
***
Kia menatap takjub rumah minimalis itu, dia juga menelisik setiap sudut rumah. Rumah nya begitu nyaman, ini jauh lebih dari kata layak. Jika di lihat-lihat pasti harganya juga lumayan, dan Arzan memberikan rumah ini dengan percuma. Apakah pria itu sudah menjadi sultan? Kia kadang merasa Arzan itu bukan bekerja sebagai orang kepercayaan pengusaha besar, tapi Arzan lah pengusaha besar itu.
Antara bersyukur dan tak enak hati, menerima bantuan sebesar ini dari Arzan sangat membingungkan. Dia berjanji untuk hidup lebih baik lagi, dan bekerja lebih keras lagi untuk bisa mengganti semua uang yang Arzan keluarkan untuk nya.
"Apa yang kau lakukan?" Arzan menghampiri Kia, pria itu berjalan dengan santai dengan satu tangan masuk kedalam saku celana.
"Uncle," Kia mengembangkan senyum nya, dia menatap Arzan dengan tatapan sulit di artikan.
Arzan menyentil pelan dahi Kia, dia merasa gemas sendiri melihat senyum aneh Kia. "Awas nanti gila." Kata Arzan.
"Aku memang sudah gila uncle, dan itu karena kau." Kia menyahuti dengan pelan, sangat pelan bahkan Arzan pun tak bisa mendengar nya.
Merasa Kia mengatakan sesuatu, Arzan mengerutkan keningnya lantaran tidak begitu bisa mendengar nya dengan baik. "Kau mengatakan sesuatu?"
"Ah, tidak. Sudah lupakan saja, ayo kita makan aku sudah kelaparan sejak tadi." Kia menarik Arzan menuju dapur, tidak ada penolakan dari pria itu.
__ADS_1
Saat tangan nya di tarik Kia menuju dapur, Arzan hanya pasrah. Sebenarnya dia merasa aneh kenapa dia membiarkan Kia menarik nya seperti itu, ada apa dengan nya?
Di dapur sudah ada mama Kia yang sedang menyiapkan makan, Kia hendak membantu tapi Mama nya melarang Kia bekerja. Kia di suruh untuk duduk anteng saja, lagi pula luka di kakinya juga belum kering. Siraman air panas di kaki nya membuat luka yang cukup parah di kaki Kia.
"Kia, mama mau pergi ke luar dulu sebentar. Ada bahan makanan yang harus mama beli, nanti kamu matikan kompor nya ya." Kia mengangguk patuh.
Kini tinggal lah Kia dan Arzan di sana, duduk saling bersebelahan di sofa keduanya sama-sama diam. Merasa tak nyaman seperti itu, Kia pun pergi menuju dapur. Gadis itu mengutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia seperti itu saat di dekat Arzan. Bisa-bisanya dia memiliki perasaan yang tak seharusnya ada, ini salah Kia sadar itu. Tapi, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak jatuh cinta.
"Kia, kau harus bisa menahan dirimu. Dia sudah memiliki pilihannya, yang jelas jauh lebih baik darimu. Jangan mengharapkan apapun!" Kia mencoba menyadarkan dirinya sendiri, jangan sampai dia terlena dan terluka pada akhirnya nanti.
Beberapa menit Kia berada di dapur, gadis itu juga sudah mematikan kompor seperti yang di perintahkan mama nya. Gadis itu duduk dengan kepala tertunduk di atas meja makan, akhir-akhir ini Kia kembali merasakan perang hati. Yang jelas kali ini sangat melelahkan, jika sebelumnya dia menyukai sahabatnya tapi sekarang yang dia sukai pria dewasa yang menolongnya.
"Hah? Pergi, kemana? Kita bahkan belum makan bersama." Ada perasaan tak rela di hati Kia, tapi jika dia menahan Arzan itu sama saja dengan dia yang tidak tahu diri.
Rasanya akan aneh bukan jika Kia meminta Arzan untuk tetap di sana? Tapi, hati Kia menjerit meminta Arzan untuk tetap tinggal.
"Aku akan kembali lagi nanti, sisakan makanan nya untuk ku." Ujar Arzan. Jauh di luar dugaan, Arzan melangkah maju mendekati Kia. Pria itu menarik pinggang ramping Kia, menahannya untuk berada lebih dekat. "Aku hanya pergi sebentar, tidak apa-apa kan?" Seakan tahu apa yang Kia pikirkan, Arzan melakukan hal yang bahkan tidak pernah di bayangkan oleh Kia.
__ADS_1
Pria itu meminta izin Kia untuk pergi, dia mengelus-elus lembut rambut Kia seakan sedang membujuk gadis itu agar mengizinkan nya pergi. Keduanya juga berada begitu dekat, Kia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Arzan.
"Jika aku melarang mu pergi, apa kau akan tetap pergi atau tetap di sini?" tanya Kia.
"Ini sangat penting, tapi aku akan cepat kembali." Mendengar jawaban Arzan, Kia mengerucutkan bibirnya, bukan ini yang ingin dia dengar.
"Ya sudah, pergi sana!" Usir Kia, gadis itu melepaskan tangan Arzan dari pinggang nya.
Kia menjauhkan diri, tapi Arzan kembali menarik tangan Kia. Dengan gerakan cepat, Arzan mengunci tubuh mungil Kia. Bertumpu pada dinding, tubuh Kia terkunci di sana. Perlahan wajah Arzan semakin dekat, tanpa aba-aba lagi dia menyatukan bibir mereka.
Tentu saja itu membuat Kia terkejut, bahkan gadis itu melotot sempurna dan refleks memukul bahu Arzan. Namun, Arzan sangat menikmati ciuman nya meski tidak mendapat kan balasan dari Kia. Setelah merasa cukup, baru lah Arzan melepaskan ciumannya.
"Aku pergi, jangan lupa sisakan makanan ku."
Lihat di saat Kia yang sekarang ini hampir jantungan, justru Arzan terlihat biasa saja. Pria itu dengan santainya keluar dapur, dan pergi entah kemana. Sementara Kia duduk melantai, dia masih terkejut dengan apa yang Arzan lakukan.
"First kiss!!!!" pekiknya yang baru sadar, pria itu mencuri ciuman pertamanya. "Uncle!!!"
__ADS_1
...*****...
...Up!Up!Up!...