
***
Pagi-pagi sekali Zivana sudah terbangun, gadis itu melihat dirinya yang bahkan tak berganti pakaian dari kemarin. Dilihat nya Dean yang masih tertidur dengan damai, pria itu pasti sangat kelelahan. Zivana turun dengan perlahan dari ranjang, gadis itu melihat pada koper yang berada di atas lemari.
Gadis itu berjinjit untuk mengambil nya, jika dia pikir itu akan berat sebab berisi barang barang nya maka dia salah. Koper itu terasa ringan, kemana isinya?
Zivana membuka lemari pakaian, dan benar saja pakaian dia dan Dean sudah tersimpan rapih di sana. Jadi, pria itu membereskan nya semalam?
"Pantes masih tidur." Gumam Zivana sambil menatap Dean yang masih tertidur itu, pasti sangat melelahkan bukan? sehabis perjalanan jauh, pria itu harus membereskan barang-barang mereka.
Zivana menelisik kamar mereka, seperti nya semua sudah di simpan pada tempatnya. Merasa bosan dan tidak mungkin untuk tidur lagi, Zivana pun pergi ke dapur. Sebelum itu dia sempat mengambil beberapa makanan cepat saji yang ada di atas meja, itu mie instan kesukaan Zivana. Sengaja di bawa takut-takut Zivana sulit memakan makanan di sana pada saat baru datang.
Setelah tidur lebih dari cukup, perut nya pun meminta asupan. Zivana memasak mie instan di dapur, gadis itu melihat jam yang baru menunjukkan pukul 04:00.
"Mau ngapain ya? Ini masih terlalu pagi, om Dean juga belum bangun."
Lama dia berpikir tapi tidak menemukan ide apapun, terlebih lagi tempat ini terasa asing baginya. Mungkin dia akan kembali ke kamar saja setelah memakan mie nya, nanti siang dia akan mengajak Dean untuk berjalan-jalan.
Mereka juga harus berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga, sekalian melihat lingkungan sekitar. Dia juga harus bisa beradaptasi dengan lingkungan di sini, apa lagi Zivana juga akan kuliah dan pasti harus tahu beberapa jalanan di sini.
"Ngapain di sini?" tiba-tiba saja Dean datang dan langsung memeluk gadis itu dari belakang, Zivana yang tenang mengadukan mie itu terlonjak kaget.
"Astaga, om! Ziva hampir jantungan." Zivana memukul lengan pria itu, dia pikir ada penyusup yang masuk apartemen mereka.
__ADS_1
"Harusnya aku yang berbicara seperti itu, kau tiba-tiba saja menghilang dari kamar." Sahut Dean sambil membalikkan badan Zivana, dia merapihkan rambut gadis itu yang sedikit berantakan.
"Aku pikir kau pergi kemana pagi-pagi begini, hampir saja aku akan melapor pada pihak berwajib." Kali ini perkataan Dean sukses membuat Zivana tertawa, pria ini terlalu berlebihan menurut Zivana.
"Mau kemana aku? Ke dapur saja aku berpikir dua kali, apa lagi keluar. Aku juga takut pergi sendirian di tempat asing seperti ini." Zivana menggelengkan kepalanya, gadis itu melepaskan dirinya dari Dean dan berjalan menuju meja makan dengan semangkuk mie.
Dean mengekor di belakangnya, pria itu melipat kedua tangannya berdiri di samping Zivana. Masih memperhatikan istrinya yang sekarang sedang duduk sambil meniup mie panas. "Hanya satu mangkuk? Untuk ku?"
Zivana hampir tersedak saat mencoba kuah mie nya, dia tidak membuat untuk Dean. Tadi dia berniat untuk memakan nya sendirian, sebab Dean masih tidur dan dia tidak ingin membangunkan nya.
"Ziva, pikir om masih lama tidur nya." Katanya.
Dean menarik kursi di samping Zivana, pria itu duduk sambil menampilkan wajah tengil nya. "Masak satu lagi, ini untuk ku."
"Sayang," Dean merengek, pria itu membuat Zivana tak tega melihat nya.
"Ya udah, nih buat om. Ziva mau masak lagi."
Dean menahan Zivana yang hendak bangkit itu, dia menyuruh Zivana untuk duduk kembali. "Aku hanya bercanda, kenapa serius sekali? Sudah makan mie nya, aku akan menemanimu."
Zivana menatap pada wajah tampan pria berumur itu. "Om gak laper?"
Dean menggelengkan kepalanya, pria itu memang belum merasa lapar. Semalam dia sudah memakan mie instan yang sama. "Makanlah, semalam aku sudah makan. Nanti siang kita akan belanja kebutuhan rumah tangga, sekaligus melihat universitas tempat mu kuliah nanti."
__ADS_1
Zivana mengangguk setuju, dia juga akan menyarankan hal yang sama. "Okay!"
...***...
Pagi ini Arzan masih berbaring di tempat tidur nya, pria itu merasa sedikit tidak enak badan. Suhu tubuh nya pun sedikit tinggi, Arzan menghela nafas nya. Ini tidak biasa terjadi padanya, Arzan itu jarang sakit.
Arzan mulai merasakan pusing di kepalanya, dia benci situasi ini. Soal sakit semua orang juga pasti tidak ingin dan benci, tapi kebencian Arzan itu sebab dia selalu merasa sendiri di saat-saat seperti ini.
"Astaga, aku benci ini." Desis Arzan sambil berusaha untuk bangkit, pria itu akan mencari obat di toko-toko obat dekat sana.
Dengan keadaan badan yang demam, dan kepala yang berdenyut Arzan pergi ke toko obat. Saat merasakan pusing nya bertambah, Arzan berhenti untuk duduk di kursi yang ada di depan toko itu. Pria berperawakan tinggi itu, menundukkan kepalanya merasakan sakit.
"Excuse me sir, is there any fever medicine?"
Arzan mendengar samar-samar suara seseorang yang terdengar tidak asing untuk nya, pria itu mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Arzan memicingkan matanya, dia mengucek berkali-kali matanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat.
"Apa aku berhalusinasi?"
...***...
...Up!Up!Up!...
...Ayo komen yang banyak!!! ...
__ADS_1