
***
Awalnya suasana kantor Dean terlihat tenang, bahkan lebih tenang dari beberapa hari lalu pasalnya Dean sudah kembali masuk kerja. Tapi, tiba-tiba saja terjadi keributan karena ulah seseorang. Tepatnya keributan itu terjadi di meja resepsionis kantor.
"Pak maaf, anda tidak bisa menemui tuan Dean sebelum membuat janji." Kata wanita yang bekerja sebagai resepsionis di sana. Sejak tadi dia mengatakan itu.
"Hey! Ayolah kau tidak tahu siapa aku? Aku teman nya." Sahut orang yang ingin menerobos masuk.
"Maaf pak, tapi saya tidak bisa membiarkan bapak masuk. Tolong kerja sama nya, saya bisa kehilangan pekerjaan saya." Kata resepsionis itu lagi.
"Coba kau hubungi bos mu itu, atau telpon saja Arzan suruh dia kemari. Kau lihat nanti, dia pasti akan mengizinkan aku masuk."
Resepsionis itu tampak berpikir sebentar, masalahnya sekarang Dean sedang rapat. Sebelumnya Arzan juga sudah meminta pada resepsionis itu untuk tidak membiarkan masuk seseorang tanpa membuat janji.
"Kenapa diam? Cepat beritahu Arzan, suruh dia kemari." Kata Bian lagi yang sudah sangat kesal.
Iya, orang yang ingin menerobos masuk itu Bian. Biasanya pria itu bebas keluar masuk, tapi hari ini dia tidak masuk. Selain dia yang datang dengan pakaian serba hitam, lalu topi dan masker yang menutupi wajahnya resepsionis yang bekerja pun orang baru. Dia baru bekerja satu minggu lalu, dan tentu saja tidak tahu dengan Bian.
"Pak maaf, saya mohon pergi lah. Saya baru bekerja disini, jangan membuat saya kehilangan pekerjaan yang baru seminggu ini." Kata resepsionis itu.
"Ohh! jadi kau orang baru?" Bian mengangguk anggukkan kepalanya, pantas saja pikir Bian. "Sudah biarkan aku masuk, aku jamin Dean tidak akan memecat mu. Jika dia memecat mu, kau bisa bekerja di tempat ku." Terang Bian.
"Bekerja di tempat mu? Jadi wanita malam begitu maksudnya?" Arzan tiba-tiba saja ikut menimbrung, pria itu berdiri sambil memasukan satu tangan kedalam saku celananya.
Bian langsung menatap pada pria cool yang satu ini, wajah nya tampak menyebalkan menurut Bian. Apa lagi Arzan tersenyum miring padanya. "Hallo! pak Arzan, darimana saja kau wahai pria menyebalkan? Kau tahu, resepsionis ini membuat tekanan darah ku naik. Dia benar-benar menyebalkan seperti dirimu!" cerocos Bian sambil masuk melewati Arzan.
Baru saja resepsionis itu akan menghentikan Bian, tapi Arzan menyuruhnya untuk diam. Pria itu memberikan isyarat agar dia membiarkan Bian masuk. "Dia orang gila yang di angkat menjadi sahabat tuan Dean," ujar Arzan sebelum mengikuti langkah Bian.
"Arzan! aku mendengar mu sialan!!" seru Bian yang ternyata mendengar perkataan Arzan.
"Aku tidak mengatakan kau gila brother, itu mulutku yang berbicara." Sahut Arzan.
Resepsionis itu hanya menatap cengo kedua pria yang berlalu dari sana, dia tidak mengerti apa yang terjadi tapi syukurlah dia tidak mendapatkan masalah karena itu. "Mau gila, ataupun waras aku tidak peduli. Yang terpenting aku aman." Monolog nya.
__ADS_1
****
"Om, maafin Ziva. Janji Ziva gak bohong lagi, nanti kalau Ziva bohong lagi om bisa hukum Ziva. Maafin ya!" Zivana mengatupkan kedua tangan nya, tak lupa juga gadis itu menunjukan wajah memohon nya.
Haiss! Wajah Zivana itu membuat Dean tak tega melihat nya, rasanya Dean ingin memeluk dan menguyel-unyel pipi nya. Tapi, tidak untuk saat ini dia harus menahan dirinya. Dean mau Zivana menyesal karena telah berbohong, dan tentunya agar gadis itu tak mengulangi nya lagi.
"Om, Ziva mohon!" kembali Zivana menampakkan wajah memelas nya, bahkan kali ini matanya mulai berkaca-kaca.
Dean yang tadi sedang duduk dengan wajah datarnya, kini berubah menjadi sedikit panik. Dia pastikan sebentar lagi gadis itu akan menangis, buru-buru Dean berdiri dan menghampiri Zivana.
"Jangan menangis, atau tidak akan pernah aku maafkan." Kata Dean sambil menyodorkan kotak tisu.
Mata Zivana langsung berbinar mendengar ucapan Dean, gadis itu juga langsung berhamburan memeluk Dean. Tak peduli dengan kotak tisu yang di pegang Dean, bahkan kotak tisu itu terjatuh kelantai.
"Aaahhh!!! Ziva seneng banget, om beneran kan udah maafin Ziva?" girangnya.
