
***
Hari cepat berlalu, tak terasa sudah satu bulan kepergian Arzan ke luar negeri. Selama sebulan terakhir ini Kia bekerja di sebuah perusahaan, Kia juga melanjutkan studi nya. Gadis itu sengaja menyibukkan diri, dia tidak ingin terlalu berlarut-larut dalam kesedihan karena patah hati cinta pertamanya.
Kia akan bekerja sampai sore, lalu di malam harinya dia akan menjaga toko milik mama nya. Seakan tak kenal lelah, setiap hari Kia melakukan itu. Kadang dia tidak pulang, dan akan tidur di toko. Bohong kalau Kia selama ini tidak pernah merindukan sosok Arzan, pada kenyataannya hampir tiap malam Kia merindukan pria itu. Padahal dalam satu bulan ini tak ada kabar apapun tentang Arzan, tapi Kia tetap berharap suatu saat nanti Arzan akan memberi kabar padanya.
"Apa yang kau lakukan di sana? Kau benar-benar melupakan ku uncle," Kia menatap pada wallpaper ponsel nya, di sana ada foto dirinya dan Arzan.
Foto itu dia ambil saat mereka baru pindah ke rumah baru Kia, sebenarnya Arzan tidak tahu Kia memotret nya. Sengaja di ambil diam-diam karena Kita tahu Arzan tidak akan menyukai nya, disana Kia tersenyum lebar dengan Arzan yang fokus pada ponselnya.
Sebuah potret yang indah dan sangat lucu menurut Kia, tapi kenyataan yang ada berbanding terbalik dengan foto itu.
"Bisakah beri aku pesan? Atau setidaknya posting sesuatu di akun media sosial mu." Terakhir kali Arzan memposting foto dirinya saat pernikahan Zivana dan Dean, foto saat dirinya meminum sebuah jus.
"Aku merindukan mu uncle Spiderman,"
Lama Kia menatap layar ponselnya, sampai kehadiran seorang pelanggan toko mengejutkan dirinya. "Mbak!"
Kia terlonjak kaget. "Ehh, iya kenapa?"
Ziko si pemuda tampan nan alim, pelanggan toko mama Zivana. Pemuda itu sedang melanjutkan studinya, dan kebetulan kos-kosan tempatnya tak jauh dari toko.
"Saya mau bayar belanjaan nya mbak," Ziko meletakan beberapa barang yang akan dia beli di meja kasir, Kia menghitung semua yang harus Ziko bayar.
"Semuanya 50 ribu mas, ada lagi?" kata Kia.
"Tidak mbak itu saja." Ziko membayar nya, pemuda itu sesekali mencuri pandang pada Kia.
__ADS_1
"Makasih mas,"
Ziko mengambil kresek belanjanya, dia menatap Kia sekali lagi. Dengan memberanikan dirinya Ziko bertanya pada Kia sebelum keluar dari toko.
"Mbak, maaf sebelumnya tapi boleh saya mengatakan sesuatu?" Ziko memang pemuda sopan dan alim, dia juga seorang ustadz muda.
"Iya mas, boleh." Kia si gadis yang selalu wellcome pada siapapun, tidak sulit bagi Kia untuk beradaptasi dengan orang baru, bahkan pemuda seperti Ziko.
"Maaf mbak saya sering sekali melihat mbak melamun, saya juga pernah melihat mbak menangis di sini. Jika mbak memiliki masalah, cobalah curahkan semuanya pada Allah swt. saya tidak tahu masalah apa yang mbak hadapi saat ini, tapi saya percaya rencana Allah jauh lebih baik. Saran dari saya lebih dekatkan diri pada-Nya, perbanyak baca sholawat juga. Saya yakin mbak akan merasa lebih tenang setelah melakukan nya."
Penyampaian Ziko begitu jelas dan juga sopan, cara Ziko mengatakan nya pun terdengar begitu lembut. Pemuda yang baru sebulan di kenal oleh Kia itu mampu membuat Kia merasa damai hanya dengan mendengar nya berbicara, setiap kata yang terucap terdengar begitu menenangkan.
"Mas, Kia boleh jujur gak?" tanya Kia, Ziko mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. "Kata-kata mas membuat hati Kia tenang banget, rasanya tuh adem banget."
Ziko tertawa kecil mendengar nya, ustadz muda itu terlihat jauh lebih tampan sekarang. "Syukur kalau kamu merasa seperti itu, lain kali saya akan lebih sering memberikan saran yang bisa memotivasi kamu untuk lebih tangguh lagi."
"Aduhh, makasih loh mas, tapi kalau boleh jujur ya aga aneh ya di panggil 'kamu' sama mas Ziko. Hehehe..."
"Kenapa, tidak boleh ya?"
Kia langsung menggelengkan kepalanya, bukan itu maksud Kia. Dia hanya merasa sedikit aneh, sebab baru kali ini Ziko memanggil nya seperti itu.
"Bukan mas, bukan seperti itu. Kalau mas mau manggil gitu Kia gak apa-apa ko, beneran!" Kia terdengar sedikit panik.
Sontak saja Ziko tergelak melihat Kia yang jadi panik itu, saat Ziko tertawa gigi gingsul nya terlihat dan itu seakan menambah pesona seorang Ziko. Ustadz muda dengan ketampanan paripurna, semakin paripurna lagi dengan gingsul nya.
"Mas ko ketawa sih? Ishhh! Mas Ziko nyebelin ternyata." Kia sedikit merajuk.
__ADS_1
"Kamu lucu, jadi saya tertawa." Kata Ziko. "Saya rasa ini sudah terlalu lama untuk seorang pria dan wanita yang bukan mahram nya berbicara berdua saja, kalau gitu saya permisi dulu." Pamit Ziko.
"Baru nyadar mas? Ya udah sana pulang, Kia juga mau tutup toko." Kia masih dengan mode merajuk nya, entah kenapa di mata Ziko gadis itu terlihat sangat lucu sekarang ini.
"Hahaha... Iya judes, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...!" Kia semakin kesal mendengar perkataan Ziko itu.
"Yang ikhlas jawab salam nya!" seru Ziko sambil berlalu dari sana.
"Waalaikumsalam mas Ziko," Kia mengulang pengucapan nya, gadis itu baru tahu ternyata Ziko juga bisa semenyebalkan itu.
Sementara itu Ziko yang tahu Kia kesal karena ulahnya merasa puas sendiri, dia suka Kia dengan mode judesnya. Sangat menggemaskan!
...***...
Aduhhh mas Ziko guys😚 Udah ganteng paripurna, ustadz muda, sopan, lemah lembut dan paling penting spek imam idaman 😭
Jadi guys, mau Arzan aja atau oleng ke mas Ziko?😭
...Komen banyak-banyak!!!...
Like jangan lupa guys!
...Ayo banyakin komen, like nya!!!...
Next>>
__ADS_1