
***
Arzan duduk lesu di kursi panjang taman komplek, pria itu mencari sarapan yang di inginkan Kia namun tak kunjung ketemu juga. Dia mencari-cari kesana-kemari, bahkan Arzan sudah meminta beberapa orang untuk membantu nya juga tapi tetap saja rujak cingur yang di inginkan Kia belum di dapat juga.
Daerah dimana mereka tinggal sangat jarang ada pedagang rujak cingur, di tambah waktu nya masih pagi. Arzan semakin frustasi saat Kia mengatakan, jangan pulang sebelum mendapatkan rujaknya. Kemana lagi dia harus mencari makanan yang satu itu?
Panggil dari Dean masuk, dengan cepat Arzan menjawab panggilan itu siapa tahu saja Dean sudah menemukan rujak cingur nya.
"Hallo!" suara Dean terdengar.
"Kau sudah menemukan rujaknya?" tanya Arzan penuh harap.
"Belum, kata Zivana dia akan kerumah kalian dan membuatkan rujak cingur untuk Kia. Beritahu Kia, Zivana akan datang nanti siang."
Arzan menghela nafasnya, akhirnya dia bisa pulang. Meski tidak dengan rujak cingur, setidaknya Kia tidak akan mengusir nya karena nanti siang dia akan mendapatkan rujak nya.
"Baiklah. Huhhff.... Akhirnya aku bisa pulang."
Dean tertawa di sebrang sana, pada akhirnya Arzan merasakan apa yang Dean rasakan dulu. Tapi, Dean semakin tak sabar jika nanti Kia mengidam. Ini saja yang belum apa-apa sudah menyusahkan Arzan, apa lagi kalau gadis itu mengidam anak pertama mereka sudah di pastikan akan sama menyusahkan nya seperti Zivana dulu. Membayangkan itu Dean sangat senang, dia akan puas menertawakan Arzan nanti.
"Ahhahha! Aku sangat tidak sabar menunggu Kia mengidam nanti, pasti akan sangat seru."
Arzan mengumpat kesal, bisa-bisanya Dean sudah memikirkan hal itu. Dia benar-benar niat membalas dendam seperti nya, dulu Arzan sering memperolok nya karena harus patuh pada Zivana sekarang keadaan berbalik pada Arzan.
"Sialan kau!" Maki Arzan dan langsung menutup panggilan nya, pria itu bergegas untuk kembali ke rumah.
Beberapa menit kemudian dia sampai di rumah, di teras sudah ada Kia menunggu dirinya pulang. Kia terlihat begitu bersemangat menyambut Arzan, tapi wajahnya berubah murung saat melihat Arzan tak membawa rujak yang dia inginkan.
"Sayang, ko di luar? Ayo masuk!" Ajak Arzan.
"Rujaknya mana?" tanya Kia sambil memajukan bibirnya.
"Oh, rujaknya tidak ada. Aku tidak mendapatkan nya, di sini tidak ada yang berjualan rujak cingur seperti nya." Sahut Arzan.
Kia menghentakkan kakinya kesal, bibirnya sudah maju sejak tadi. "Nyebelin! Kamu itu benar-benar gak perduli sama aku. Aku baru minta di belikan rujak cingur aja kamu udah ogah-ogahan, gimana kalau aku minta yang lain?" cerocos Kia.
"Jadi suami pelit banget!"
__ADS_1
Arzan melotot mendengar nya, pria itu tidak menyangka Kia akan sekesal itu hanya karena rujak cingur. "Sayang, bukannya aku pelit. Tapi, memang di sini tidak ada yang jualan."
"Kamu kan bisa nyari kemana gitu, tapi apa kamu malah pulang tanpa rujaknya. Udahlah, aku marah sama kamu." Kia masuk kedalam rumah dengan keadaan merajuk.
Buru-buru Arzan mengejar Kia masuk, pria itu harus membujuk Kia yang merajuk sekarang. Setelah edisi mencari rujak cingur, sekarang giliran edisi membujuk istri. Benar-benar lebih berat dari kerja lembur menurut Arzan.
Kia masuk kedalam kamarnya, dia duduk di ranjang dengan keadaan kesal. Arzan masuk dan duduk di samping Kia, perlahan Arzan mencoba untuk menyentuh nya.
"Sayang, dengerin dulu ya?" bujuk Arzan.
Kia tak merespon apapun, dia malah berpindah posisi menjadi membelakangi Arzan.
