
~Season 2~
...Selamat datang di season 2, ini kisah Arzan ya🤗 mungkin ada beberapa waktu dan part yang berbeda dengan Arzan di kisahnya Dean & Zivana. Jadi, nikmati kisahnya dan jangan lupa kasih dukungan kalian 🥳...
...***...
...Arzan POV...
Aku menatap pada beberapa anak yang tengah bermain di taman, itu kali pertama ibu mengajak ku keluar panti. Ibu panggilan ku untuk pengasuh ku di panti, sedangkan untuk ibu kandung ku aku tidak tahu dia dimana. Saat aku berusia 7 tahun, ibu kandung ku menitipkan ku di panti dia bilang aku di sana untuk sementara tapi ternyata dia menitipkan ku untuk selamanya. Persetan dengan kebohongan yang dilakukan oleh ibu kandung ku, aku tidak peduli lagi tentang itu.
Aku tak peduli, tapi aku sangat penasaran dengan alasan nya. Kenapa dia menitipkan ku? kenapa dia tidak menjemput ku? Kenapa dia melupakan ku? Apa dia sekarang masih hidup, atau sudah tiada?
Pertanyaan seperti itu sering muncul di pikiran ku, aku pernah berusaha untuk mencari nya tapi tidak pernah menemukan hasil. Ya, begitulah takdir mungkin aku tidak di takdir kan untuk hidup dengan keluarga kandungan ku.
Tidak ada ibu kandung atau keluarga yang kutemukan, tapi seorang sahabat yang ku temukan. Di panti aku memiliki seorang sahabat, dia gadis yang malang sama seperti ku. Namanya Gladys, gadis kecil manis dan keras kepala. Aku menyukai nya, aku selalu ingin menjadi alasan nya tersenyum bahagia.
Setelah bertemu Gladys, aku merasakan hidup ku begitu berwarna. Aku memiliki tujuan, dan tujuan ku adalah hidup bahagia bersama Gladys.
"Hey, lemparkan bolanya!" Seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran dengan ku berteriak, dia meminta ku melemparkan bola miliknya yang menggelinding kehadapan ku.
Aku diam, aku tidak suka caranya berteriak. Aku menatap ibu yang menyuruhku untuk melemparkan bola itu, dengan malas aku melemparkan bola nya.
"Payah! Apa kau tidak tahu cara melempar bola? Kau mengenai kepala ku!" Dia kembali berteriak pada ku, aku tak sengaja mengenai kepalanya.
"Maaf, maaf kan dia. Nyonya tuan, dia tidak sengaja." Ibu meminta maaf pada orang tuanya, aku menatap tak suka pada mereka. Aku tidak suka ibu membungkuk di hadapan mereka.
"Tidak apa-apa bu, namanya juga anak-anak."
"Iya, bu tidak usah minta maaf."
Aku membuang wajah ku, anak laki-laki itu malah mendatangi ku. "Hey, payah! Kau tidak tahu cara bermain bola?"
"Aku tidak payah!" sahut ku.
"Kau payah, payah!!" dia kembali mengatai ku payah, aku mendorong nya sampai dia terjatuh. Ibu dan orang tuanya memisahkan kami, sekali lagi ibu meminta maaf karena aku.
"Arzan cepat minta maaf, ibu tidak pernah mengajari kamu untuk berkelahi seperti ini."
Aku meminta maaf karena ibu, orang tuanya sangat baik berbeda dengan anak laki-laki itu. Dia terlihat sangat menyebalkan, apa lagi dia juga manja.
__ADS_1
"Maaf!" Aku mengulurkan tanganku, tapi dia menepisnya.
"Dean!" ibunya menyuruh dia untuk menerima jabatan tangan ku, aku tahu dia terpaksa menjabat tangan ku.
"Jangan di ulangi lagi." Kata dia.
"Nak, siapa nama mu?" tanya pria yang merupakan ayah anak laki-laki itu.
"Arzan Danendra,"
"Wah, nama yang indah. Dean, ayo kenalan sama Arzan nak!" titah ibunya itu.
"Dean Harrison Adytama," dengan malas dia menyebutkan namanya.
Jujur saja aku tidak menyukai sifat nya, dia terlalu angkuh menurut ku. Aku berusia 12 tahun kala bertemu Dean untuk pertama kalinya, dia dan aku seperti rival di awal pertemuan kami.
Keesokan harinya dia dan orang tuanya datang ke pantai kami, aku kembali terlibat perkelahian dengan nya. Dia sangat angkuh, aku sungguh tidak menyukai sifat nya itu. Aku memukulnya, dia pun melakukan hal yang sama. Itu kali pertama aku di marahi ibu, dan itu kali pertama aku memukul seseorang.
"Apa ini yang ibu ajarkan pada mu? Apa ibu mengajari mu cara berkelahi?"
"Maaf, bu. Arzan kesal padanya," Aku tak berani menatap ibu.
Aku berlari keluar dari sana, aku duduk di halte pinggir jalan. Tiba-tiba anak laki-laki itu menghampiri ku, dia memberiku permen cokelat. "Ambil payah, aku membeli nya dengan uang."
"Semua orang membeli permen dengan uang, apa kau berniat pamer pada ku?"
Dia tertawa, Dean sialan itu duduk di samping ku. "Aku tidak menyukai mu, tapi saat melihat kau di marahi aku menjadi tidak tega."
