Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 20


__ADS_3

***


2 minggu berlalu.....


"Om, nanti datang ke acara pelulusan Ziva kan?" tanya Zivana dengan mulut yang penuh dengan ice cream.


"Akan aku usahakan." Sahut Dean.


Keduanya tengah berada di salah satu mall di kota itu, Zivana mengajak Dean untuk berbelanja. Gadis itu mencari pakaian untuk acara prom night, besok adalah acara kelulusan nya.


Oh, yah! Nilai Zivana tidak sesempurna yang Dean minta, tapi gadis itu berhasil lulus sekolah.


Zivana masih asik mencari pakaian yang menurut nya pas, gadis itu juga tak henti hentinya memakan ice cream nya. Dean pun dengan sabar terus mengikuti gadis itu, meski terkadang merasa jengah dengan tingkah laku Zivana.


"Aku harus ke kantor, hubungi aku jika sudah selesai." Dean tiba-tiba saja hendak pergi, Zivana menahan tangan nya.


"Ikut," rengek Zivana sambil menahan tangan Dean. "Bajunya nanti nitip mama aja di butik, Ziva mau ikut om ke kantor."


Dean menghela nafasnya, apakah waktu 2 jam tidak cukup untuk memilih pakaian yang pas?


"Om, Ziva ikut ya?" Zivana menggoyang kan lengan Dean seperti anak kecil.


"Iya." Hanya itu kata yang Dean keluarkan, mereka pun keluar dari mall.


Percayalah dalam hati Dean mengumpati gadis ini, waktu 2 jam Dean terbuang sia-sia. Jika di pikir-pikir untuk apa juga Dean mau mengantar gadis ini, sungguh Dean merasa dirinya bodoh kali ini.


Mobil yang mereka tumpangi pun sampai di kantor Dean, sebenarnya tidak ada pekerjaan yang terlalu penting. Arzan pun bisa menyelesaikan nya, hanya saja Dean sudah lelah mengikuti Zivana di mall.


Keduanya masuk ke ruangan Dean, sepanjang perjalanan menuju ruangan tangan Zivana terus melingkar cantik pada lengan Dean. Para staf di sana sudah biasa melihat hal itu, banyak dari mereka yang iri. Tapi, ada juga yang menyukai couple beda usia yang satu ini.


"Tuan, Nona. Silahkan." Arzan membukakan pintu ruangan untuk keduanya.


"Tuan, tadi tuan Alderic datang kemari. Dia membicarakan terkait kontrak kerja sama dengan perusahaan kita." Tutur Arzan saat Dean sudah duduk di kursinya.


"Ada apa? Bukankah kerja sama nya sudah di sepakati?" tanya Dean heran.


Arzan terlihat menimang-nimang sesuatu, dia melihat pada Zivana yang kini duduk di sopa. Gadis itu terlihat santai sambil memainkan ponselnya, tapi Arzan yakin dia menyimak pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Bicara saja, gadis itu tidak akan membuka mulutnya pada orang luar." Kata Dean yang mengerti dengan eskpresi Arzan.


Arzan mengangguk, dia mulai menjelaskan. "Tuan Alderic mencari nona Adeeva. Dia tahu tuan mantan suaminya, terakhir kali mereka bersama di pesta tuan Bian waktu itu."


Dean menautkan kedua alisnya bingung. "Kenapa mencari kemari?"


"Nona Adeeva menghilang setelah acara pesta malam itu. Staf di sana mengatakan nona Adeeva beristirahat di salah satu kamar, tapi dia tidak ada di sana. Malam itu kau juga istirahat di salah satu kamar di sana bukan? mungkin itu alasan Alderic datang kemari." Jelas Arzan.


Dean mengangguk mengerti, pria itu melirik pada gadis yang kini sedang duduk sambil bermain ponsel. "Apakah malam itu ada orang selain kita berdua?" tanya Dean pada Zivana.


Zivana yang memang menyimak pembicaraan keduanya pun langsung menggeleng kan kepalanya. Malam itu hanya ada dia dan Dean di kamar, tapi tidak tahu di kamar yang lainnya.


"Coba suruh Alderic untuk bertanya pada Bian. Wanita itu bekerja di tempat Bian, bukan?" ujar Dean.


