Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
S2• Penolakan Kia


__ADS_3

***


Kia masih memikirkan perkataan Arzan tentang investasi yang akan dia lakukan, apakah itu benar? Kia rasa dia sudah terlalu banyak merepotkan, dan juga investasi yang akan Arzan lakukan sangat besar. Kia duduk di ujung ranjang, gadis itu tidak bisa membiarkan Arzan terlalu ikut campur dalam kehidupan nya. Bantuan Arzan saat ini, pasti akan berpengaruh nantinya entah itu pengaruh baik atau buruk. Kia tidak ingin mempunyai hutang pada siapapun, entah itu dalam bentuk uang ataupun dalam bentuk bantuan lainnya.


Sekarang saja Kia merasa tidak nyaman, dia tinggal dan makan di tanggung oleh Arzan. Itu sebabnya kenapa Kia tak menolak saat di suruh untuk mengerjakan pekerjaan rumah, itung-itung sebagi bayaran saja. Kia mengerjakan pekerjaan rumah, dan Arzan memberinya tempat tinggal dan makan.


"Aku bisa melakukannya sendiri, tidak memerlukan bantuan siapapun." Kia yakin dia bisa melakukan semuanya sendiri, gadis itu memutuskan untuk tidak menerima bantuan dari Arzan.


Kia berniat untuk menemui Arzan dan mengatakan keputusan nya, tapi niat itu ia urungkan sebab ini sudah terlalu malam mungkin Arzan sudah tidur.


"Tidak, tidak. Aku akan katakan besok saja." Tapi sayangnya Kia tak bisa tenang saat belum mengatakannya, dia di buat uring-uringan.


Akhirnya Kia memutuskan untuk memeriksa Arzan, apakah dia sudah tidur atau belum? Kia keluar kamar, dengan ragu dia berjalan kearah kamar Arzan. Helaan nafas panjang terdengar jelas dari Kia, gadis itu mengumpulkan keberanian nya untuk mengetuk pintu.


"Huuuufffhhh! Ayo Kia, kau pasti bisa!" Kia mengetuk pintu kamar Arzan pelan, sangat pelan bahkan tidak menimbulkan suara.


Astaga! Kia jadi tak berani, gadis itu mengigit bibir nya gemas sendiri. Dia tidak bisa melakukan nya, Kia sangat takut Arzan marah karena tidurnya terganggu.


"Kia, jika dia marah tamatlah riwayat mu."


Tidak, itu tidak boleh terjadi!


Beberapa menit berlalu Kia masih sibuk bergelut dengan pikiran nya, dia ingin mengetuk pintu nya tapi dia juga takut. Kia pikir Arzan mungkin belum tidur, tapi akan jadi apa dia kalau ternyata Arzan sudah tidur dan Kia telah menganggu waktu tidur nya.


"Ah, tidak! Aku tidak berani, akan aku katakan besok saja."


Baru saja Kia berbalik untuk kembali ke kamar, dahinya terpentok dengan keras. Gadis itu meringis merasakan sakit, dia mengelus dahinya yang terpentok itu. Benda apa yang dia tabrak, kenapa sangat keras seperti beton? Kia melebarkan matanya saat melihat apa yang dia tabrak, itu bukan benda mati ataupun tembok melainkan dada seseorang.

__ADS_1


"Sedang apa di depan kamar ku?" tanya Arzan.


Ya, beton yang Kia tabrak itu dada Arzan. Pria itu rupanya tidak berada di dalam kamar, dia habis dari balkon. Saat akan kembali ke kamar dia melihat Kia yang sudah berdiri di depan kamarnya, gadis itu juga terlihat sedang bimbang.


"Eh, itu___ itu tadi, apa ya? Oh, ya aku ingin pergi ke dapur. Haus, iya aku haus." Kia berakting tenggorokan nya kering, gadis itu berkali-kali batuk untuk meyakinkan.


Saat Kia akan pergi ke dapur, tangan gadis itu di tarik oleh Arzan. Arzan menahan tangan Kia, dia juga menempelkan tubuh gadis itu ke dinding. Arzan mengunci tubuh Kia agar tak bergerak, Kia yang kaget dengan serangan tiba-tiba itu hanya bisa diam.


"Aku tanya sekali lagi, sedang apa di depan kamar ku?" tanyanya sekali lagi.


