
***
Warna biru langit hari ini terlihat begitu indah, beberapa hari belakangan ini cuacanya sangat cerah secerah perasaan Zivana. Setelah beberapa waktu lalu hari buruknya tiba, kini mungkin kehidupan yang lebih baik sedang menghampiri nya. Meski permasalahan nya dan kedua orang tuanya belum memiliki titik terang untuk berdamai, hidup di luar sendirian membuat Zivana lebih dewasa. Dia tidak menyalahkan siapapun, juga tidak membenci siapapun. Dia mengerti semua butuh waktu, dan dia juga tidak bisa terus bersedih karena itu.
Hari ini Zivana bekerja seperti biasa, sudah tiga hari sejak pembicaraan nya dengan Gio pria itu tak lagi datang ke caffe. Bagi karyawan di sana itu tak aneh, karena memang Gio datang hanya untuk memeriksa laporan perkembangan caffe. Zivana pun demikian, dia tidak memikirkan hal aneh tentang Gio.
"Ziva, minggu depan caffe akan di tutup." Kata Sandra yang tengah duduk dengan menopang dagu.
"Loh, kenapa?" kaget Zivana.
"Pak Gio mau meneruskan perusahaan milik keluarganya." Sandra terlihat begitu murung, caffe akan di tutup dan mereka harus mencari pekerjaan lain.
Sama seperti Sandra, Zivana pun nampak murung. Mencari pekerjaan lain bukan hal mudah, apa lagi Zivana yang hanya memiliki ijazah SMA. Selain itu, Zivana tidak mau mengandalkan orang lain.
"Kamu mau kerja dimana setelah ini?" tanya Zivana yang dijawab gelengan kepala oleh Sandra.
"Belum tau, aku mungkin akan pulang ke Bandung." Jawab Sandra.
Zivana jadi semakin bingung, dia tidak memiliki rumah untuk pulang. Dia tidak memiliki orang tua, selain itu Zivana baru saja akan mengumpulkan uang untuk mendaftar kuliah. "Aku tidak memiliki rumah untuk pulang." Kata Zivana dengan tatapan kosong.
Sandra yang kala itu tengah melamun langsung menatap pada Zivana, dia lupa Zivana sekarang hidup sendiri. Dia masih beruntung karena masih memiliki orang tua, Sandra jadi kasihan pada gadis yang duduk di hadapannya ini.
"Kamu mau ikut aku ke Bandung? Kamu bisa istirahat, refresh otak dan siapa tau kamu dapat jodoh di sana." Ujar Sandra.
"Ngaco kamu, memang nya siapa yang mau sama aku? keluarga aja aku gak punya." Sahut Zivana sambil menggelengkan kepala.
"Jangan salah kamu, juragan tanah di desa ku ada banyak. Mereka punya istri banyak, dan paling penting gak mempermasalahkan bibit bebet bobot." Kata Sandra sambil terkekeh geli melihat wajah datar Zivana.
"Sakarep mu!!" kesal Zivana.
***
Arzan harus menggantikan Dean untuk rapat dengan salah satu klien, pria dengan jas biru dongker itu berjalan setengah berlari untuk menghindari terik nya sinar matahari. Arzan masuk ke sebuh caffe yang di jadikan tempat rapat hari ini, seseorang sudah menunggu dirinya di sana.
__ADS_1
Hari ini Dean harus pulang kerumahnya karena papa nya jatuh sakit, dan semua pekerjaan di urus Arzan. Sama seperti sekarang ini, Arzan menjalankan rapat dengan salah satu klien.
"Sebelumnya saya ingin menyampaikan permintaan maaf dari atasan saya, tuan Dean berhalangan untuk hadir hari ini." Ucap Arzan.
"Tidak masalah tuan Arzan, saya mengerti. Hari ini saya juga mewakili atasan saya." Sahut pria tersebut.
Arzan sempat berpikir sejenak, dia pikir yang di hadapannya ini adalah direktur baru JH Grup ternyata dia salah. "Ah, begitu rupanya. Senang berjumpa dengan mu."
Keduanya mulai membicarakan tujuan dari pertemuan mereka, baik Arzan ataupun orang dari JH Grup itu terlihat begitu serius. Mereka bukan pemimpin perusahaan, tapi mereka bekerja begitu keras seakan perusahaan milik merekalah yang akan mereka kembangkan ini. Pembicaraan keduanya terhenti karena sama-sama teralihkan oleh seorang pelayan caffe.
