Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Extra Part 1


__ADS_3

***


Waktu berlalu begitu cepat tak terasa Kia dan Arzan sudah menikah selama 1 tahun, kehidupan pernikahan mereka begitu harmonis. Meski sesekali keduanya saling berselisih, tapi tak pernah berlangsung lama karena Kia dan Arzan akan saling mengalah untuk menjaga perasaan satu sama lain.


1 tahun terhitung lumayan lama, tapi mereka belum di beri amanah untuk mempunyai seorang anak. Tidak ada yang bermasalah karena itu, sebab mereka berpikir kalau itu adalah waktu kedua nya untuk menikmati waktu bersama mereka sebelum nanti akan hadir malaikat kecil.


"Sayang, bangun! Kamu tidak berangkat kuliah?" Arzan menggoyangkan tubuh Kia yang masih di balut selimut tebal, gadis itu hanya menggeliat namun tak berniat untuk bangun.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tapi Kia masih melanjutkan tidur nya. Arzan harus siap-siap kekantor, bahkan sebenarnya Kia pun harus siap-siap untuk ke kampus. Tapi, pagi ini entah kenapa gadis itu sangat malas untuk bangun.


"Kamu sakit?" tanya Arzan khawatir, ini tidak seperti Kia. Gadis itu selalu bangun lebih awal, setiap pagi Kia selalu bersemangat apa lagi saat jadwal kuliah.


Kia sering merasa bosan saat tidak berangkat kuliah, sebab dia akan berdiam diri di rumah. Itulah kenapa Kia selalu bersemangat pergi kuliah, karena dia bisa bertemu teman satu kampus nya dan menikmati waktu di luar.


"Aku baik-baik saja, hanya butuh waktu untuk tidur lagi." Kata Kia.


Arzan menghela nafasnya, pria itu turun dari ranjang. "Baiklah, tidur lagi saja aku akan mandi dulu."


Selang beberapa menit Arzan selesai dengan ritual mandi nya, pria itu melihat Kia yang masih tertidur pulas. Benar-benar aneh, Arzan jadi khawatir melihat nya.


"Sayang, kita ke dokter yah." Ujar Arzan tiba-tiba.


Kia membuka matanya dengan malas. "Untuk apa? Aku tidak sakit, sungguh."

__ADS_1


"Tapi aku khawatir." Sahut Arzan.


Kia menghembuskan nafasnya dalam, kemudian dia duduk dengan bersandar pada sandaran tempat tidur. "Kamu berlebihan mas, lihat lah aku baik-baik saja."


Arzan mendekat dia duduk di ujung ranjang, perlahan Arzan meletakkan tangan nya di kening Kia. Suhu tubuhnya terasa normal, pria itu pun beralih menyentuh tangan dan kaki Kia dan semua normal-normal saja.


"Kalau sakit bilang yah, jangan menyembunyikan apapun dari ku." Pinta Arzan, Kia pun menganggukkan kepalanya.


"Iya mas, jangan khawatir aku pasti akan mengatakan nya jika memang aku sakit."


Arzan mengelus-elus punggung tangan Kia dan juga rambutnya, merasakan elusan lembut Arzan membuat Kia merasa mengantuk lagi. Dia pun menyuruh Arzan untuk mengubah duduk nya, Kia meminta pria itu duduk dan bersandar juga. Kemudian Kia membaringkan tubuhnya, dengan kepala yang bertumpu pada paha Arzan.


"Mau tidur lagi, tapi elus-elus seperti tadi yah." Ujar Kia.


Arzan tertawa kecil, wajah Kia terlihat lucu saat meminta di elus. "Baiklah, ayo tidur lagi."


"Eeumm!!" Tiba-tiba Kia menggeliat.


Kia memegangi kepalanya yang terasa pusing, bahkan rasanya untuk duduk saja Kia tak sanggup. Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa demikian, padahal tadi baik-baik saja.


"Mas, kepala ku pusing." Keluh Kia.


"Hah? Sudah kubilang tadi, ayo kedokter saja. Kenapa kau ini keras kepala sekali." Arzan memijat pelan kepala Kia.

__ADS_1


"Kenapa kau memarahi ku? Tadi tuh, kepalanya tidak sakit, entah kenapa sekarang jadi sakit." Sahut Kia yang malah terdengar kesal.


Arzan menelan saliva nya pelan-pelan, Kia terlihat menakutkan saat marah. "Aku tidak memarahi mu, sudah lah lupakan saja soal dokter. Mau sarapan apa?"


"Rujak cingur mungkin enak." Jawab Kia.


Hah? Arzan melongo mendengar nya, pagi-pagi sarapan rujak? Apakah itu normal?


"Tidakkah sarapan bubur ayam, atau roti dengan selai strawberry lebih baik?" Arzan ngilu sendiri, mengingat jenis sarapan apa yang di inginkan Kia.


Kia terlihat berpikir sejenak, kemudian menggelngkan kepalanya. "Aku rasa rujak cingur di pagi hari bukan ide yang buruk."


Hais!! Arzan menggeram tertahan, bagimana mungkin rujak cingur di pagi hari dan di mana dia bisa mendapatkan makanan jenis itu?


"Sayang," Arzan memasang wajah memelas nya. "Yang lain ya?"


Kia tetap kekeh menginginkan rujak cingur nya, dia menolak makanan lain karena dia sangat ingin sarapan dengan rujak. Benar-benar membuat Arzan begitu frustasi, bukan hanya takut resiko karena memakan rujak di pagi hari Arzan juga bingung akan mencari kemana.


"Kalau tidak mau mencarikan rujak cingur untuk ku, tidak apa-apa. Aku bisa mencari nya sendiri."


"Eh, tidak! tidak! Aku akan mencarikannya, tunggu sebentar oke!" Pada akhirnya, Arzan pasrah.


...***...

__ADS_1


...Update!!...


...Yang minta extra part, apa kabar nih?...


__ADS_2