Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
S2• Pencarian


__ADS_3

***


Kejadian semalam sangat mengganggu Arzan, sebenarnya dia terlambat pulang karena mencari tahu tentang Kia. Dia merasa penasaran masalah seperti apa yang membuat gadis itu lari dari papa nya sendiri, jujur saja Arzan merasa terkejut ternyata benar papa ingin menjodohkan Kia dengan salah satu rekan bisnis nya yang sudah beristri. Pria itu memang kaya, bahkan dia juga salah satu rekan bisnis Dean, tapi dia sudah sangat tua untuk Kia. Bahkan usia Kia itu sama dengan usia anak keduanya, pantas Kia menolak dan memiliki untuk melarikan diri.


Pagi ini Arzan pergi lebih pagi, dia juga tidak sarapan. Arzan merasa sedikit kasihan karena memperkerjakan Kia seperti itu, dia seharusnya membantu bukan menambah beban. Dia dan Kia memiliki kesamaan dalam hal ini, mereka sama-sama anak korban keegoisan orang tua.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk nya? Saat melihatnya aku selalu teringat Gladys, itu terkadang membuat ku bingung." Arzan merenung seorang diri di ruangan nya.


Setiap melihat Kia dia selalu teringat Gladys, kadang Arzan merasa bingung sendiri. Dia menolong Kia karena kasihan pada gadis itu, atau karena Arzan melihat Kia sebagai Gladys? Di tambah Arzan rasa dia bertindak sudah cukup jauh dengan mencari tahu masalah yang di hadapi Kia, tanpa sadar Arzan memasuki kehidupan Kia.


"Aku menahan nya pergi, tapi aku tidak tau untuk apa aku melakukan itu."


...***...


Kia baru saja selesai dengan pekerjaan rumah, dia selesai lebih awal dari kemarin. Gadis itu mendudukkan dirinya di sopa, dia menyalakan tv untuk menonton drama kesukaan nya. Kia bersantai dengan menikmati camilan ringan, dia menikmati waktu bersantai nya.


"Cih! Pria macam apa dia? menjadikan seorang gadis tak berdaya sebagai pelampiasan nya." Kia menggerutu sebab drama yang dia tonton begitu menjengkelkan, dimana si pemeran utama cowok di hadapkan dengan masa lalu dan orang baru. Di sana pria itu masih mencintai orang di masa lalunya, sampai tidak bisa melihat orang baru yang ada untuk nya.


"Masa lalu ada untuk di lupakan, bukan di kenang." Kesal Kia.


Tiba-tiba dia seperti merasakan dirinya di posisi sang pemeran utama perempuan itu, dia memposisikan dirinya dan Arzan. Tak jauh berbeda mereka sama seperti kisah di drama itu, Kia dan Arzan mulai terikat dan bergantung satu sama lain lebih tepatnya Kia yang mulai bergantung pada Arzan.


Kia mulai merasa dia aman bersama Arzan, dia akan baik-baik saja selama pria itu ada. Dia mulai bergantung pada Arzan untuk masalahnya, contoh nya untuk lari dari papa nya dia ikut bersama Arzan, belum lagi makanan dan kebutuhan lainnya dia bergantung pada Arzan sekarang.


"Apa aku sangat mengandalkan dia? Nanti kalau aku dan dia berpisah apa aku akan baik-baik saja?"

__ADS_1


Astaga! Pertanyaan macam apa itu? Untuk apa Kia memikirkan hal seperti itu, sebelum mengenal Arzan saja dia baik-baik saja tidak pernah mempermasalahkan apapun lalu kenapa sekarang dia terkesan sangat lebay? Sampai memikirkan hal seperti itu, jelas Kia akan baik-baik saja bersama atau tanpa Arzan sekalipun.


...***...


Malam ini Arzan pulang seperti jadwal nya, dia masuk dan langsung mencium harumnya masakan dari dapur. Pria itu melepas jas nya, dia meletakkan beberapa dokumen di meja depan sopa. Arzan berjalan menuju dapur, dengan satu tarikan dasi yang terpasang rapi itu terlepas tak lupa dua kancing kemeja bagian atas dia biarkan terbuka.