Dean berdehem singkat, jujur saja dia juga rindu momen-momen seperti ini dengan Zivana hanya saja kejadian kemarin membuat nya sedikit marah. Melihat usaha, dan juga mencoba untuk mengerti keadaan Zivana akhirnya Dean memilih untuk melupakan itu.
Pelukan itu semakin erat karena Dean semakin mengeratkan nya, bahkan pria itu membuat tubuh mungil Zivana terasa remuk. Tapi, karena Zivana yang kegirangan gadis itu malah melompat tanpa di duga. Tentu saja karena aksinya kepal dia mengenai dagu Dean, bisa di bayangkan sakit nya seperti apa bahkan Dean sampai meringis kesakitan. Sedangkan Zivana merasakan pusing di kepalanya, pelukan mereka terlepas karena kejadian itu.
"Kenapa melompat seperti anak kecil? lihat, gigi ku hampir ikut melompat juga. Astaga! ini sakit sekali." Pria itu malah mengomel, Zivana yang mendengar itu pun langsung memeriksa gigi Dean.
"Mana om? mana gigi om yang lompat?" tanya Zivana yang terdengar begitu konyol.
Dean menyentil pelan dahinya, akhir-akhir ini Zivana sering bertingkah konyol menurut Dean. Tapi, tunggu! Dia bisa memanfaatkan ini bukan? setelah di buat kesal beberapa hari lalu, dan sekarang dibuat kesakitan sudah semestinya Zivana membayar mahal untuk semua itu.
"Awww!! Sakit, ini sakit sekali!" Dean meringis kesakitan saat Zivana menyentuh dagunya, pria itu terlihat begitu menyakinkan.
"Aduhh!! Om maaf, gak di teken kok. Ziva cuma nyentuh doang." Kata Zivana sambil ikut ngilu mendengar Dean mengaduh kesakitan.
"Jangan di sentuh, ini sakit. Awwwss!" akting Dean memang patut di acungi jempol, pria itu menarik tangan Zivana lalu merangkul pinggang nya. "Kasih kiss di sini, mungkin sakit nya akan berkurang." Dean menunjuk bibir nya.
Zivana melotot sempurna, gadis itu baru sadar telah di bohongi Dean. "Gak mau! cium aja sana sama Sumi," kesal Zivana.
__ADS_1
"Sumi? siapa Sumi?" tanya Dean.
"Itu waria pemilik laundry dekat kontrakan Ziva," jawab Zivana.
Wajah Dean seketika berubah datar, dia melepaskan tangan nya dari pinggang Zivana. Kali ini dia benar-benar kesal, masa iya dia di suruh ciuman dengan Sumi. Zivana yang sadar jika Dean merajuk pun langsung membujuk nya, gadis itu melingkarkan tangannya di leher Dean.
"Ziva bercanda om," gadis itu tersenyum manis sambil mengusap-usap rahang Dean.
"Mau di cium dimana? Disini, disini, atau disini?" Zivana menunjuk pipi kanan, pipi kiri dan terakhir bibir nya.
Terlanjur bad mood Dean menjadi tak bersemangat. "Terserah!"
Cup! Zivana mencium pipi kiri Dean. Cup! kini pipi kanan Dean yang gadis itu cium. Cup! terakhir Zivana mengecup bibir nya, saat dia menjauhkan wajahnya Dean malah menarik tengkuk gadis itu. Kecupan nya berubah menjadi sebuah ciuman yang dalam, saling ******* dan mengisap.
Sementara itu di ambang pintu, langsung menutup mata mereka dan menutup pintu nya kembali. Arzan dan Bian membalikan badan mereka, keduanya menghembuskan nafas lega karena tidak ketahuan mengintip. Sebenarnya tak ada niat mereka untuk mengintip, hanya saja saat mereka membuka pintu adegan kissing itu sedang berlangsung.
"Ar, kata resepsionis itu Dean sedang rapat penting. Kenapa sekarang malah sedang mukbang bibir?" tanya Bian sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Itu rapat nya, rapat penting nya." Sahut Arzan yang juga ikut bersandar.
"Aku jadi merindukan istri ku. Aku akan pulang saja kalau begitu," kata Bian tiba-tiba langsung berdiri tegap.
Arzan ikut berdiri tegap juga, pria itu menatap heran Bian. "Tujuan mu datang kesini apa? kenapa sekarang malah akan pulang?"
"Ada hal penting, tapi aku akan datang besok. Sekarang aku harus pulang, aku tidak bisa hanya melihat tanpa melakukan nya. Apa lagi aku bisa melakukan hal lebih dari itu." Jawab Bian dan langsung berlalu dari sana.
"Ar! ada gadis baru, jika mau kau bisa mendapatkan nya." Seru Bian sebelum masuk kedalam lift.
Arzan lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya, ternyata Bian masih belum berubah. Otak liar nya masih sama, padahal Arzan pikir dia sudah berubah karena akhir- akhir ini Bian sibuk dengan beberapa pekerjaan sosial nya.
"Atasan ku sedang rapat, lalu dia pulang untuk rapat juga. Aku? Aku akan rapat juga, bersama staf marketing." Arzan terkekeh geli mengingat agenda rapat hari ini yang begitu beragam. Hanya dia yang rapat untuk uang, yang lain nya rapat untuk peluang.
...****************...
__ADS_1
...Hallo, Up nih!...
Kasian Arzan ya, nanti deh kamu juga ada peluang nyaðŸ¤ðŸ˜‚