Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 52


__ADS_3

***


Zivana menggerutu kesal, pasalnya seluruh badan dia terasa sakit semua. Memang tidak kasar Dean memperlakukan nya, tapi kalau lebih dari satu kali tetap saja badan nya terasa remuk. Tadi pagi-pagi sekali mereka sudah mengulang kejadian semalam, pagi Zivana di awali dengan gempuran Dean.


Tapi, pria itu bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan santainya dia pergi ke kantor, meninggalkan Zivana di apartemen sendirian. Padahal gadis itu tidak bisa kemana-mana sekarang, selain karena dia belum berani badannya yang terasa sakit itu juga menjadi penyebab nya.


Zivana membuka ponselnya, dia menonton drama kesukaan nya menggunakan ponsel. Sebenarnya ada laptop tapi dia lupa menaruh nya dimana, mencoba menikmati waktu sendiri nya di apartemen Zivana membawa banyak camilan sambil menonton.


"Bosan banget." Keluhnya.


Dia melihat jam di dinding yang baru menunjukkan pukul 1 siang, Dean akan pulang pukul 5 sore rasanya masih begitu lama. Zivana bangkit dari duduknya, dia berdiri di balkon apartemen. Menatap pada keramaian di bawah sana, jalanan hari ini terlihat padat lancar.


"Ke kantor om Dean jauh gak ya? Hmm, tapi kata om Dean kantor nya dekat ko. Ke sana aja kali ya?" Zivana akhirnya memutuskan untuk datang ke kantor Dean, dia pun segera bersiap-siap.


Zivana menggunakan angkutan umum menuju kantor Dean, sebenarnya dia sedikit takut tapi dia bosan di apartemen. Dia juga ingin tahu lingkungan sekitar, dan Zivana juga harus terbiasa pergi sendiri untuk ke kampus takut-takut Dean sibuk.


Menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Zivana sampai di kantor Dean. Itu kantor cabang Dean di London, ada orang kepercayaan Dean yang biasa mengurus kerjaan di sini. Zivana sempat tertegun untuk sesaat, kantor cabang Dean sangat besar. Pria itu benar-benar pengusaha sukses yang sesungguhnya, Zivana merasa sangat bangga padanya.


"Suami Ziva emang the best!" Zivana terkekeh sendiri.


Saat Zivana akan masuk ke lingkungan kantor, tiba-tiba saja dua orang petugas keamanan mendatangi nya. Mereka menahan Zivana untuk masuk, seperti nya mereka belum tahu siapa Zivana. Tapi, itu wajar sih ini juga kali pertama Zivana kemari.


"Nona, sorry you can't come in." Ucap salah satu petugas itu, dia menghalangi Zivana untuk masuk.


"I want to meet my husband!" Zivana berusaha menerobos masuk, tapi mereka menahan nya lagi.

__ADS_1


Kedua petugas keamanan itu tidak bisa mengambil resiko, mereka tidak bisa membiarkan orang asing masuk ke kantor kalau tidak ada keperluan apapun. Biasanya para klien yang akan menemui Dean memiliki surat resmi undangan datang ke kantor, setelah menunjukkan itu barulah mereka bisa masuk. Itulah peraturan keamanan di sini.


"If that's the case, just call your husband to meet you outside the office." Ucap petugas keamanan satunya lagi.


Zivana terlihat menghela nafas nya panjang, kemudian dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Dean. Lama tak kunjung ada jawaban, Zivana merasa kesal sendiri. Dia berkali-kali mencoba menelpon pria itu, tapi hasilnya tetap sama Dean tidak menjawab.


"Nona, please leave this place." Kembali petugas keamanan itu bersuara, dia meminta Zivana untuk pergi dari sana.


"Heh, tunggu sebentar ya! Kalian tidak tahu aku, aku istri bos kalian!" Zivana menjadi kesal, dia sengaja menggunakan bahasa Indonesia supaya mereka tak paham perkataan nya.


Keduanya tampak melempar pandangan satu sama lain, mereka tidak paham apa yang Zivana katakan.


"Kenapa kalian tidak mengerti kan?! Sudahlah tidak perlu mengerti perkataan ku, biarkan aku masuk saja." Zivana menerobos masuk dengan berlari, itu membuat dua petugas keamanan itu berlari juga mengejar Zivana.


"Lepasin! Apa sih pegang-pegang? Aku adukan kalian pada suami ku, biar kalian tahu rasa." Zivana berusaha untuk terus menerobos masuk, padahal dia dan resepsionis itu adalah lawan yang tidak seimbang.


Zivana kalah tenaga oleh resepsionis itu, dia ditarik pakasa untuk keluar. Sebisa mungkin Zivana meronta dan mencoba mempertahan kan posisi, dia berjanji akan memberikan pelajaran setimpal resepsionis yang satu ini nanti. Sekarang dia harus menemui Dean terlebih dahulu.


Bukan Zivana namanya jika tidak bisa melawan, dia menggigit tangan resepsionis itu dan berlari masuk. Dia melihat seperti ada papan pemberitahuan tentang ruangan yang ada di kantor itu, dia melihat lantai ruangan Dean ada di lantai paling atas.


"Stop!!" resepsionis itu berlari mengejar Zivana, tapi dia tidak akan mampu menangkap orang selincah Zivana.


Zivana berlari kearah lift, perempuan itu menekan tombol lift. Dia terus menekan tanpa sabar, kali ini kemampuan berlari nya berguna.


"Nona, stop!!" Zivana menjadi panik saat resepsionis itu semakin dekat, dia kembali menekan tombol lift tanpa jeda.

__ADS_1


Ting!


Pintu lift terbuka, Zivana yang hendak masuk itu terpeleset dan jatuh. Itu akibat dia yang terburu-buru takut tertangkap resepsionis, Zivana meringis sambil mengumpat kesal.


"Awww!! Sialan! Pake jatuh segala, sakit banget!!" Zivana melihat resepsionis yang mengejar nya berhenti tak jauh dari tempat nya sekarang, dia terlihat memberikan hormat pada seseorang. Zivana penasaran pun menoleh ke arah resepsionis itu memandang, ternyata di lift itu ada orang.


"Mas," beonya.


Dua orang yang berada di lift itu adalah Arzan dan Dean, keduanya begitu terkejut melihat Zivana di sana di tambah gadis itu seperti sedang di kejar-kejar.


Melihat Zivana yang kesusahan untuk berdiri, Dean pun membantu nya. Zivana berdiri dengan bantuan Dean, dengan tangan satunya yang terus memegangi pinggang. Sepertinya dia mengalami encok sekarang.


"Sayang, kenapa bisa disini?" tanya Dean. "Kenapa juga lari-lari seperti itu, lihat terpeleset kan."


"Tuh, gara-gara mbak resepsionis yang ngejar Ziva. Mereka gak ngizinin Ziva masuk, jadi Ziva terobos aja. Ehh, malah di kejar-kejar."


Layaknya anak kecil, Zivana langsung mengadukan semuanya pada Dean. Zivana menampilkan wajah kesalnya, dia juga menatap tajam pada resepsionis itu. Sementara itu yang tadi mengejar Zivana merasa tercengang melihat Zivana sangat dekat dengan Dean.


"Om, Ziva gak suka mereka."


"Kalian saya pecat!" tegas Dean dalam bahasa Inggris.


...***...


...Up!Up!Up!...

__ADS_1


__ADS_2