
***
Satu minggu berlalu....
Zivana berdiri dengan ragu di depan gerbang rumah, dia menatap pada gerbang yang menjulang tinggi itu. Mengedarkan pandangan melihat pada teras rumah, dulu dia sering bermain di sana. Mata Zivana kemudian menatap pada ayunan yang dulu sering jadi tempat bermain nya, dia rindu itu.
Sebuah taman kecil yang berada di pinggir rumah, sengaja di buat untuk Zivana kecil bermain. Sampai dia remaja taman itu masih di rawat dengan baik, Zivana menanam bunga hias di sana.
"Ziva kangen kalian," lirih nya.
Apa masih pantas dia masuk ke rumah ini? Apakah masih ada yang mau menerima nya?
Zivana melihat pintu rumah yang tertutup rapat, rumah itu terlihat sepi sama seperti dulu dia tinggal di sana. Gadis itu tebak, pasti orang tua nya tidak ada di rumah.
Dia datang kemari untuk memberikan kabar bahagia, minggu depan Zivana dan Dean akan bertunangan. Zivana datang kemari dengan harapan orang tuanya bisa ikut serta di hari bahagia nya, dia tidak yakin tapi apa salah nya untuk mencoba mengundang mereka bukan?
"Non Ziva?!" seru art di rumah itu, namanya Maria dia juga yang dulu mengasuh Zivana.
Zivana terkesiap, dia membalikkan badannya saat seseorang memanggil nya dari belakang. Maria membawa tas belanjaan yang berisikan sayuran, dia baru saja kembali dari pasar.
"Mbak Mar. Dari pasar mbak?" Zivana tersenyum hangat.
"Iya non. Mau ketemu ibu sama bapak ya? Ayo masuk, ibu ada di dalam. Kalau bapak sih, lagi ke luar kota." Kata Maria.
"Ziva cuma lihat-lihat mbak, kebetulan gak sengaja lewat sini." Zivana hendak pergi, namun Maria menahan nya.
"Masuk dulu non. Ibu pasti seneng ketemu non Ziva," Maria menarik Zivana untuk masuk, gadis itu mencoba melepaskan tangan nya. Dia tidak bisa masuk sekarang, dia tidak yakin Resa akan membolehkan nya masuk.
__ADS_1
"Mbak lepas mbak, nanti mama liat Ziva terus marah lagi. Nanti mbak juga kena marah loh, kapan-kapan Ziva mampir kalau semua sudah membaik seperti dulu." Zivana menahan tubuh nya di gerbang, dengan tangan satunya berpegang pada gerbang.
Maria memikirkan ucapan Zivana, dia pun melepaskan tangan nya. "Padahal, tiap malam saya suka lihat ibu nangis sambil liatin foto non Ziva. Saya yakin ibu sebenarnya sayang sama non, cuma ego nya aja terlalu tinggi."
Zivana sempat terenyuh mendengar nya, dia juga sebenarnya sedih harus berjauhan seperti ini. Tapi apa boleh buat, Resa juga butuh waktu untuk berdamai dengan ego nya. Tanpa di ucapkan pun Zivana tahu, Resa menyayangi nya tapi ego Resa yang menjadi penghalang semuanya.
"Mama butuh waktu mbak, Ziva tau mama sayang sama Ziva. Tapi, saat ini kayaknya belum tepat kalau Ziva ketemu mama."
Maria pun mengangguk setuju, dia mungkin hanya art dan pengasuh Zivana waktu kecil. Tapi dia juga ikut merasa sedih karena permasalahan diantara mereka, Maria tahu semua ceritanya karena dia bekerja dari sebelum Zivana lahir. Dia juga mengenal ibu kandung Zivana, dulu ibu kandung Zivana sering datang ke rumah itu.
"Yang sabar ya non, saya ikut sedih lihat ibu sama non harus berjauhan. Semoga semua cepat beres, saya berharap non kembali ke rumah ini secepat mungkin."
"Makasih mbak, Ziva pergi dulu ya."
Zivana berlalu dari sana, dengan berjalan keluar dari perumahan elit itu. Di perumahan itu ada sebuah taman yang dulu sering dia kunjungi, Zivana berniat pergi ke sana. Saat melewati rumah dengan nuansa abu-abu, Zivana teringat dengan teman nya Kia. Itu rumah Kia, entah bagaimana kabar nya sekarang. Semenjak lulu sekolah, Zivana tak lagi bertukar kabar. Bukan hanya dengan Kia, tapi dengan Raffy juga.
