Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
S2• Penguntit


__ADS_3

***


Malam itu Arzan mengantarkan Zivana ke rumah kontrakan nya, sebenarnya Arzan sangat lelah tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi tugasnya ketika Dean tidak ada. Memastikan keamanan gadis itu juga menjadi tanggung jawab Arzan, sebab Zivana adalah orang penting bagi Dean. Setelah memastikan Zivana masuk kedalam kontrak kan nya, Arzan segera masuk kedalam mobil.


Baru saja dia akan melajukan mobilnya, tapi bayangan seseorang menghentikan nya. Dia melihat bayangan seorang gadis di sebalik tong sampah besar, Arzan rasa dia sedang bersembunyi di sana. Niat hati tak ingin ikut campur, tapi pikiran nya langsung mengarah pada Zivana. Bagaimana jika dia orang jahat? Jika sampai dia melukai Zivana, maka Arzan akan di amuk oleh Dean sebab dia yang mengantar gadis itu malam ini.


"****!" Arzan mengumpat dan turun dari mobil nya, dia berjalan dengan perlahan.


Gadis di sebalik tong sampah besar itu keluar, dia berbalik hendak pergi dari sana. Arzan pun membiarkan dia pergi, mungkin dia salah mengira. Arzan kembali ke mobil nya, pria itu melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Ketika dia melewati sebuah halte, Arzan tak sengaja melihat gadis yang tadi dia lihat. Gadis itu duduk di sana, mungkin dia sedang menunggu bus pikir Arzan.


Malam itu tidak terjadi apa-apa, dia hanya berburuk sangka pada seorang gadis. Ke esok kan harinya, dia kembali di tugaskan untuk menjemput Zivana.


"Silahkan masuk nona," dia membukakan pintu untuk Zivana, Arzan memutari mobil dan masuk, dia duduk di kursi pengemudi.


Matanya menyipit tatkala menangkap sosok gadis yang berdiri tak jauh dari mobil mereka, terlihat gadis itu yang seperti seorang penguntit. Arzan kembali teringat dengan sosok itu, dia sosok yang Arzan lihat semalam. Pagi ini dia pun ada di sana, untuk apa?


Sepertinya tebakan Arzan benar, gadis itu menguntit Zivana. Lain kali akan Arzan cari tahu, sekarang dia akan mengantar Zivana lebih dulu ke kantor Dean.


"Nona, kau punya musuh?"


"Tidak ada, tapi mungkin ada juga orang yang membenci ku. Kenapa, apa ada masalah?


Arzan menggeleng dia tidak bisa mengatakan pada Zivana bahwa ada orang yang mengawasi nya, dia pikir Zivana akan merasa khawatir dan tidak nyaman saat tahu dia sedang di awasi.


"Tidak Nona, saya hanya bertanya."


***


Beberapa hari Arzan selalu melihat sosok gadis itu di sekitar kontrakan Zivana, tapi sejauh itu juga belum ada hal buruk yang terjadi. Arzan belum memberitahu soal ini pada Dean, dia ingin memastikan dulu motif gadis itu mengawasi Zivana.


Malam itu Arzan tidak mengantar Zivana pulang, tapi dia berniat untuk tetap pergi ke kontrakan Zivana. Dia akan memastikan siapa dan untuk apa gadis itu di sana, dengan menggunakan pakaian santai nya Arzan berdiri mengawasi dari jauh.


Tepat seperti dugaan nya, gadis itu datang lagi. Kali ini dia terlihat berbeda, dengan switer oversize berwarna putih dia berdiri sambil membawa sebuah paper bag. Arzan memperhatikan nya dari jauh, dia pikir paper bag itu akan di berikan pada Zivana tapi ternyata dia malah membuang nya.

__ADS_1


"Apa dia setiap hari di sini hanya untuk membuang paper bag?"


Tapi, itu konyol bukan? Arzan rasa bukan itu alasannya, pasti ada hal lain. Arzan melihat gadis itu berjalan kearah halte, dia duduk di sana cukup lama.


"Apa dia orang tidak waras?" Arzan kesal sendiri, dia tidak mendapatkan petunjuk apapun.


"Berhenti, Nona!!" Seorang pria bertubuh kekar bersama beberapa rekannya datang, Arzan melihat gadis itu berlari saat beberapa orang berlari kearahnya.


