
****
"Ayo menikah." Kata Dean begitu mudah, pria itu terlihat santai saat mengatakan nya.
Sontak saja Zivana dan Arzan dibuat tercengang, bahkan gadis itu repleks mengebrak meja karena kaget.
"Maksud om____ menikah___? menikah apa? Ziva gak ngerti?"
Zivana menutup matanya saat Dean mendekatkan wajah mereka, rasanya jantung Zivana akan melompat keluar. Tinggal beberapa senti lagi, tiba-tiba saja suara nyaring dari ponsel mengudara.
Drrrrtttttt!!!!
Kringgg!!!!! Krringggg!!! Kringgg!!!
Zivana membuka matanya, gadis itu meraih ponsel miliknya lalu mematikan alarm yang berbunyi itu. Ini pukul 5 pagi, detik berikutnya Zivana baru sadar, dia berada di tempat tidur. Lalu pertemuan dan ajakan menikah dari Dean itu apakah hanya mimpi?
"Ya Tuhan, mimpi ternyata." Zivana menghembuskan nafasnya. Dia mengusap wajah nya dengan kedua tangan, memijit pelan pelipis nya.
Mimpi itu seperti nyata, Zivana bahkan masih tak percaya itu semua hanya mimpi. Semalam mungkin dia terlalu memikirkan Dean sampai terbawa mimpi.
"Alarm nya berisik banget, kalau tau mimpi aku biarain aja tuh hp bunyi terus. Jadinya kan mimpi aku keganggu, mana aku belum sempet jawab." Gerutunya.
Zivana bergegas untuk membersihkan tubuh nya, dia harus bersiap-siap untuk berangkat ke caffe. Mungkin hari ini dia juga akan mulai mencari pekerjaan di tempat lain, dia juga menunggu kabar dari Arzan.
***
"Kenapa kau baru mengatakan ini Ar? Aku jadi semakin bertanya-tanya, gunanya aku ada itu apa?" Dean mengepalkan tangannya, dia merasa dirinya sangat tidak bisa diandalkan.
Arzan menceritakan keadaan Zivana yang sekarang ini sedang membutuhkan lowongan kerja baru. Awalnya dia berniat untuk merahasiakannya, tapi setelah dia pikir ulang Dean harus tahu. Mungkin saja jalan keluar nya akan lebih mudah di temukan saat Dean tahu, jadi tidak ada salahnya Arzan menceritakan semuanya.
"Nona Zivana tidak ingin merepotkan anda tuan," sahut Arzan menjelaskan ketidak enakan Zivana.
"Setelah permasalahan dengan orang tuanya, lalu sekarang masalah pekerjaan nya. Kenapa aku selalu tidak tahu apapun? Aku rasa dia tidak membutuhkan ku."
Arzan melihat Dean yang duduk dengan wajah yang penuh kekecewaan, rasanya dia tak tega dan menyesal telah menceritakan semuanya. "Tuan maaf, saya tidak bermaksud untuk merahasiakan nya dari tuan."
Dean diam untuk sesaat, pria itu terlihat sedang berpikir keras. Zivana butuh tempat tinggal, dia butuh perlindungan dan dia juga membutuhkan orang untuk menjadi teman berbagi segalanya. Dean pernah berpikir tentang masa depan mereka sebelumnya, tapi dia sedikit ragu mengingat Zivana yang terpaut usia sangat jauh darinya.
"Ar, menurut mu aku harus apa? mengikuti keinginan nya untuk membiarkan dia berjuang sendiri, atau melakukan sesuatu yang selama ini aku pikirkan?"
Arzan menatap serius pada bos nya itu, pria yang dua tahun lebih muda dari Dean itu berpikir sejenak. "Memang nya apa yang anda pikirkan tuan?"
__ADS_1
"Memperistri nya." Dean terlihat santai, pria itu kini menatap pada Arzan yang sedang menatap nya dengan mulut terbuka.
"Tutup mulut mu." Arzan yang baru tersadar pun menutup mulutnya, pria itu membuat Dean merinding.
Bagaimana tidak, tadi Arzan membuka mulutnya lebar-lebar. Sekarang Arzan malah tersenyum-senyum tak jelas, pria itu seperti sakit jiwa menurut Dean.
"Lakukan apa yang selama ini anda pikirkan tuan. Itu jalan terbaik, aku sangat setuju." Arzan jadi lebih bersemangat dari sebelumnya, pria itu terlihat begitu bahagia.
Dean menautkan alisnya, di sini yang seharusnya kegirangan adalah dirinya bukan Arzan. Kenapa malah jadi Arzan yang begitu bersemangat?
"Kenapa jadi kau yang begitu bersemangat? Apa yang akan memperistri Zivana itu kau?"
"Maaf tuan," Arzan membungkuk hormat, pria itu merubah raut wajah menjadi datar kembali.
***
Zivana merasa aneh saat melihat senyum di wajah Arzan, pria itu tiba-tiba saja menjemput dirinya setelah selesai bekerja. Anehnya wajah datar Arzan terlihat berbeda, pria itu menunjukan senyum yang tak pernah dia perlihatkan selama ini.
