
***
"Aaaaaakkk!!!!"
"Zivana!!!!"
Tubuh Zivana siap mendarat sempurna di lantai, untung nya Dean dengan sigap menangkap Zivana. Detik-detik itu hampir membuat Zivana dan Dean kehilangan bayi mereka, tidak bisa di bayangkan bagaimana jadinya kalau Dean telat sedikit saja.
Helaan nafas lega terdengar dari Dean, pria itu menurunkan Zivana dan langsung memeluk nya begitu erat. Sementara Zivana, tubuhnya terasa bergetar hebat, dia pasti begitu terkejut. Zivana menangis sesenggukan, dia menumpahkan air mata nya di dada bidang Dean yang kini masih terekspos sebab pria itu masih menggunakan handuk sepinggang.
"Sayang," Dean mengelus pelan bahu Zivana, dia berusaha menenangkan istrinya itu. "Tenang ya, semua baik-baik saja."
"Mas, ba___bayi kita."
"Dia baik-baik saja, tenang lah."
Dean juga tidak tahu apakah memang baik-baik saja atau tidak, dia hanya berusaha menenangkan Zivana. Lagi pula, di lihat dari kondisi nya seperti nya baik-baik saja.
"Maaf," lirih Zivana dengan suara nya yang parau.
"Tidak apa-apa, sudahlah. Baby nya itu sama seperti kamu, sama-sama kuat. Jadi, jangan khawatir okay!" perkataan Dean mungkin sederhana tapi mampu menenangkan Zivana.
__ADS_1
Zivana berhenti menangis, dia mulai tenang dan melepaskan pelukannya. Perlahan Zivana mengangkat pandangannya, dia memberanikan diri menatap Dean. "Mas, Ziva janji gak akan kaya gitu lagi."
Dean mengangkat dagu Zivana, pria itu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Zivana. "Lupakan, aku tidak ingin membahas nya."
Perempuan itu menunjukan kaus yang sudah dia ambil, Dean pun mengambil alih kaus itu dan memakai nya. Sebenarnya Dean kesal pasal Ciko, lalu dia juga kesal karena aksi nekad Zivana. Tapi apa boleh buat, saat melihat Zivana ketakutan dan mengeluarkan air mata Dean tak tahan.
"Mas, Ziva minta maaf soal Ciko juga ya. Ternyata Ciko ada di dapur, maaf Ziva marah-marah tidak jelas semalam."
Hah?! Dean hampir mengeluarkan umpatan nya, tapi dia sadar Zivana pasti takut padanya kalau dia mengeluarkan sumpah serapah di hadapan nya. Dengan terpaksa Dean hanya mengangguk saja, meski pada kenyataannya dia sangat kesal.
"Tidak apa-apa sayang, tapi aku laper."
"Hhmm."
Selang beberapa menit sarapan pun siap, Dean sudah duduk menunggu di meja makan. Di sana juga ada Ciko yang sedang makan, tepatnya di bawah meja makan. Dean masih kesal pada kucing ini, dia menendang pelan wadah makanan Ciko. Kucing itu mengeong sambil mendekati makanan nya lagi.
"Meong!" Ciko bersuara.
"Monyet!!" sarkas Dean.
"Meong, meong, meong!"
__ADS_1
"Monyet! monyet! monyet!"
Dean mengikuti nada suara Ciko, tapi berbeda kata. Pria itu juga kembali menendang wadah makanan Ciko, sebab itu Ciko terus bersuara.
"Mas, kenapa sih?" Zivana datang dengan sarapan yang sudah selesai dia buat, di letakkan nya di meja makan lalu menyajikan untuk Dean.
"Ciko tuh!" Dean menatap sengit Ciko.
"Kenapa? Ciko diem aja loh dari tadi, kamu yang nendang-nendang makanan Ciko. Iya kan?"
Dean diam untuk sesaat, kemudian dia mencoba membujuk Zivana untuk mengembalikan Ciko pada tempat nya.
"Sayang, kita kembalikan Ciko aja ya. Kita kan mau punya bayi, kalau ada Ciko takut nya tidak aman untuk bayi yang baru lahir." Kata Dean.
"Apa iya?" Zivana nampak berpikir sejenak, dia menatap Ciko yang kini masih fokus pada makanan nya. "Ziva udah terlanjur sayang sama Ciko. Ziva gak rela kalau harus jauh dari Ciko,"
Dean menghembus kan nafasnya, dia tahu Zivana tidak akan melepaskan kucing ini. Mungkin dia yang harus lebih bersabar lagi, sampai kapanpun Ciko akan tetap ada bersama mereka.
...***...
Tambah nih up nya, sedikit sih tapi gkpp🤣 btw, statistik menurun guys🥺 ayo bantu share 🙏😭
__ADS_1