
***
London
Arzan duduk sendirian di kursi taman yang tak jauh dari apartemen nya, pria itu baru selesai joging. Pagi ini Arzan libur bekerja, setiap hari libur dia akan memanfaatkan nya untuk mencari Gladys. Kemarin dia sudah meminta bantuan kenalan nya untuk membantu mencari informasi, secepatnya Arzan pasti akan menemukan Gladys.
Sejujurnya Arzan juga tidak tahu apakah dia mencari Gladys untuk membawa nya pulang, atau sekedar untuk memastikan keadaan nya saja? Jika ditanya tentang perasaan nya pun Arzan sendiri bingung, dia masih merasa bersalah dan merasa dirinya masih memiliki tanggung jawab terhadap Gladys. Tapi, dia juga memikirkan tentang Kia.
Perkataan Kia waktu itu sebenarnya cukup mengganggu Arzan, selama sebulan ini pria itu di buat uring-uringan. Bohong kalau Arzan tidak memikirkan Kia selama ini, pria itu selalu terbayang tentang gadis itu.
"Halo!"
"Ya, apa kau menemukan sesuatu?"
"Ya, tapi akan lebih baik jika kau datang sendiri untuk memastikan ini benar atau tidak."
Arzan menghela nafasnya panjang, dia melihat pada langit yang terlihat cerah pagi ini. Berharap semoga petunjuk ini akan memberikan titik terang, dan menjawab semua kegelisahan Arzan.
"Kirimkan alamat nya, aku akan kesana."
"Oke! periksa pesan dari ku."
Sebuah alamat yang di kirimkan rekan Arzan ternyata tak terlalu jauh dari apartemen nya, dia akan pergi besok. Hari ini badannya terasa tidak enak, sepertinya Arzan kurang waktu istirahat. Dia bekerja keras selama sebulan ini, tapi waktu istirahat nya sangat sedikit. Dia sibuk dengan pekerjaan kantor, Arzan juga sibuk mencari Gladys.
__ADS_1
"Aku hanya ingin cepat tenang." Hembusan nafas panjang terdengar jelas dari Arzan, dia lelah terus-terusan hidup dengan rasa bersalah.
Selama beberapa tahun ini dia merasa kepergian Gladys itu adalah salahnya, dia tidak tenang sebab tidak tahu kehidupan seperti apa yang di hadapi di luar sana.
...***...
Pukul 04:00 waktu setempat, Arzan merasa tubuhnya menggigil hebat. Kepalanya terasa pusing, rasa mula juga menyertai. Saat seperti ini sudah sering dia lalui sendiri, tapi kali ini rasanya berbeda. Dia merindukan sosok ibu, ini hal yang dia benci saat sakit.
Pastinya semua orang tidak menyukai sakit, itu bukan rahasia umum lagi. Tapi, ada hal lain yang membuat Arzan sangat membenci sakit yaitu dia yang tidak bisa menangani sakit sendirian. Dia butuh orang lain untuk merawat nya, dan saat seperti itu lah dia teringat pada sosok ibu.
Arzan yang selama ini hidup sendiri, terbiasa melakukan apapun sendirian maka saat sakit dia tidak bisa melakukan apapun sendiri. Arzan benci itu, dia benci saat mengingat tentang keluarga nya. Arzan selalu berpikir, mereka saja tidak menginginkan dirinya lalu untuk apa dia mengingat mereka?
"S**t!" Arzan memegangi kepalanya, dia berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil minum.
Prangg!!!
Dia tidak ingin meminta bantuan siapapun, dia bisa melakukan nya sendiri. Namun, pada kenyataannya itu tidak bisa Arzan harus meminta bantuan.
"Penguntit cilik, aku merindukan mu. Andai kau ada disini, mungkin aku tidak akan kesulitan. Atau bahkan aku tidak akan sakit, sebab ada kau yang selalu mengingatkan waktu makan dan istirahat ku."
Sosok Kia yang Arzan inginkan sekarang ini, ternyata gadis itu sudah masuk terlalu jauh dalam kehidupan Arzan. Hingga saat seperti ini Arzan malah mengingat nya, bukan orang lain termasuk Gladys.
"Ya Tuhan kepala ku sakit, haregh!!"
__ADS_1
Kesal dengan rasa sakit nya, Arzan membenturkan kepalanya pada dinding. Pria itu kemudian berjalan perlahan menuju kamar nya lagi, tidur adalah solusi yang baik menurut Arzan meski dalam keadaan sekarang belum tentu dia bisa terpejam nyenyak.
Kembali tertidur setelah lama berbaring kesana-kemari menahan sakit, Arzan baru bangun saat siang harinya. Tepat pukul 11 siang, dia terbangun. Rasa pusing masih terasa, tapi sudah tidak separah sebelumnya. Perlahan-lahan Arzan mencari obat penurun demam, namun hasilnya nihil. Terpaksa dia harus mencari keluar, untung nya ada sebuah toko obat yang berada tidak jauh dari tempat tinggal nya itu.
Jalan sempoyongan akhirnya Arzan berhasil sampai di toko obat, dia membeli obat penurun demam dan juga obat untuk rasa pusing dan mual nya.
Arzan merasa tubuhnya kian lemas, dia pun memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di teras toko dulu. Rasanya Arzan seperti tidak sanggup untuk berdiri, pria itu bersandar dan memejamkan matanya sebentar.
"Excuse me sir, is there any fever medicine?"
Arzan mendengar samar-samar suara seseorang yang terdengar tidak asing untuk nya, pria itu mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Arzan memicingkan matanya, dia mengucek berkali-kali matanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat.
"Apa aku berhalusinasi?"
Dia sosok yang Arzan cari selama ini, seseorang yang membuat Arzan hidup dengan rasa bersalah. Bahkan Arzan rela menghabiskan waktunya untuk mencari dia, pria itu bahkan lupa waktu untuk istirahat karena mencari nya. Kini dengan tidak terduga dia berada di depan mata Arzan, wanita itu Gladys.
...***...
...Hai! Up nih!!...
Ayo Like, komen!!!
Harusnya up kemarin, cuma aku nyah ngerjain makalah dulu sekarang pun belum beres sih 😭🤣 Tpi gkpp deh up dulu kasian Kia Uncle Arzan nya gk balik²😭 Btw kemarin tuh aku ultah cuma ya gtu banyak yg lupa, aku juga gk terlalu mikirin soalnya pusing banyak tugas😭 sedih? gk sih aku biasa ajja wkwk🤣
__ADS_1
Ayo guys!! Follow Ig @cpt_n_423
Kayaknya seru deh kalo kita bisa curhat² di Ig, soalnya aku sering gabut😭 klo pas gk up juga kita bisa bicarakan lah ya😭