"Sayang, jangan gini dong. Dengerin ya, tadi aku sudah mencari rujaknya tapi tidak ada. Aku juga sudah meminta bantuan kenalan ku, bahkan aku meminta bantuan Dean dan Zivana. Tapi rujaknya memang susah di dapatkan." Arzan menceritakan bagaimana perjuangan dirinya mencari rujak cingur.
"Kata Dean karena tidak ada yang menjual, maka Zivana akan membuatkan nya untuk mu. Dia akan datang kemari nanti siang." Lanjut Arzan.
"Benaran?" Kia memancing kan matanya.
"Iya sayang,"
"Kamu gak lagi bohongin aku kan? Awas ya, kalau sampai bohong." Kia siap mencabik-cabik Arzan jika sampai dia berbohong.
...***...
Seperti yang di katakan tadi pagi, Zivana datang ke rumah Kia bersama baby Al. Zivana juga membawa bahan-bahan untuk membuat rujaknya, untungnya ini hari libur jadi dia bisa meminta bantuan Dean.
Kini Zivana sedang sibuk dengan bahan-bahan rujaknya, dia siap mengolah nya menjadi rujak yang Kia mau. Sementara itu baby Al nampak anteng bersama Dean juga Arzan, mereka bermain di ruang tengah.
"Al, nanti sudah besar mau jadi apa?" tanya Arzan.
Baby Al hanya tertawa menyahuti nya. "Saran dari om, kamu jadi dokter saja. Dokter jauh lebih keren daripada propesi papa kamu ini."
Plak!!
Tak tanggung-tanggung Dean menggeplak tangan Arzan menggunakan remot tv, alhasil Arzan mengaduh kesakitan.
"Sialan! Dia putra pertama ku, jelas akan melanjutkan bisnis ku." Kata Dean.
__ADS_1
"Awwss!!! Sakit bang**t, kau tidak boleh berlaku kasar di depan anak kecil." Ujar Arzan.
"Tutup mulut mu sialan, kata-kata mu juga tidak baik didengar anak kecil." Sahut Dean.
"Kalian berdua tidak baik untuk baby Al!" seru Kia yang datang dari dapur bersama Zivana, keduanya membawa rujak di mangkuk.
"Kamu juga! Aku udah sering kasih tau kamu, untuk filter kata-kata kasar kamu itu kalau di depan baby Al!" Zivana mengambil alih baby Al, dia mendudukkan Al di pangkuan nya.
"Maaf, tadi Arzan yang mulai duluan." Kata Dean.
"Enak saja! Zivana, suami kamu itu yang mulai duluan." Tak terima di salah kan, Arzan pun langsung ngegas.
"Tapi kau yang memulai nya, berlaga bertanya cita-cita." Jawab Dean.
"Aku hanya bertanya, dan memberikan saran. Apa salahnya?" lanjut Arzan.
"Sttt!!! Diam, kalian tidak bisa bertengkar di hadapan baby Al!" Kia menutup mulut Arzan sebelum pria itu mengeluarkan suara lagi.
Kedua pria yang tadi ribut itu jadi diam, para istri mereka itu kecil-kecil cabe rawit. Baik Kia ataupun Zivana, sama-sama memiliki postur tubuh mungil tapi sama-sama menyeramkan saat sudah marah. Entah karena Arzan dan Dean yang takut istri, atau memang kedua gadis itu yang terlalu menyeramkan.
"Hoekkk!!!" Kia baru memakan rujaknya sedikit, tapi dia tiba-tiba saja merasakan mual. "Hoeekkk!!!"
Semua langsung panik melihat Kia yang akan muntah, Arzan langsung membantu gadis itu untuk. Zivana mengambil kan air hangat untuk Kia, sementara Dean memegangi baby Al.
"Hoeekkk!!!" Kia berlari menuju kamar mandi, di ikuti Arzan yang panik di belakang nya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Hoeekkk!!!"
Arzan berdiri di belakang Kia, dia meminjat pelan tengkuk Kia. Zivana bergerak cepat mengambilkan minyak angin, dia memberikan itu pada Arzan.
Beberapa menit berlalu Kia baru keluar dari kamar mandi, dia sedikit lemas karena memuntahkan isi perutnya. Arzan menuntun Kita duduk lagi di sopa.
"Ya, ampun Kia. Kamu pasti belum sarapan ya? terus tadi langsung makan rujak nya." Kata Zivana.
"Makanya lain kali sarapan dulu," lanjut Zivana mengomeli Kia.
__ADS_1
"Mau kedokter?" tawar Arzan, Kia menggelang lemah. "Ya sudah, istirahat aja ya? Ayo, aku antar ke kamar."
"Tidak usah, aku tidak apa-apa." Kia menolak di antar ke kamar