Tapi omong-omong beberapa waktu belakangan ini, Bian tak lagi datang menemui nya. Entah kemana bapak satu anak itu, biasanya selalu datang untuk urusan yang bahkan tidak penting sekali pun.


Tak mau ambil pusing, lagi pula Adeeva bukan lagi urusan Dean. Arzan pun pamit undur diri, lebih baik dia melanjutkan pekerjaannya daripada bingung menerka-nerka keberadaan Adeeva.


"Om, Ziva mau tanya sesuatu sama om. Boleh?" kata Zivana tiba-tiba setelah Arzan keluar.


Zivana menghampiri Dean, gadis itu berdiri di samping. "Om, beneran tidak tau dimana mantan istri om sekarang ini?"


"Tidak." Tegas Dean.


Zivana menatap penuh selidik. "Om serius kan? Gak lagi bohongin Ziva kan?"


"Tidak Zivana, untuk apa aku berbohong. Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apapun lagi." Terang Dean.


Zivana mengangguk mengerti, gadis itu sangat penasaran pergi kemana saingan nya itu. Semoga saja pergi ke tempat yang jauh, dan tidak akan pernah kembali lagi.


***


Pagi sekali Zivana sudah bersiap, kali ini mama Zivana memanggil MUA ke rumah hanya untuk merias Zivana. Ini hari istimewa bagi Zivana, jadi semuanya harus terlihat sempurna. Zivana dengan kebaya yang dia pilih di salah satu butik milik teman mama nya terlihat sangat cantik. Tanpa make up saja cantik, apa lagi nanti setelah di make up. Gadis ini benar-benar mewarisi kecantikan mama nya.


"Sudah cantik, apa perlu di make up?" goda MUA yang akan merias Zivana.


"Tante bisa aja, Ziva perlu di poles tan. Masa iya mau dekil kaya gini." Sahut Zivana.

__ADS_1


Butuh beberapa menit untuk merias wajah gadis itu, dan hasilnya sangat memuaskan. Zivana yang memang sudah cantik, terlihat sangat cantik setelah di tambah make up. Tak terlalu tebal karena memang Zivana tak suka make up tebal, tapi bisa membuat siapapun tak akan berpaling.



"Anak mama cantik banget." Mama Zivana begitu terkagum-kagum melihat putri nya.


"Aku cantik kan memang keturunan mama."


Wajah mereka berdua memang cantik, bahkan mama Zivana selalu terlihat lebih muda dari usianya. Tapi, meski memiliki kecantikan yang menawan keduanya tak terlalu memiliki wajah yang mirip. Mereka cantik dengan cri khas wajah masing masing, hanya bagian bibir dan hidung gadis itu mirip papa nya.


"Sudah ayo, nanti kita terlambat." Keduanya keluar dari kamar dengan beriringan.


Di depan sudah ada papa Zivana dan mobil yang siap berangkat, di bandingkan dengan Zivana orang tuanya lah yang jauh lebih bahagia.


"Anak papa, cantik banget. Papa sampai pangling." Puji papa Zivana dengan kekaguman nya.


"Kan anak papa sama mama sudah pasti cantik. Iya kan ma?" Zivana menatap sang mama yang tersenyum manis padanya.


"Betul sayang. Kamu cantik karena kamu anak mama," entah karena hari ini momen istimewa atau apa, tiba-tiba saja mama Zivana sedikit melow.


Mata wanita itu berkaca-kaca, dia menatap lekat wajah cantik Zivana. Gadis ini sangat-sangat cantik, apa lagi mata nya yang indah dengan bulu mata lentik. Zivana seperti satu-satunya gadis cantik di dunia ini, Resa mama nya Zivana tak henti hentinya memuji kecantikan yang di miliki putri nya itu.


'Kamu cantik sayang, cantik sekali. Kalian berdua sangat mirip.' Batinnya.


...***...


...TBC...


Hallo!!! Masih ada yang nunggu gak nih?


...Maaf baru up 🙏...


Meski jarang up, tapi cerita tetep lanjut. Buat kalian yang memang ngerasa males baca karena lama up gak apa-apa, di tabung aja guys✌️ nanti bacanya pas udah end 😌


...Banyak-banyak sabar ya🙏 ...


See You Next Part ✨

__ADS_1


__ADS_2