Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 28


__ADS_3

***


Pesta perayaan ulang tahun sebuah perusahaan besar sedang berlangsung, banyak para pengusaha yang datang. Ini bukan pesta biasa, gedung yang di gunakan pun begitu mewah. Zivana yang hari ini akan bekerja melayani para tamu di buat takjub, dia memang hidup dengan serba ada tapi dia tidak pernah datang ke pesta seperti ini.


Sandra dan Zivana menyusun minuman di meja, ada banyak jus yang mereka tata dengan rapi. Tamu-tamu mulai berdatangan, Zivana dan Sandra akhirnya selesai dengan kegiatan mereka. Kedua gadis itu kembali ke belakang untuk memeriksa kesiapan yang lainnya.


"San, pasti tamu yang akan datang sangat banyak." Kata Zivana sambil mengintip keadaan di luar dapur.


"Yang lebih keren lagi, para tamu yang datang itu pengusaha-pengusaha sukses." Sahut Sandra yang merasa takjub dengan pesat malam ini.


Keduanya asyik mengintip keadaan di luar, ada begitu banyak orang berdatangan. Tiba-tiba saja salah satu staf menghampiri mereka. "Ziva, tolong bawa nampan berisikan minuman itu ya. Aku kebelet nih," ucapnya sambil pergi menuju toilet.


Zivana melihat sebuah nampan di meja, dia sedikit ragu mengingat ada banyak orang di luar. Apa harus dia?


"Bawa sana, aku juga mau mengantarkan minuman ke depan." Kata Sandra yang sudah memegangi nampan berisi minuman.


Mau tak mau diapun pergi, ini juga pekerjaan nya. Lalu kenapa dia tiba-tiba merasa ragu, mengantar minuman dan melayani sudah menjadi pekerjaan nya sekarang ini. Dengan perasaan ragu Zivana membawa nampan nya, dia melihat sekeliling ternyata sudah ada lebih banyak orang dari sebelumnya.


"Mbak! Kemari, saya mau minuman nya." Zivana menurut mendatangi orang itu, setelah itu dia kembali berjalan untuk meletakkan minuman nya di meja barisan depan.


Gadis itu meletakkan minuman satu persatu, dia menata rapi di sana. Ada yang aneh dengan perasaannya hari ini, sejak datang ke gedung itu dia merasa sedikit gugup. Rasa gelisah nya itu membuat dirinya tidak fokus, tanpa sengaja dia menyenggol kursi. Untung saja tidak ada orang yang terganggu karena itu, Zivana merapihkan kembali kursi nya.


"Mbak, minumannya." Seseorang tiba-tiba datang dan meminta segelas minuman, Zivana mengambilkan satu gelas Orange juice.


Praaanggg!!!


Satu gelas Orange juice jatuh kelantai, gelas kaca itu pecah berkeping-keping dan menimbulkan suara yang keras. Beberapa orang langsung menatap pada Zivana, dan seorang wanita yang diketahui sebagai salah satu tamu di sana.


"Maaf, bu. Saya akan membersihkan nya, sekali lagi saya minta maaf." Zivana menundukkan kepalanya, dia benar-benar takut sekarang.


Wanita itu menatap sengit, hampir saja tumpahan jus nya mengenai pakaian dia. "Kamu bisa kerja tidak?!" serunya yang langsung menggunakan nada tinggi.

__ADS_1


Tentu saja hal itu menarik atensi tamu yang lainnya. Zivana semakin menundukkan kepalanya, saat tahu kini ada banyak yang sedang menatap dirinya.


"Maaf, saya tidak sengaja. Saya akan membersihkan nya, maaf." Zivana masih berusaha menahan dirinya untuk tidak pergi dari sana. Dia harus bertahan dan membereskan semuanya, atau dia akan kehilangan pekerjaan nya.


"Maaf, maaf. Kamu pikir kalau noda itu mengenai pakaian saya akan cukup dengan kata maaf? Tentu saja tidak!" sarkas nya sambil mendorong bahu Zivana.


Untung saja gadis itu bergerak cepat memegangi meja, dia hanya terdorong sedikit. Zivana kembali menundukkan kepalanya, dia sangat takut untuk mengangkat pandangannya.


"Kenapa diam? Yang saya katakan itu benar bukan? Jangankan untuk mengganti pakaian saya, untuk makan saja kamu bekerja sebagai pelayan." Wanita itu semakin menjadi, dia memaki dan mencaci Zivana di depan semua orang.


Apa ini? Kenapa wanita itu mengungkit hal seperti itu? Ini hanya perkara gelas Orange juice jatuh, Zivana sudah meminta maaf dia juga akan membersihkan nya. Soal baju nya tidak ada cipratan jus yang mengenai baju nya, bahkan mengenai bagian kakinya pun tidak. Justru noda jus itu mengenai apron yang Zivana kenakan.