"Berhenti!!!"


Gadis dengan switer oversize putih itu berlari kearah Arzan, pria itu menjadi semakin bingung sekarang. Ditambah dia yang malah meminta tolong, mendadak Arzan tak bisa berpikir apapun.


"Tuan tolong saya," dia memohon di hadapan Arzan, sebab tak tega Arzan pun menyuruhnya masuk kedalam mobil.


"Masuk!" Mereka pun pergi dari sana, Arzan melajukan mobilnya dengan cepat.


Mobil Arzan melaju kencang, setelah mengemudi sangat jauh dari tempat tadi Arzan menghentikan mobilnya. Dia melihat tempat dia menghentikan mobilnya sudah tepat, itu tempat ramai jadi gadis ini akan aman dari kejaran orang-orang tadi.


"Ada apa? Apa aku harus membayar ongkos? Maaf, tapi aku saat ini tidak punya uang."


"Kau penguntit kan?" Arzan langsung bertanya pada intinya, tapi gadis itu malah tertawa ringan.


"Apa aku terlihat seperti seorang penguntit? Hahaha.... Sepertinya aku harus menjadi detektif, kelihatan nya aku cocok. Benar kan?"


"Kenapa kau mengira kalau aku penguntit?" dia menjadi serius sekarang, Arzan merasa merinding melihat tatapan mata tajam nya.


"Aku hanya bertanya, salah? Lagi pula kau terlihat mencurigakan, mengawasi orang secara diam-diam apa itu bukan menguntit?" Arzan pun menatap gadis itu dengan tatapan penuh selidik.


"Untuk apa, dan siapa pula yang aku awasi? Kau pasti salah orang." Gadis itu pun berniat untuk turun, namun Arzan menahan tangan nya. Pria itu menatap lebih tajam, gadis di hadapannya ini sepertinya sangat licik.


"Nona Zivana, kau menguntit nya bukan?" kata-kata nya terdengar mengintimidasi, Arzan terlihat menakutkan ketika sudah serius seperti ini.


"Zivana?" Terlihat gadis itu yang seperti nya shock karena ketahuan. "Kau mengenalnya? Apa kau pria yang mengencani Zivana?"

__ADS_1


"Bukan urusan mu, katakan saja tujuan mu mengawasi nona Zivana untuk apa?"


"Aku sahabat nya."


Arzan menautkan kedua alisnya. "Sahabat? Kenapa seorang sahabat menguntit sahabat nya sendiri, kau bisa menemui nya bukan?"


"Tunggu, tunggu! Siapa kau ikut campur urusan kami?"


Haiss! Arzan mengumpat dalam hati, gadis ini ternyata sangat menyebalkan.


"Aku sekertaris pribadi kekasihnya, aku bertanggung jawab untuk keamanan nya."


"Apa aku harus memperkenalkan diri juga? Oh, aku rasa harus." Dengar dia sangat menyebalkan, Arzan rasanya ingin menyeret dia keluar sekarang juga.


"Aku Kia sahabat Zivana, jika kau tidak percaya kau bisa menanyakannya pada Zivana. Aku tidak menguntit nya, hanya saja tidak berani untuk bertemu dengan nya."


Pernyataan macam apa itu? Arzan memijat pelipisnya, bocah jaman sekarang memang sangat sulit untuk di pahami.


"Sudahlah aku harus pergi, lain kali saat kita bertemu lagi akan aku traktir minum sebagai ucapan terima kasih." Kia keluar dari mobil, gadis itu langsung berlari menyebrangi jalan.


"Apa susahnya mengucapkan terima kasih dulu, baru berwacana mentraktir minum."


Arzan memijat pelipisnya untuk kesekian kali, dia merasa pusing sendiri. Seorang sahabat menjadi penguntit, bagaimana bisa? Arzan rasa mereka berdua memiliki kesalah pahaman, anak remaja seusia mereka memang sering seperti itu bahkan orang dewasa pun sering seperti itu dengan sahabat sendiri.


"Kiara," dia membaca sebuah buku catatan milik gadis itu yang tertinggal di mobil, ini akan menjadi semakin rumit karena dia akan bertemu gadis itu lagi untuk buku ini.


"Penguntit cilik."


...***...


...Up!Up!Up!...


Spam komen!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2