali mengejan sesuai instruksi dokter Cicilia.


"Aaaaaaaaaaaaakkkkkk!!!!


"Oooeeeekkkkkk!!!"


Dalam satu tarikan terakhir Zivana berhasil melakukan nya, suara tangisan bayi menggema di seisi ruangan persalinan. Suasa haru langsung menyelimuti mereka, Dean tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur nya. Tak terhitung banyaknya kecupan hangat dia layangkan untuk Zivana, tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih pada Zivana.


Gadis kecil itu kini sudah menjadi ibu, dia menjadi wanita hebat dan mampu berjuang untuk malaikat kecil mereka. "Terima kasih sayang, terima kasih banyak!"


Tak terasa keduanya menangis bahagian sekaligus terharu, seakan semuanya ini adalah mimpi Zivana masih tak percaya ini nyata. Dia mampu melakukan nya, rasa lelah nya terbayarkan sudah saat mendengar suara tangisan bayi menggema di seisi ruangan.


"Iya sayang, kamu berhasil. Itu malaikat kecil kita."


Kulitnya yang putih bersih dengan mata yang masih terpejam, tangan dan kakinya yang mungil bayi laki-laki itu menangis begitu keras. Dia malaikat kecil nya Zivana dan Dean, cinta kasih keduanya. Dokter Cicilia mengerti dalam agama yang keduanya anut, bayi kecil yang baru lahir itu harus di adzani sang ayah. Sebelum di bawa keruang bayi, Dean di persilahkan untuk mengadzani bayi kecil itu.


Setelah itu mereka membawanya keruang bayi, dan melakukan beberapa hal untuk kondisi Zivana. Selanjutnya Zivana akan di pindahkan ke kamar indap, dia akan di perbolehkan pulang setelah kondisi nya memungkinkan.


"Wah, wah!! Cucu kita mbak." Mama Dean mengambil alih bayi kecil itu dari perawat, mereka sudah berkumpul di ruang rawat.


"Gantengnya." Resa menyentuh-nyentuh hidung mancung bayi itu. "Mirip Ziva waktu bayi, hidungnya mancung gini."


Kedua wanita itu asik memuji ketampanan cucu mereka, sampai lupa bahwa sang ibu bayi itu belum menyentuh nya sama sekali.


"Mama, Ziva juga mau gendong."


"Ehh, iya. Maaf mama lupa, saking senengnya." Kata Resa lalu menuntut Zivana untuk menggendong bayi kecil itu.

__ADS_1


Kedua kakek baru itu muncul dengan beberapa peralatan bayi, mereka juga berebut untuk melihat baby boy lebih dulu. Hendri menyarankan nama untuk bayi laki-laki itu, tapi papa Dean pun menyarankan nama juga. Alhasil keduanya malah ribut ingin memberikan nama untuk cucunya itu.


"Mahardika Putra Harrison," nama yang suda di rangkai Hendri untuk cucu pertamanya.


"Apa? Lalu kita akan memanggil nya Mahar? Tidak, tidak! itu terdengar tidak bagus." Papa Dean menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Kita akan memanggil nya Putra," kata Hendri.


"Hey, semua orang juga tau dia seorang Putra bukan Putri. Nama itu sangat tidak bagus!" Tegas papa Dean, dia kemudian mengusulkan nama yang sudah dia siapkan.


"Bagaimana kalau, Abrisam Reinaldo Harrison?" usul papa Dean.


Nama itu terdengar indah dan juga memiliki arti yang bagus. Abrisam yang berarti tampan dan lembut, Reinaldo yang berarti pemimpin yang bijaksana. Yang bisa juga di artikan sebagai, anak laki-laki yang tampan dan lembut seorang pemimpin yang bijaksana dan Harrison adalah nama dari keluarga mereka.


"Bagus, bagiamana mas? Kamu setuju?" Zivana sangat menyukai nama itu.


"Tidak, aku punya nama lain." Kata Dean yang langsung membuat papa nya protes sebab nama yang dia sarankan di tolak.


"Hey, kau tuan Dean. Nama seperti apa yang akan kau berikan? Nama mu saja aku yang berikan saat kau bayi." Kata papa Dean.


"Itulah yang aku sesali, kenapa dulu aku tidak menulis nama untuk diriku sendiri? Mungkin sekarang aku jauh lebih keren dengan nama yang aku rangkai sendiri."


Semuanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan mereka, Dean dan papa nya ada-ada saja.


"Alister Daniyal Harrison. Alister berasal dari kata Yunani yang artinya penjaga dan penolong sementara Daniyal islami yang artinya pintar cerdas dan Harrison itu nama dari keluarga kita." Dean menjelaskan nama yang dia rangkai.


"Alister Daniyal Harrison," Zivana menatap putra kecilnya, nama itu cocok untuk nya.


Semua mengangguk setuju, bayi laki-laki itu di beri nama 'Alister Daniyal Harrison' lagi pula tidak ada yang bisa menolak sebab itu nama dari Dean.


"Hai, baby Al. Selamat datang di dunia, dan semoga jadi putra kebanggaan kami semua."


...***...


...Hallo!...


Gak kerasa ya udh di akhir aja, makasih yang sudah setia membaca cerita dari aku author amatiran ini🥳 Makasih untuk dukungan kalian, dan mari kita ucapkan selamat datang untuk baby Al✨✨

__ADS_1


...Welcome to the world baby Al🥳✨...


Harapan kalian untuk baby Al, sebelum lanjut ke season 2??


__ADS_2