
***
"Kenapa? Kamu malu?"
"Iya."
Zivana tersenyum hambar, dia pikir untuk apa dia menjelaskan semuanya. Dia tahu meski di sembunyikan yang namanya kenyataan tidak akan berubah, tapi setidaknya dia tidak terlalu merasa malu di hadapan Kia. Kalian tahu, bagaimana perasaan Zivana saat harus bertemu orang yang tahu dia siapa, Zivana selalu merasa malu. Dia sering merasa tidak percaya diri untuk berinteraksi, dia merasa dirinya seperti noda yang kotor.
"Kia kita sangat berbeda sekarang, aku tidak ingin merepotkan mu dengan permasalahan yang aku punya."
Kia menggelengkan kepalanya, dia maju untuk menyentuh pundak Zivana. "Kita sahabat, tidak ada kata di repotkan ataupun merepotkan."
"Aku mali Ki, aku malu. Kamu tau? Bahkan aku tidak bisa pulang ke rumah. Tidak ada yang mau menerima ku lagi."
"Ada aku Ziva. Kenapa kamu berpikir aku akan menjauhi mu saat tahu semuanya?" Kia benar-benar tidak habis pikir, Zivana bisa berpikiran pendek seperti itu.
Kia tahu tentang Zivana dan Dean, bukan kah saat sekolah dulu Zivana sering bolos dan yang tahu alasan nya hanya Kia. Lalu kenapa masalah ini Zivana merahasiakan dari Kia?
"Aku malu Ki, malu!" Zivana menundukkan kepalanya, dia meremas baju yang dia kenakan.
Kia menghela nafasnya, alasan nya selalu itu. Padahal jika di pikir-pikir, tidak ada anak yang bisa memilih keadaan orang tua yang melahirkan mereka. Semua sudah menjadi rahasia Tuhan. Ketika Zivana yang harus lahir di keadaan hubungan orang tuanya yang sangat rumit, tidak pantas rasanya Zivana di benci. Dia tidak salah apapun, justru jika dia di benci akan terasa tidak adil.
...***...
Zivana melangkah gontai menelusuri jalanan gang menjual kontrak nya, hari ini sangat melelahkan apa lagi pertemuan nya dengan Kia. Dia tidak bekerja lagi, caffe milik Gio di tutup. Sandra sudah pulang ke Bandung, dan Gio sudah mulai bekerja di kantor papa nya. Untuk kuliah nya, mungkin Zivana tidak akan melanjutkan nya lagi. Tapi, Dean mengatakan Zivana harus melanjutkan kuliah setelah mereka menikah nanti. Entahlah, Zivana rasa dia sudah malas untuk belajar.
"Om Dean?" Zivana menatap sosok yang kini berdiri di depan pintu kontrakan nya, pria dengan stelan jas lengkap nya itu berdiri menunggu Zivana pulang.
Buru-buru Zivana mempercepat langkahnya, gadis itu menghampiri Dean yang sedang menunggu nya itu. "Om, ngapain di sini?"
Dean mengangkat dua paper bag di tangan nya. "Makanan."
__ADS_1
Zivana menggelengkan kepalanya, dia juga bisa mengurus dirinya. Dean tidak perlu sampai mengantar makanan untuk nya. "Ziva bisa nyari makan sendiri, om. Tapi, makasih loh."
"Siapa yang bilang ini buat kamu?" Dean menaikan sebelah alisnya. "Ini buat saya, saya belum makan."
Lantas kedua alis Zivana menyatu heran, apa yang di pikiran Dean? Zivana pikir itu untuk nya, sangat tidak masuk akal untuk makan Dean tapi di bawa ke tempat Zivana. Apa lagi pria itu menunggu Zivana pulang, pantas saja Zivana berpikir itu untuk nya.
"Kalau om belum makan, kenapa di bawa ke sini? Makan gih sana!" Zivana membuka kunci pintu kontrakan nya, gadis itu hendak masuk namun Dean menahannya. Pria itu menghalangi jalan menggunakan kakinya.
"Suapin." Suara Dean hampir tak terdengar, Zivana bahkan meminta pria itu untuk mengatakan ulang.