"Sebelumnya saya minta maaf, tapi bu masalah ini tidak sebesar yang ibu katakan. Saya bisa membersihkan bekas jus yang ada di lantai, dan soal pakaian ibu bukankah tidak ada noda yang mengenainya?" ucap Zivana yang masih berusaha untuk tetap sopan padahal dia sangat kesal.


Mungkin Zivana salah karena ceroboh, tapi tidak seharusnya dia memaki dan mencaci Zivana seperti itu. Gadis itu diam karena takut menimbulkan masalah nantinya, tapi wanita itu sudah seenaknya menghina Zivana dan dia tidak bisa menerima itu.


"Kamu berani menjawab saya?!" bentak nya tak terima dengan perkataan Zivana.


Tentu saja wanita di hadapan nya naik pitam, pelayanan seperti Zivana berani menjawab dirinya. Wanita itu mengangkat tangan nya untuk menampar pipi Zivana.


"Jangan pernah berani mengangkat tangan mu untuk memukul nya." Gio menghempaskan dengan kasar tangan wanita itu, pria itu menatap tajam pada wanita yang sudah berani mengangkat tangan nya.


Zivana memejamkan matanya, dia melihat wajah tak biasa Gio. Tatapan pria itu begitu tajam dan menakutkan, wajahnya memerah karena marah. Apakah Gio seperti itu karena marah padanya? Zivana menimbulkan kekacauan di acara besar itu.


"Siapa kamu? Ini urusan saya dengan pelayanan ini, jangan ikut campur!" seru wanita itu tak terima dengan apa yang Gio lakukan.


"Saya peringatkan, jangan pernah berani mengangkat tangan mu untuk memukul nya. Jangankan untuk memukul nya, meninggikan suara mu untuk menghina nya pun jangan pernah lakukan itu lagi." Tegas Gio lalu menarik tangan Zivana. "Anda akan menyesal karena berani meninggikan suara padanya hari ini." Lanjut Gio dengan nada bicara seperti mengancam.


Semua menyaksikan itu, ada beberapa dari mereka menatap takjub sosok Gio. Sementara wanita yang membesarkan keributan, hanya menatap tak suka pada keduanya.


Zivana pasrah saat Gio menarik nya dengan kasar, sepanjang perjalanan dia terus menunduk karena takut. Dia benar-benar akan kehilangan pekerjaan nya sekarang, lihat saja wajah Gio yang terlihat begitu marah.

__ADS_1


Dari sekian banyak nya orang, ada seseorang yang menyaksikan itu dengan tatapan sulit di artikan. Dalam kepalanya di penuhi tanda tanya, apa hubungan keduanya?


"Zivana apa dia?" gumamnya bertanya-tanya.


***


"Duduklah." Gio terlihat mengusap kasar wajah nya, pria itu menarik satu kursi untuk Zivana lalu dia duduk di kursi lain nya.


Zivana yang masih menunduk itu memberanikan diri untuk duduk di hadapan Gio. Dia duduk masih dengan kepala tertunduk, tak berani mengangkat pandangannya.


"Jangan menundukkan pandangan mu, saya sedang berbicara padamu." Kata Gio yang langsung membuat Zivana mengangkat pandangannya.


"Maaf pak," lirihnya.


Seperti nya kata maaf pun tak cukup untuk apa yang telah terjadi, Zivana benar-benar merasa begitu bersalah. Andai dia tak ceroboh mungkin semua ini tidak akan terjadi.


"Maaf untuk semuanya, saya benar-benar tidak sengaja." Ucapnya sedikit parau.


Gio menatap gadis itu, matanya terlihat memerah seperti akan menangis. Dari suaranya pun Gio juga tahu, gadis itu seperti menahan tangis.


"Hey, kenapa? Apa aku terlihat menautkan, kenapa kau menangis?" Gio mendadak cemas, pria itu berdiri dan beralih duduk di samping Zivana.


"Apa kau takut padaku? Tenang aku tidak akan memecat mu, percayalah." Kata Gio menenangkan Zivana.


Mendengar itu Zivana langsung menatap Gio, gadis itu mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya. "Benarkah? Aku tidak akan di pecat?" sahut Zivana dengan mata berbinar.


Gio dibuat diam untuk sesaat, jantung nya mendadak berdetak tak karuan. 'Apa-apaan ini? ada apa dengan ku?' batin Gio.


...****************...


...Up! Up! Up! Up!💃💃💃...

__ADS_1


Aciee... Gio keren banget sih, belain Zivana di depan semua orang 🤭 kalau gini kan jadi bingung, om Dean mau di pulangin ke indo apa nggak🙊🙈🤣🤣


__ADS_2