Kini tatapan Arzan penuh intimidasi, dia tak membiarkan Kia mengalihkan pandangannya. Arzan menatap tajam manik teduh milik Kia, untuk beberapa saat kedua netra mereka tertaut. Manik teduh dan sendu itu untuk sesaat membuat Arzan terhipnotis, mata itu sangat indah dan terlihat damai.


"Aku___Aku ingin mengatakan sesuatu." Akhirnya Kia memberanikan diri untuk berbicara.


"Katakan." Arzan masih menatap mata indah Kia, dia masih tak bisa lepas dari tatapan mata itu.


"Lalu apa mau mu?"


"Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya ingin terbebas dari semuanya. Aku bisa melakukan itu sendiri, jadi berhenti ikut campur urusan ku." Kata Kia.


Arzan memutar bola matanya jengah, dia menaruh satu tangan di saku dan satunya lagi mengusap-usap kepala Kia. "Aku tulus membantu mu penguntit cilik, aku tidak bisa melihat gadis yang sama seperti Gladys-ku kesusahan."


"Gladys mu?" Kia mengerutkan keningnya, ini untuk pertama kalinya dia mendengar itu. "Apa dia kekasih mu, atau mantan kekasih mu?" tanya Kia mulai penasaran.


"Dia bukan kekasih atau mantan kekasih, tapi dia separuh dari hidup ku. Dia gadis yang aku cintai, karena sifat keras kepala nya dan keegoisan ku kami harus berpisah."


Jlebb!!!

__ADS_1


Sangat menyedihkan sekali, Kia bisa melihat betapa Arzan begitu mencintai sosok Gladys. Terlihat dari raut wajahnya yang berbeda ketika mengatakan tentang Gladys, jujur saja Kia tidak tahu harus mengatakan apa tapi dia ikut merasakan kepedihan yang Arzan rasakan.


"Kau baik-baik saja? Maaf, aku membuat mu mengingat masa lalu mu." Sesal Kia.


"Tidak masalah, lagi pula aku juga selalu mengingat nya tanpa berniat untuk melupakan nya."


Hah? Apa-apaan ini, dia benar-benar terjebak dalam masa lalu nya. Mungkin Gladys sudah melupakan nya, bahkan bisa jadi Gladys sudah memiliki pilihan lain.


Kia mengangguk mengerti, dia pun berniat untuk kembali ke kamar nya. Meski dalam hati tetap tidak bisa menerima sepenuhnya bantuan sebesar itu dari Arzan, tapi Kia tak bisa protes lagi. Tapi jujur saja Kia merasa dia harus membayar semuanya nanti, Arzan membantunya karena dia mirip Gladys. Entahlah dari sisi mana nya mereka mirip, yang jelas untuk sekarang Kia akan menerima bantuan nya dan nanti akan melunasi nya.


"Aku akan kembali ke kamar, selamat malam." Kia berlalu dari hadapan Arzan, gadis itu masuk kembali kedalam kamar.


Sementara itu Arzan sibuk mengutuki dirinya, kenapa dia mengatakan bahwa Kia mirip Gladys, kenapa dia mengatakan bahwa dia membantu nya karena dia mengingatkan Arzan pada Gladys?


Padahal Arzan membantu Kia karena dia merasa kasihan, memang di awal dia melihat Kia seperti Gladys, keduanya memiliki sikap yang hampir sama. Tapi, entah kenapa sekarang Arzan merasa berbeda. Dia melihat Kia sebagai Kia si gadis penguntit yang dia tolong, yang sudah beberapa hari ini tinggal bersama dirinya.


"Ada apa dengan ku?" pertanyaan seperti itu kerap muncul belakangan ini, Arzan sering merasa dirinya berbeda dari biasanya. Kadang Arzan melakukan sesuatu yang bahkan diluar dugaan nya, pria itu akhir-akhir ini sedikit kesusahan mengontrol dirinya.


"Kadang merasa sangat direpotkan, tapi aku tidak bisa melepaskan nya sendirian. Sejak kapan juga aku jadi begitu perhatian padanya?"


Ini sangat membingungkan, dia masih belum bisa melupakan Gladys. Arzan selalu di hantui rasa bersalah nya pada Gladys, dan sekarang sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.


...***...


...Up!Up!Up!...


Ngilang, dan baru nongol 🙏 Maaf, tapi aku mendadak jadi males lagi😭 tapi sayang juga sama ceritanya Arzan kalo semisalnya gak di lanjut 😌 jdi santai aja ya up nya, yg baca juga santai ajja ya ini ceritanya ringan ko🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2