
***
Hanya memiliki waktu satu minggu, Arzan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Setiap detiknya begitu berharga bagi Arzan, dia akan menyakinkan Kia dalam waktu satu minggu ini. Apapun itu akan Arzan lakukan supaya Kia bisa yakin, tak peduli dengan siapa dia akan bersaing Arzan cukup percaya diri.
Mungkin perasaan Kia tak sedalam dulu, tapi Arzan yakin gadis itu masih memiliki sedikit perasaan untuk nya. Itu sudah cukup untuk Arzan, itu akan membuat dirinya lebih mudah meyakinkan Kia.
"Kita akhiri pertemuan hari ini, terima kasih atas waktu nya." Arzan baru saja selesai rapat hari ini, dia menjadi wakil direktur dan menghandle urusan perusahaan di Indonesia saat Dean di London.
"Terima kasih kembali tuan Arzan, senang bisa bekerja sama."
Setelah merasa urusan kantor nya selesai, Arzan langsung pulang. Bukan pulang ke apartemen nya, melainkan ke rumah Kia. Dia juga belum bertemu mama Kia setelah kembali ke Indonesia, ini akan menjadi kesempatan nya juga untuk mengambil hati mama Kia.
Menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya Arzan sampai di rumah Kia. Setelah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah, Arzan langsung turun dari mobil.
"Motor? Apa ini milik Kia?" Arzan heran melihat sebuah motor sport terparkir di depan rumah, tidak mungkin itu milik Kia.
"Apa sedang ada tamu?" Arzan akan kembali ke mobil, dia rasa tidak tepat rasanya masuk jika di dalam sedang ada tamu. Apa lagi Arzan tidak tahu, apakah mama Kia akan menerima nya untuk bertamu atau tidak.
Daripada malu di depan tamu lain, lebih baik masuk kembali kedalam mobil pikir Arzan.
"Arzan?!" Suara mama Kia menghentikan langkah Arzan, pria itu menghembuskan nafas nya lalu berbalik badan.
"Apa kabar tante?" sapa Arzan.
"Kabar baik, ini beneran Arzan? Bukankah seharusnya ada di London, sedang apa disini?" heran mama Kia.
__ADS_1
"Ah, itu saya pulang lebih dulu. Ada beberapa urusan di sini." Imbuhnya.
Mama Kia mengangguk mengerti, dia mempersilakan Arzan untuk masuk. Namun, sebelum mereka masuk Kia lebih dulu keluar dari rumah bersama seseorang.
"Mah, Kia pergi dulu ya." Suara Kia menarik perhatian Arzan, betapa terkejutnya Arzan melihat Kia keluar di ikuti pria di belakang nya.
"Eh, mau pergi sekarang ya?" tanya mama Kia.
Kia menatap pada Arzan yang kini juga tengah menatapnya, pandangan keduanya tertaut untuk beberapa saat. Kia mengalihkan pandangannya, dia tidak bisa menatap mata itu terlalu lama.
"Kau mau keluar?" tanya Arzan yang di jawab anggukan kepala oleh Kia. "Hmmm, baiklah hati-hati." Arzan tersenyum pada Kia, tak lupa dia juga mengusap kepala Kia.
Ziko menatap heran interaksi keduanya, dia bertanya-tanya siapa pria ini? Apakah dia kerabat Kia, melihat dia yang dengan mudahnya menyentuh kepala Kia.
"Om, kenalin saya Ziko. Saya temannya Kia, senang bisa bertemu dengan om." Ziko mengulurkan tangannya, namun Arzan hanya menatapnya malas.
"Uncle," tegur Kia, dia merasa tidak enak pada Ziko. Sedangkan Arzan lagi-lagi hanya menatap malas, jadi dia memiliki saingan sekarang.
"Aku benar kan? Di bukan keponakan ku, dan aku juga tidak bertanya apapun padanya. Apa aku salah?" Arzan terdengar sangat tidak suka pada Ziko, jelas dia tidak suka Ziko saingannya.
"Iya, tapi uncle gak seharusnya berbicara seperti itu sama mas Ziko. Mas Ziko ngomong nya baik-baik loh, kenapa uncle malah bersikap seperti itu?" Kia sedikit emosi.
"Terserah, aku tidak perduli." Sinis Arzan lagi.
"Sudah-sudah. Kalian ko malah berantem sih? Sudah Arzan ayo masuk, Kia sama Ziko juga ayo masuk. Kita akan Adain acara makan malam di rumah, kalian gak perlu pergi keluar." Mama Kia menarik masuk Kia, di ikuti Ziko dan Arzan di belakang.
__ADS_1
Sepertinya akan terjadi lebih banyak perdebatan lain nya lagi, mengingat sikap Kia dan Arzan sama-sama tidak mau kalah di tambah kehadiran Ziko memperpanas suasana.
Ketahuilah Ziko masih tenang-tenang saja karena mengira Arzan itu keluarga Kia, dia mengira Arzan adalah om nya Kia. Berbeda dengan Arzan, yang sudah panas sedari awal melihat kehadiran Ziko di sana.
"Kia, aku harus pergi sekarang. Lain kali kita akan makan malam bersama, aku yang akan mengundang kalian." Ziko harus pergi sebab ada urusan penting, pemuda itu berpamitan pada Mama Kia dan Arzan juga.
"Hati-hati ya," kata Kia.
"Tante Ziko pergi dulu,"
"Yah, Padahal tante masak banyak. Ya sudah tidak apa-apa, lain kali tante masak banyak lagi untuk kita makan bersama."
"Hehehe iya tente, Ziko permisi."
Sekarang giliran pada Arzan, kebetulan sekali Arzan sedang duduk anteng di ruang tamu. Ziko datang menghampiri nya. "Om, saya pergi dulu."
"Bagus deh, akhirnya kamu pergi juga." Sahut Arzan.
"Eh, iya om. Maaf, tidak bisa ikut bergabung makan malam." Kata Ziko lagi.
"Sudahlah, saya juga tidak mau makan malam bersama kamu. Bagus deh kamu pergi sekarang," Arzan menaikan kaki nya ke atas meja, pria itu bahkan tak mau melihat pada Ziko.
Dalam hati Ziko bertanya-tanya, apakah dia membuat kesalahan? Kenapa sikap Arzan begitu pada dirinya? Ziko merasa kesal sebenarnya, tapi dia tidak bisa berbuat banyak sebab takut membuat Kia marah padanya.
Tidak tahu saja Ziko kalau Arzan itu saingan dirinya untuk mendapatkan Kia, mungkin kalau tahu Arzan akan mendapatkan serangan perlawanan dari Ziko.
__ADS_1
...***...
...Up!!!...