
***
"Uncle, Kia mau turun!"
"Tidak!"
"Uncle!!!"
"Berisik Kia, apa kau tidak bisa duduk dengan tenang?"
Kia mengerucutkan bibirnya sebal, bisa-bisanya Arzan memaksa untuk mengantar Kia pulang. Padahal sudah dari tadi Kia meminta untuk di turunkan, tapi pria itu tidak mendengar kan dirinya. Berkali-kali Kia mengancam akan melompat dari mobil, namun tetap saja Arzan tidak mau berhenti dan menurunkan Kia.
"Ini tidak adil, kau mau aku mendengarkan mu tapi kau tidak mau mendengar ku." Kia kesal sekali pada pria ini.
Terkadang Arzan itu seperti anak kecil, dan terkadang Arzan sangat egois. Mungkin ini salah satu alasan Kia masih ragu padanya, dia ragu mereka akan cocok satu sama lain.
"Apa yang perlu aku dengar darimu, aku sudah cukup mendengarkan mu. Kali ini, giliran kau yang mendengarkan dan aku yang berbicara." Kata Arzan.
"Terserah, aku tidak peduli." Dengan malas Kia bersandar pada jendela mobil, dia malas berdebat lagi.
Jalanan sore ini juga lumayan padat dari biasanya, ini menambah kejenuhan Kia. Dia ingin cepat sampai, namun yang terjadi malah kebalikannya.
__ADS_1
Sejenak Kia memejamkan matanya, dia terlalu lelah hari ini. Hari pun sudah mau magrib, Kia melihat kearah luar dia dapat melihat langit sore sudah mulai menggelap. Tapi, tiba-tiba saja pandangan Kia semakin tajam. Dia melihat sebuah toko di sebrang jalan sana, sebuah toko ice cream.
Jika sudah menyangkut yang satu ini, entah kenapa Kia selalu antusias. Semangat nya kembali lagi, bahkan dia sangat aktif. Dia akan merengek sampai dia bisa mendapat kan ice cream nya, ya begitulah Kia.
"Uncle," Kia memanggil Arzan yang hanya di sahuti dehemam saja oleh pria itu.
"Uncle!" Kini Kia mulai dengan mode merengek nya, dia menggoyangkan lengan Arzan.
Arzan yang sedang menyetir mobil pun melirik sekilas, dia cukup heran dengan perubahan sikap Kia ini. Tiba-tiba jadi merengek seperti anak kecil, padahal dari tadi dia mengomel tak karuan.
"Kenapa, hmm?" tanya Arzan.
"Berhenti ya, please!" Kia menampilkan wajah memelas nya.
"Isshhh uncle! Aku mau ice cream, lihat toko ice cream nya di sana." Kia menunjuk toko ice cream yang dia maksud.
Astaga! Arzan melirik arloji nya, ini sudah hampir jam 6 sore. Apakah tidak apa-apa makan ice cream di jam segini? Mungkin kalau siang hari Arzan akan langsung berhenti dan membelikan nya, tapi ini sudah akan menuju malam dan udaranya pun sudah mulai terasa dingin.
"Besok saja, kita akan membeli sebanyak yang kau mau." Bujuk Arzan.
"No, uncle! Kia mau sekarang." Kia kekeh ingin ice cream itu, tapi Arzan sedikit cemas kalau Kia memakan ice cream sekarang.
__ADS_1
"Kia, kau bisa sakit. Besok saja ya, aku janji besok kita akan membeli banyak ice cream nya. Sesuai kemauan mu, mengerti?" Arzan masih berusaha membujuk gadis itu, dia juga sengaja tidak memberhentikan mobilnya.
"Ya sudah, aku beli sendiri saja. Berhenti di depan!" Mode merajuk Kia mulai lagi, gadis itu menatap sengit pada Arzan.
Helaan nafas panjang terdengar jelas dari Arzan, tidak ada pilihan Arzan mengantar Kia ke toko ice cream nya. Jelas sekali Arzan tidak akan membiarkan gadis itu membeli ice cream nya sendirian, karena jika Kia pergi sendiri maka dia akan membeli banyak dan menghabiskan nya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Arzan pun turun sebelum nya Kia sudah lebih dulu turun. Gadis itu langsung berlari masuk, melihat itu saja Arzan sudah mulai cemas. Pasti dia akan membeli banyak, bukan masalah uang nya tapi kesehatan nya yang lebih utama.
"Kia, beli sedikit saja. Kita akan membeli lagi besok jika kau mau, tapi untuk sekarang sedikit saja hmm." Ujar Arzan.
"Tapi ini semua ice cream nya enak, kalau besok tidak ada bagaimana? Kita beli sekalian saja, nanti di simpan di lemari pendingin besok bisa lanjutkan makanan nya" Sahut Kia.
Arzan tidak percaya itu akan di makan besok, pasti itu akan habis dalam waktu semalam. Bahkan mungkin hanya beberapa menit saja.
"Beli besok lagi saja, kalau perlu kita beli dengan toko nya sekalian. Tapi sekarang beli sedikit saja ya," Arzan sudah mulai kesal.
"Emang uncle mampu? Ini pasti mahal, ice cream nya ada banyak terus toko nya juga bagus. Emang uncle punya uang sebanyak itu?" Dengan polosnya Kia mengatakan itu, mungkin dia lupa Arzan menanam saham besar di kantor papa nya bahkan Arzan membelikan rumah untuk nya dan juga menanggung biaya kuliah nya tanpa sepengetahuan Kia.
"Kau ingin tahu, apa aku punya uang sebanyak itu atau tidak?" tanya Arzan, dan Kia mengangguk mantap. "Jadilah istriku, dan kau akan tahu betapa kayanya diriku."
...***...
__ADS_1
...Update!!...