"Apa yang kau masak?" Arzan sudah berdiri di belakang Kia, dia melihat makanan apa yang sedang gadis itu buat.


Kia terlonjak kaget, hampir saja spatula yang dia pegang terjatuh. "Astaga! uncle, kau mengejutkan ku." Gadis itu mengelus dadanya, untung saja spatula itu tak jatuh dan menciptakan masalah.


"Kau melamun sambil memasak? Aku tidak mengejutkan mu, aku hanya bertanya." Arzan terlihat begitu santai, dia seperti tak memiliki salah apapun. Setelah itu dia duduk dengan tenang di kursi, dia memperhatikan setiap gerak-gerik Kia.


"Mandi dulu sana, nanti akan aku panggil setelah makan malam nya siap." Kia merasa sedikit risih terus di perhatikan seperti itu, dia mendadak seperti bodoh dan banyak melakukan kesalahan saat di perhatikan seperti itu oleh Arzan.


Arzan berdiri dari duduknya, bukan untuk pergi mandi tapi malah mendekati Kia. "Mandi nya nanti saja, aku sudah kelaparan sejak tadi." Wajahnya berubah menjadi memelas, pria itu sedikit aneh menurut Kia jika bertingkah seperti itu.


"Baiklah-baiklah, tidak perlu mengarahkan spatula itu ke kepala ku."


Kia menggelengkan kepalanya melihat Arzan, entah apa yang terjadi padanya saat di kantor tadi tapi sikapnya yang berubah itu sangat aneh menurut Kia. Baru tinggal beberapa hari saja bersama Arzan banyak hal sudah terjadi, banyak juga sesuatu tentang pria itu yang tidak di ketahui orang tapi di ketahui Kia setelah tinggal bersama.


Seperti yang Kia katakan setelah makan malam nya siap, Kia memanggil Arzan. Mereka berdua kini tengah menikmati makan malam bersama, tak banyak yang mereka bicarakan sebab keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Arzan juga tak berniat memberitahu Kia bahwa dia mencari tahu tentang hutang yang melilit perusahaan papa nya, Arzan pikir itu akan membuat Kia tidak nyaman jadi dia cukup tahu saja.


"Ehem!!! Apa kau tidak akan pergi kuliah? Sudah berapa kali kau melewatkan kuliah mu?" tiba-tiba Arzan menanyakan kuliah Kia.


"Aku berhenti pergi kuliah." Sahut Kia.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kenapa? Karena aku takut, kalau aku pergi kuliah pasti anak buah papa akan memaksa ku ikut dengan mereka. Belum lagi aku tidak memiliki biaya, jadi aku berhenti kuliah."


Miris sekali bukan? Mau hidup dengan layak saja Kia ketakutan, dia tidak bisa pergi kuliah karena rasa takut itu.


"Apa papa mu sekejam itu?"


"Dia sangat kejam, aku sangat membencinya sekarang." Kia begitu emosi ketika membahas tentang papa nya. "Aku lebih baik hidup miskin, daripada harus menikah dengan pria tua beristri."


Arzan mengerti dia juga sudah tahu mengenai pria yang akan di jodohkan dengan Kia itu, jujur saja Arzan merasa Kia itu gadis pemberani. Dia berani membela dirinya, dan mempertahankan hak nya untuk memilih pasangan bahkan dia rela hidup sengsara demi menolak perjodohan paksaan itu.


"Apa kau akan terbebas dari perjodohan itu kalau hutang perusahaan papa mu lunas?"


"Hah?"


"Katakan padanya, kau akan melunasi hutang nya asal dia tidak memaksa mu lagi."


Kia semakin bingung sekaligus terkejut, dia masih mencerna perkataan Arzan.


"Uncle,"


"Aku akan melunasi hutang-hutang papa mu, katakan padanya akan ada investor besar untuk perusahaan nya." Seperti tak memiliki beban apapun, Arzan sangat lancar mengatakan itu.


...***...

__ADS_1


...Up!Up!Up!...


...Yuhuuu!!! Up guys, maaf baru up🙏...


__ADS_2