Di taman Zivana duduk di sebuah kursi panjang, dia menatap pada beberapa anak yang tengah bermain. Banyak orang yang menghabiskan waktu senggang kala sore di taman itu, cukup ramai tapi Zivana merasa sangat kesepian saat ini.
"Andai ibu ada di sini. Ziva kangen ibu. Ibu bahagia ya, di sana? Tapi ibu jahat, soalnya gak ngajak putri ibu." Zivana mengadahkan pandangan nya ke langit, dia memejamkan mata dan merasakan hembusan angin menerpa kulit wajah nya.
Minggu depan dia akan memulai hari baru, dia akan bertunangan. Rencananya jika tidak ada kendala apapun, bulan depan mereka akan melangsungkan pernikahan. Zivana tahu harusnya dia meminta pendapat papa nya, atau Resa. Tapi, tidak mungkin untuk saat ini dia meminta izin mereka. Yang dia pikirkan bagaimana dia bisa membujuk papa nya untuk menjadi wali di hari pernikahan nya nanti, dia memiliki waktu satu bulan untuk berusaha membujuk papa nya.
"Ziva?!"
Zivana melihat pada sumber suara, betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang memanggil nya. Itu Kia, sahabatnya. Zivana langsung berdiri, gadis itu buru-buru pergi dari sana.
"Aku pergi dulu." Zivana berjalan dengan cepat sekali, dia malu bertemu Kia. Dia mungkin sudah tidak pantas lagi bersahabat dengan Kia, dia dan Kia sekarang memiliki perbedaan yang begitu memalukan.
__ADS_1
Kiara gadis itu mengejar Zivana, sudah cukup dia menunggu Zivana untuk datang padanya dan menjelaskan semuanya. Sekarang tidak lagi, Kia yang akan memaksa dia cerita. Kia begitu kasihan saat tahu cerita sebenarnya dari art Zivana yaitu Maria, saat memiliki waktu Kia juga menyempatkan diri mencari informasi keberadaan Zivana.
Tahu Zivana bekerja dan tinggal di sebuah kontrak kecil, rasanya Kia ingin membantu dia tapi Kia pun bingung sebab Zivana tak pernah menceritakan apapun padanya. Kia tahu Zivana tidak suka di kasihani, karena itu juga dia hanya melihat Zivana dari jauh.
"Ziva, tunggu!!" seru Kia yang terus berusaha mengejar Zivana.
Langkah Zivana semakin cepat sehingga Kia harus berlarian untuk mengejar nya, Kia meraih tangan Zivana saat di sudah dekat. Sayangnya, kaki Kia tersandung batu. Alih-alih menggapai tangan Zivana, dia justru terjatuh.
"Aawww!!!" pekik Kia kesakitan, gadis itu berdarah di lutut dan sikut nya.
Zivana berbalik badan saat mendengar suara Kia, dia begitu terkejut melihat sahabatnya tersungkur ke tanah. Buru-buru Zivana menghampiri Kia, dia membantu Kia untuk berdiri.
"Kia, kamu tidak apa-apa? Lihat! lutut kamu berdarah, astaga Kia! Ini pasti sakit." Heboh Zivana saat melihat darah dari lutut Kia, dia melihat sikut Kia juga berdarah, tentu saja itu membuat Zivana semakin heboh.
"Kamu gimana sih?! Jalan tuh hati-hati, lihat jatuh kan."
"Ini hanya luka kecil, aku baik-baik saja. Ada yang lebih sakit dari ini Ziva," Kia berdiri dengan bantuan Zivana, gadis itu menatap Zivana lekat-lekat. "Aku lebih sakit saat tahu kamu tidak menganggap ku sahabat lagi. Aku lebih terluka saat tahu kamu kesulitan, tapi aku tidak tahu apapun."
Zivana membuang wajah nya kesembarang arah, dia tidak ingin membahas ini. Semua itu benar-benar memalukan, kebenaran tentang dirinya sangat memalukan.
"Aku tidak ingin membahas ini Kia. Maaf, tapi aku harus pergi." Zivana berbalik badan, dia hendak pergi tapi pertanyaan Kia membuat langkah nya terhenti.
"Kenapa? Kamu malu?"
"Iya."
...***...
__ADS_1
...Up!Up!Up!Up!Up!...