"Anda sehat pak? Mungkin pak Arzan butuh waktu istirahat." Kata Zivana sedikit was-was.
"Saya sehat nona, saya sangat sehat."
"Ini bukan senyum saya nona, senyum saja jauh lebih menyeramkan dari ini."
Zivana dibuat kaget karena pengakuan Arzan itu. Sangat menyeramkan? Bulu kuduk nya merinding tiba-tiba, apakah Arzan ini makhluk jadi-jadian?
***
Dean duduk di kursi kebesarannya sambil menopang dagu, dia benar-benar gugup sekarang. Haruskah dia berlutut di hadapan Zivana lalu melamar gadis itu dengan setangkai bunga mawar?
"Tidak, tidak. Itu terlalu pasaran. Gaya seperti itu sudah banyak di lakukan orang lain, aku ingin berbeda."
Dean melihat pada gedung tinggi yang terlihat dari ruangan nya, apakah dia harus membeli sebuah apartemen untuk Zivana sebagai tanda cinta nya?
"Will you marry me? Lihat gedung itu, jika kau menikah dengan ku gedung itu akan menjadi milik mu." Dean berbicara seorang diri, dia berlatih untuk melamar Zivana.
"Haiss! ini terdengar seperti om-om tua bangka, yang mau menikahi wanita mata duitan." Dean menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa melakukan itu juga.
Meski dia memang duda, usia dia dan Zivana berbeda jauh tetap saja melakukan itu rasanya tidak pas. Di sini menikah karena saling mencintai, bukan karena uang.
"Om kan memang sudah tua." Zivana tiba-tiba saja masuk dan tertawa melihat wajah kaget Dean. "Sedang berlatih melamar ku?" gadis itu terlihat menaik turun kan alisnya menggoda Dean.
__ADS_1
Dean melihat pada pintu yang sudah tertutup kembali, untung saja tidak ada Arzan atau yang lain dia bisa malu dibuatnya. Tapi meski demikian, dia tetap merasa sangat malu ketahuan oleh Zivana.
"Siapa yang akan melamar mu? aku hanya iseng saja," imbuh Dean.
"Oh, ya? aku pikir mimpi ku jadi kenyataan, ternyata tidak." Zivana duduk dengan bibir nya yang di majukan, gadis itu berakting merajuk.
"Mimpi apa?"
"Ziva tuh mimpi om Dean ngelamar Ziva. Tapi belum sempet Ziva jawab, alarm hp Ziva udah bunyi. Ngeselin kan? huhh!" cerita Zivana sedikit kesal.
Dean ingin tertawa mendengar nya, tapi dia menahan nya. Apa lagi saat melihat raut wajah Zivana yang terlihat kesal itu.
"Sebenarnya saya mau ngelamar kamu, cuma bingung cara ngelamar tuh gimana?" Dean menatap Zivana dengan serius. "Kamu mungkin punya tips nya?"
Bodoh! Dongo! Dean sialan!!! Kenapa malah meminta tips, harusnya dia berpikir sendiri. Pria itu harus nya memiliki inisiatif sendiri, bukan malah bertanya pada orang yang mau dia lamar. Tidak romantis!!!
"Ya udah, om gak usah lamar Ziva. Biar Ziva aja yang lamar om," Zivana mengambil setangkai bunga yang dijadikan hiasan di meja.
"Om, will you marry me?" Zivana menyodorkan bunga yang dia ambil, gadis itu memperlihatkan wajah imutnya. "Kalau om gak mau, gak masalah. Ziva bisa lamar orang lain, nungguin om kelamaan."
"Eehhh, jangan!!" Dean mengambil bunga dari tangan Zivana. Pria itu berdiri dan menghampiri Zivana, dia menarik tangan gadis itu dan menahan pinggang nya.
Tangan Dean bergerak merapihkan anak rambut Zivana yang sedikit berantakan, beralih pada membelai wajah nya. Dia mengecup kening, pipi kanan kiri dan terakhir bibirnya.
"Ayo menikah dengan ku."
Zivana mengangguk tanpa beban dan tanpa pikir panjang. Ini benar-benar sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. "Ayo!"
Bukan Dean melainkan Zivana yang langsung memulai ciuman, gadis itu menyambar bibir tipis Dean. Entahlah, dirasa tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain mencium bibir pria itu sekarang ini.
Semakin lama semakin dalam ciuman keduanya, saling memagut satu sama lain. Soal ciuman Zivana sangat ahli, gadis itu selalu mampu mengimbangi Dean meski pria itu yang paling mendominasi.
"Aku mencintaimu gadis nakal."
...***...
...Up! Up! Up! Up!...
Acieee!!! Mimpi si Ziva jadi kenyataan guys😂 Meski cara ngelamar nya gak kaya orang-orang yang nyiapin kejutan dan sejenisnya, tetep aja bikin iri 🙈🤣
Jadi kondangan nih wkkw🤣🤣 Makan-makan dong bentar lagi🤣🤣
__ADS_1