"Nona?" Arzan sedikit terkejut, saat Zivana yang mengantar pesanan mereka. Tapi, dia cukup bersyukur karena tidak ada Dean.
Zivana tersenyum tipis, dia juga kaget melihat Arzan di sana. Sama seperti Arzan dia juga bersyukur tidak ada Dean. Jika ada pria, itu entah apa yang akan terjadi. Mungkin Dean akan malu atau dia akan melakukan hal tidak terduga, meski sudah tahu Zivana bekerja di caffe tapi tetap saja saat melihat langsung bagaimana Zivana bekerja Dean mungkin tidak akan terima. Mengingat bagiamana sifat seorang Dean, tidak mungkin Dean diam saja saat melihat Zivana melayani pengunjung apa lagi mengantarkan pesanan miliknya juga.
"Permisi," pamit Zivana.
***
Arzan menatap gadis yang memanggil nya itu, pria berjas biru dongker itu menutup kembali pintu mobil yang baru saja dia buka. "Ada apa nona?"
"Ah, itu apakah aku bisa bertanya sesuatu?" kata Zivana dengan sedikit ragu.
Arzan mengangguk. "Silahkan nona,"
"Apakah kau bisa membantu ku mencari pekerjaan? Mungkin kau punya kenalan, atau saudara yang membutuhkan tenaga kerja." Ujar Zivana dengan penuh harap.
Arzan menautkan alisnya heran, bukannya gadis ini sudah bekerja di caffe. "Untuk siapa kau mencari pekerjaan?"
"Aku," sahut Zivana sambil meremas tangan nya. "Caffe ini akan di tutup."
"Kenapa tidak meminta pekerjaan pada tuan Dean. Ku rasa di kantor sebesar itu, pasti membutuhkan tenaga kerja besar juga." Saran Arzan tepat seperti dugaan Zivana.
"Itu___ Aku tidak bisa melakukan nya. Aku tidak mau bergantung pada seseorang, kau tau kan kalau aku bekerja di sana yang ada om Dean akan memperlakukan ku berlebihan. Aku tidak mau dia jadi bahan pembicaraan staf kantor karena aku." Jelas Zivana.
__ADS_1
Arzan sangat paham, dia juga berpikir hal yang sama. Tapi, melihat Zivana yang seperti nya sangat membutuhkan bantuan Arzan pun tak tega. "Akan aku hubungi setelah aku mendapatkan pekerjaan yang pas."
Zivana tersenyum senang mendengarnya, dia akan sangat berhutang kepada Arzan. "Terima kasih, terima kasih! Cepat hubungi aku, dan katakan kabar baiknya."
****
Zivana berlari menyebrangi jalan, gadis itu sudah siap tidur tapi tiba-tiba saja Dean memintanya untuk bertemu. Dengan pakaian tidur yang di balut sebuah cardigan berwarna pink, Zivana masuk kedalam sebuah restoran. Mungkin ada banyak orang yang memandang nya aneh, tapi dia tak peduli.
Gadis itu menghampiri Dean di meja dekat pintu masuk, dengan nafas yang masih tersengal-sengal Zivana duduk di hadapan Dean. "Om, ada apa? Om baik-baik saja kan? Oh, iya bagaimana keadaan papa om Dean?"
"Nafas dulu." Kata Dean yang di tanggapi cengiran kuda oleh Zivana.
Dean menatap Zivana dengan tatapan sulit di artikan, bahkan gadis itu merasa sedikit canggung karena tatapan itu. Beralih pada Arzan yang duduk di samping Dean, Zivana mencoba bertanya sesuatu lewat isyarat nya namun Arzan hanya mengedigkan bahunya.
"Ayo menikah." Kata Dean begitu mudah, pria itu terlihat santai saat mengatakan nya.
Sontak saja Zivana dan Arzan dibuat tercengang, bahkan gadis itu repleks mengebrak meja karena kaget.
"Maksud om____ menikah___? menikah apa? Ziva gak ngerti?"
...****...
...Hallo, Up nih!!!...
..."Ayo menikah!"...
..."Ayo menikah!"...
..."Ayo menikah!"...
Gampang banget ya ngomong gtu😂 btw kira² Ziva mau gak ya🙊😂
...Ayo siap² kondangan!!!!😂😂...
__ADS_1