"Suapin Ziva!"
Mata Zivana membola sempurna, apakah dia tidak salah dengar? Sepertinya, Dean sedikit tidak baik-baik saja. Entah kenapa belakangan ini Dean lebih manja, pria itu sering merengek kepadanya. Lihatlah sekarang saja, dia rela menunggu Zivana untuk makan dengan di suapi gadis itu.
"Om, om sakit ya? Ayo kedokteran om, Ziva anterin." Zivana menyentuh dahi, pipi dan leher pria itu untuk mengecek suhu tubuh.
Ini seperti bukan Dean, lebih terlihat seperti anak kecil. Masalah makan saja harus di buat ribet, harus pake acara suap-suapan segala.
"Aku baik-baik saja, tapi aku kelaparan. Ayo cepat, suapi aku." Dean menarik Zivana masuk kedalam kontrak gadis itu, Dean meletakkan paper bag nya di lantai.
"Aku lapar." Kembali Dean terdengar seperti merengek, Zivana sangat jengah melihat nya.
"Lapar, tinggal makan apa susahnya?!"
Dean menatap Zivana dengan datar, pria itu merapihkan kembali makan nya. Sadar akan sikap Dean yang malah merajuk, Zivana pun langsung mengambil alih makanan nya.
"Aaaaak!!!" Zivana mengangkat satu sendok penuh, Dean masih diam belum membuka mulutnya.
"Aaaaak!!!" instruksi Zivana namun Dean masih tetap diam.
Zivana meletakkan kembali makanan nya, dia melihat Dean yang sedang merajuk itu. Rasanya Zivana ingin tertawa melihat Dean yang merajuk padanya, benar-benar lucu. Dia terlihat seperti bocah TK.
__ADS_1
"Ututu...!!! Bayi besar nya Ziva, kenapa hmm? Ngambek ya?" layaknya membujuk anak kecil, Zivana mengelus-elus rambut Dean. "Jangan ngambek dong, nanti Ziva sedih. Mau di suapin kan?"
Ajaib nya Dean mengangguk-angguk kan kepalanya. "Iya, mau di suapin."
"Sini, sini! Ziva suapin."
Dean menurut lagi, saat Zivana kembali mengangkat satu sendok yang berisikan makanan itu Dean mengikuti instruksi Zivana membuka mulutnya. Hap!! satu sendok penuh masuk kedalam mulut Dean, Zivana tertawa melihat nya.
"Bagus! Aaaakk lagi nih!" Dean kembali memakan nya, sungguh jika melihat Dean yang seperti ini rasanya Zivana seperti tak percaya itu Dean.
Ini benar-benar seperti bukan Dean, dia berubah jadi anak kecil. Tapi, Zivana sangat senang Dean manja seperti ini padanya.
"Mau di suapin juga?" tanya Dean, gadis itu mengangkat satu alisnya.
"Boleh?"
"Boleh dong, sini aku siapin." Dean mengambil alih makanan dari tangan Zivana. "Aaaak!!" Dean memberikan instruksi nya.
Zivana pun membuka mulutnya lebar-lebar, dia siap melahap satu sendok penuh yang ada di tangan Dean itu.
Hap!!
Makanan itu masuk kedalam mulut Dean, bukan Zivana. Padahal Zivana sudah siap menunggu makanan itu mendarat di mulut nya, tapi ternyata Dean mengerjainya. Zivana cukup kesal, tapi Dean malah asyik mengunyah.
Mulut Zivana siap mengomeli Dean, tapi belum sempet gadis itu mengeluarkan omelan nya Dean lebih dulu menutup mulutnya. Dean menyatukan bibir mereka, cukup kaget Zivana bahkan memukul bahu pria itu. Mulut Zivana terbuka karena lidah Dean terus memaksa masuk, setelah itu Dean mengeskpor semua makanan nya kedalam mulut Zivana.
"Telen." Titah Dean dan Zivana pun menelan nya. Rasanya aneh, tapi membuat ketagihan.
...***...
...Hallo!! Nih bonus ya, bonus!!!...
__ADS_1
Ayo ramein lagi, biar up nya juga cepet!!!
spam komen!!!😂