
***
Memasuki bulan ke 9 seluruh keluarga hadir menemani Zivana, mereka berkumpul untuk menantikan kelahiran bayi Zivana dan Dean. Kehadiran seluruh keluarga itu meringankan beban Dean, dia jadi sedikit lebih tenang sekarang. Satu lagi yang membuat Dean semakin tenang yaitu, kedua mama nya sangat perhatian. Keduanya itu bahkan bisa di bilang posesif terhadap Zivana, sama seperti Dean.
Lihat lah sekarang ini Resa dan mama Dean sedang sibuk merapihkan peralatan untuk bayi, mereka baru berbelanja. Kamar Zivana dan Dean sudah di penuhi peralatan bayi, sebab menurut prediksi dokter minggu minggu ini Zivana akan melahirkan.
"Besan, ini di taruh di mana ya?" Resa menunjuk ayunan bayi yang masih tergeletak di sembarang tempat.
"Di situ aja." Mama Dean menunjuk pada tempat kosong di dekat ranjang, itu tempat yang tepat menurut nya. Tempat itu mudah di gapai, saat terbangun di malam hari Zivana tidak akan terlalu repot untuk menghampiri nya.
Keduanya sibuk mengatur semua peralatan bayi, berbeda dengan Zivana dan Dean yang terlihat santai di ruang tengah. Mereka tengah memperhatikan papa Dean dan juga papa Zivana yang sibuk dengan Ciko, keduanya ternyata sangat menyukai Ciko jauh berbeda dengan Dean yang sangat tidak menyukai Ciko.
"Kenapa Ciko lucu sekali? Aku jadi berpikiran untuk memelihara kucing juga." Kata papa Dean, papa Zivana pun mengangguk setuju.
"Kalau begitu kita beli kucing dari toko yang sama seperti Zivana dan Dean membeli Ciko," usul Hendri papa Zivana.
"Ah, benar juga. Ya sudah, nanti kita beli ke sana."
Dean mencibir dalam hati, apa lucunya kucing seperti Ciko? Dan ide memelihara kucing itu sangat buruk!
__ADS_1
"Kenapa wajah kamu? Papa tau, kamu tidak menyukai Ciko kan? Kamu itu, sudah mau jadi orang tua tapi masih saja takut pada kucing." Papa Dean mulai mengungkit permasalahan Dean dan kucing, tentunya itu membuat Dean mencebik kesal.
"Aku tidak takut, hanya saja kucing menggelikan." Dean menatap datar sang papa yang malah menertawai nya.
"Halah kamu! Kamu pikir papa tidak tau apa? Kamu itu trauma kan dengan kucing?"
Ayolah, Dean mengutuki kecerewetan papa nya itu. Dia mengungkit sesuatu yang memalukan di hadapan Zivana dan Hendri, harga diri Dean di jatuhkan oleh papa nya sendiri.
"Wah! Yang benar kamu takut kucing, Dean?" tanya Hendri yang masih tak percaya akan hal itu.
"Seratus persen benar, dan terpercaya." Papa Dean tersenyum mengejek pada Dean.
"Oh, jadi om Dean itu takut kucing. Pantas saja dari awal Zivana pelihara Ciko, om Dean kelihatan tidak suka." Sambung Zivana.
Nah, kan Dean di permalukan sekarang. Pria itu mengangkat jari tengah nya pada sang papa, benar-benar papa tidak berperasaan dia menjatuhkan harga diri anaknya sendiri.
"Udahlah pah, jangan di bahas. Dean mau mandi dulu." Dean tak tahan di sana, dia jadi bahan olok-olok an. Pria itu pergi ke kamar nya, di susul Zivana yang mengekor di belakang Dean.
Dean masuk kedalam kamar dan langsung di buat shock dengan keadaan kamar nya, sangat ramai dan berwarna-warni. Ini lebih mirip taman kanak-kanak, bukan kamar orang dewasa.
__ADS_1
"Ada apa ini, kenapa kamar ku menjadi taman kanak-kanak?" Dean masuk dan menelisik seisi kamar, ini jauh berbeda dari kamar dia yang sebelumnya.
Kedua wanita itu tersenyum merekah, mereka menjelaskan kenapa menghias kamar dengan full colour seperti itu. Itu karena, bayi yang Zivana kandung di ketahui berjenis kelamin laki-laki, dan mereka ingin nanti nya anak laki-laki itu tumbuh hebat namun memiliki hati yang lembut dan ceria. Memiliki kehidupan yang warna-warni, menebar kebahagiaan pada setiap orang yang ada di dekatnya.
"Jadi baby boy, tapi hati baby girl." Kata mama Dean.
"Hidup nya dia penuh warna, dan bisa membuat semua orang yang berada di dekatnya bahagia." Resa membayangkan cucu laki-laki nya yang tampan dengan senyum manis nya.
"Tapi anak ku manusia, bukan pelangi warna-warni." Ketus Dean.
"Nah, ini nih! Kenapa mama mau cucu mama itu hidup nya penuh warna? Itu karena mama tidak mau cucu mama monoton kaya papa nya." Mama Dean tidak bisa membiarkan cucunya mirip dengan Dean, meski pada dasarnya dia pasti akan mirip sebab Dean itu papa nya. Tetap saja, dia ingin berusaha agar cucunya tak sedatar Dean.
"Nah, iya. Saya juga berpikiran yang sama, maaf ya menantu." Timpal Resa.
Dean memijit pelipisnya, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Di ruang tengah ada para kakek yang sibuk dengan kucing, di sini ada nenek-nenek yang menghias kamar tidur seperti taman kanak-kanak sangat warna- warni.
"Aku bisa gila." Geram Dean.
...***...
__ADS_1
...Up!Up!Up!...