"Aku juga tidak menyukai mu, dan karena kau aku di marahi ibu untuk pertama kalinya."
Dean diam untuk sesaat, aku pun tak mau berbicara dengan nya lagi. Dia tiba-tiba saja mengulurkan tangannya. "Lupakan itu, ayo menjadi teman ku."
"Tidak mau!" Aku benar-benar tidak ingin memiliki teman seperti nya, dia sangat menyebalkan.
"Hey, kau mau di marahi ibu lagi? Ibu tidak akan memarahi mu lagi, kalau kau mau menjadi teman ku."
Perkataan Dean itu membuat ku berpikir keras, apakah benar ibu tidak akan memarahi ku lagi kalau aku mau menjadi teman nya?
"Kau yakin?" Aku merasa tidak yakin, tapi dia mengangguk kan kepalanya. Dengan ragu aku pun menerima tawaran nya, aku dan dia berteman sejak saat itu.
__ADS_1
Kami tidak lagi berkelahi, aku dan Dean mulai bermain bersama. Di awal pertemanan kami aku sering di buat kesal oleh nya, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa dan lebih sabar menghadapi nya.
Dean meminta orang tuanya agar aku dan dia sekolah di sekolah yang sama, aku dan dia belajar di sekolah yang sama. Kami bersama dari SMP sampai kami SMA, saat itu aku memutuskan untuk tinggal sendiri tidak lagi tinggal di panti. Saat lulus SMA, orang tua Dean mengirim nya kuliah di luar negeri termasuk aku. Aku dan Dean kuliah di London, setelah selesai dengan pendidikan kami kembali ke Indonesia.
Dean di angkat menjadi direktur di perusahaan papa nya, dan aku menjadi sekertaris nya. Aku merasa aku sudah mampu hidup dan menghidupi Gladys sekarang, aku pun membawa nya bersama ku. Aku tinggal di apartemen yang di hadiahkan oleh orang tua Dean, dan Gladys tinggal di kontrakan yang dulu aku tempati.
Bertahun-tahun aku menanggung semua biaya hidup dan sekolah Gladys, aku mengatur semua keperluan nya. Pendidikan Gladys pun menjadi prioritas ku, dia melanjutkan kuliahnya di kampus ternama. Sampai pada dimana Gladys merasa muak dengan ku, dia merasa aku terlalu ikut campur urusan nya.
Aku pikir Gladys sama seperti ku, tapi ternyata berbeda. Dia merasa aku terlalu mengekang nya, dia menganggap ku sebagai seorang kakak berbeda dengan ku yang memiliki perasaan lebih padanya.
"Tanda tangani ini, kau wali ku kan? Aku akan ikut program pertukaran mahasiswa ke luar negeri."
Aku meremas berkas nya, dia membuat sebuah keputusan tanpa bertanya dulu pada ku. "Apa kau tidak tahu cara berterima kasih? Setidaknya tanyakan pendapat ku lebih dulu."
"Tanda tangani ini, dan semua akan selesai. Aku tahu aku merepotkan mu, sebab itu aku akan pergi dan mulai hidup sendiri."
"Kau akan hidup sendiri? Apa kau yakin?" Aku menatap tak percaya padanya, dia sungguh ingin pergi.
"Aku tidak yakin tapi akan aku coba, aku merasa sesak jika terus seperti ini. Kau mengatur semua urusan ku, aku tau kau peduli pada ku. Tapi, apakah kau pernah berpikir apakah aku merasa nyaman dengan itu semua?"
Perkataan Gladys membuat ku diam sesaat, tanpa sadar aku membuat nya merasa terkekang. Tapi, itu semua karena aku tidak ingin dia pergi. Aku sangat menyukai nya, dan aku tidak ingin Gladys pergi apa lagi bahagia bersama orang lain.
"Aku menyukai mu, itu sebabnya aku melakukan ini semua!"
"Aku menganggap mu seperti seorang kakak, dan kau? Kau menganggap lebih dari itu?"
Aku diam, aku tidak menyangka Gladys marah karena aku menyukai nya. Aku pikir ketika aku jujur dia akan mengerti aku, ternyata aku salah. Aku kecewa padanya, dan aku tahu Gladys pun kecewa pada ku. Aku pergi dari sana setelah bertengkar dengan Gladys, satu minggu berlalu aku tak lagi menemui Gladys.
Sampai dimana aku merasa harus meminta maaf padanya, aku pun datang ke kontrakan Gladys. Aku pikir dia tidak akan pergi sebelum aku menandatangani dokumen itu, tapi lagi lagi aku salah dia benar-benar pergi tanpa izin dari ku. Gladys memang keras kepala, tapi aku tidak menyangka dia akan melakukan ini padaku.
Aku merasa dunia ku hancur, semangat ku hilang tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah kisah ku dengan Gladys, sebuah kisah yang berjalan lama dengan perasaan berbeda. Aku tidak tahu, apakah aku bisa melupakan dia atau aku akan terus hidup bersama kenangan nya? Waktu akan menjawab semuanya.
...Arzan POV end...
...***...
...Hallo, guys! Kisahnya Arzan akan di mulai, siapkan kesabaran kalian untuk menunggu part² selanjutnya🥳...
...Jangan lupa kasih dukungan nya🙏...
__ADS_1
Bantu Like, komen sebanyak² nya dan kasih hadiah nya guys🙏🙈🤣 gak maksa Vote tapi bisa kan kasih bunga nya wkwk😂