Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
S2• Mengikhlaskan


__ADS_3

***


Arzan baru terbangun dari tidurnya, dia tidur cukup lama karena habis meminum obat. Arzan duduk merenung di dalam kamarnya, pria itu masih memikirkan yang dia lihat di toko obat tadi. Seakan itu adalah mimpi, dan dia sangat berharap itu adalah mimpi.


Sayangnya itu adalah sebuah kenyataan, bukan mimpi. Perjuangannya selama ini ternyata tidak ada gunanya, pada akhirnya semua sia-sia saja. Dia telah melewatkan kesempatan untuk melupakan semuanya, di saat seharusnya dia melangkah maju tanpa mengingat apapun Arzan justru melangkah maju karena mengingat itu.


Dia bekerja keras demi orang ini, demi orang yang ternyata sudah tak mengingatnya lagi. Harapan Arzan hancur, waktu selama 5 tahun ini tidak ada artinya. Tapi, dia juga sangat bersyukur orang yang ingin dia bahagiakan telah bahagia meski bukan bersama dirinya.


"Setidaknya kau bahagia dengan kehidupan mu, biarkan aku merasakan sakit nya sendiri dan bisa segera melupakan semuanya."


Gladys nama itu beberapa tahun belakangan ini menghantui Arzan, pria itu sangat ingin bisa bertemu dengan nya kembali. Dia dulu berlaku tidak adil pada nya demi mencari orang tuanya, tapi sekarang Arzan ingin menebus semuanya.


Sayangnya, Gladys yang dulu berangkat ke London hanya untuk melanjutkan kuliah kini telah menetap di sana. Gladys pun sudah memiliki keluarga, dan dari apa yang Arzan lihat sepertinya dia hidup bahagia.


"Glad, aku bahagia untuk mu. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk mu." Arzan menatap fotonya dan Gladys yang di ambil beberapa tahun lalu, dia masih menyimpan dengan baik foto tersebut.


Arzan pergi ke alamat yang sudah di berikan rekan nya, dia memastikan juga bahwa yang dia lihat itu benar Gladys atau bukan. Akhirnya semua jelas, itu benar Gladys dan alamat itu juga benar alamat Gladys.


Ternyata Gladys sudah menikah dengan pria pilihan nya, dia hidup bahagia bahkan Gladys sudah memiliki anak. Selama ini Arzan merasa bersalah karena mengkhawatirkan kehidupan Gladys di luar sana, namun ternyata Gladys hidup dengan baik.


Rasanya sedikit sakit di saat dia yang tak bisa maju karena masa lalu, tapi masa lalu nya bahkan tak memikirkan dirinya. Tapi, Arzan sangat lega Gladys hidup dengan baik. Setidaknya dia tidak perlu lagi merasa khawatir, ini juga artinya Arzan bisa melanjutkan hidupnya.


Masa lalunya sudah selesai, semua sudah jelas tidak ada lagi yang bisa di pertahankan. Dia akan menata kembali hidupnya, terutama hatinya. Meski sudah ada Kia yang jelas menunggu dirinya, tapi Arzan masih butuh waktu. Kali ini Arzan tidak boleh salah langkah, jangan sampai dia menyakiti Kia juga.


Dia harus benar-benar berdamai dengan semuanya, dengan masa lalunya. Arzan juga harus meyakinkan hatinya, apakah benar dia sudah mengikhlaskan Gladys sepenuhnya? Apakah dia bisa mencintai Kia dengan sungguh-sungguh?


"Aku pasti kembali, tapi aku masih butuh waktu."


...***...

__ADS_1


...3 Bulan kemudian...


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Arzan seharusnya sudah memutuskan sesuatu dalam 3 bulan ini. 3 bulan sepertinya sudah cukup untuk Arzan berpikir dan menentukan pilihan nya, pria itu harus memutuskan semuanya sekarang sebelum terlambat.


Dengan kemeja hitam nya, Arzan berjalan menyusuri jalanan kota. Setiap hari Arzan akan mengunjungi sebuah restoran ala Indonesia, restoran itu membuat nya tenang saat sedang berpikir. Ada menu restoran yang menjadi favorit nya, makanan sederhana tapi selalu membuat nya terasa dekat dengan seseorang. Sebuah nasi goreng menjadi makanan favorit Arzan belakang ini, itu karena mengingatkan dia pada Kia. Gadis itu pernah membuat kan makanan yang sama saat mereka tinggal bersama kala itu.


"Help me!"


"Siapapun tolong saya!!!"


TOLONG!!!


Teriakan seseorang mengalihkan atensi Arzan, pria itu mencari sumber suara. Niat ingin pergi ke restoran pun dia urungkan, Arzan pergi menuju sumber suara. Di sana ada seorang wanita yang tengah terduduk di pinggir jalan, Arzan langsung berlari menghampiri nya.


Semakin dekat semakin jelas, ada darah yang mengalir di sekitar nya. Arzan menebak wanita itu mengalami pendarahan, sebab dia terlihat sedang mengandung.


"Permisi, Nyonya anda baik-baik saja?"


"Gladys?"


"Arzan?"


Ucap keduanya bersamaan saat melihat satu sama lain, ini sungguh di luar dugaan mereka bertemu setelah sekian lama.


"Kau baik-baik saja Glad? Ayo biar aku bantu."


"Tolong selamatkan bayi ku, aku tidak bisa kehilangan dia." Gladys memegangi perutnya, ini baru memasuki bulan ke 7 usia kandungan nya. Namun, tiba-tiba saja dia mengalami kontraksi dan mengeluarkan darah.


Arzan membantu Gladys berdiri, dia menuntun wanita itu untuk pergi ke rumah sakit. Untung nya sebuah taxi lewat, jadi mereka langsung pergi menuju rumah sakit dengan menggunakan taxi. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah sakit, buru-buru Arzan menurunkan Gladys. Dia memanggil beberapa perawat untuk membantunya, dengan cepat Gladys di bawa keruang penangan.

__ADS_1


"Dok, selamat keduanya." Dokter yang akan menangani Gladys pun diam sejenak, sebelum kemudian mengangguk mengerti.


Arzan mondar-mandir tak jelas di depan ruangan, dia bingung harus mengabari suami Gladys lewat siapa. Oh, astaga hampir saja Arzan lupa Gladys membawa tas tadi. Sial nya tas Gladys tertinggal di dalam taxi, Arzan mengumpat kesal. Namun, siapa sangka sang sopir taxi terlihat menghampiri Arzan. Sebuah tas branded miliki Gladys terlihat ada di tangan nya.


"Ini tertinggal di mobil." Ucap sopir taxi itu.


"Terima kasih!"


Arzan mengambil alih tas nya, dia mencari ponsel milik Gladys. Setelah berhasil menemukan nya, Arzan mencoba membuka ponsel itu. Satu hal yang tidak berubah dari Gladys, dia tidak pernah mengunci ponsel nya dengan password dan sejenisnya. Setelah berhasil menemukan kontak milik suami Gladys, Arzan pun siap menelpon nya. Tapi, dia merasa bingung, apa yang akan dia katakan?


...***...


Sebuah momen yang bahkan tidak pernah Arzan bayangkan, dia menemani Gladys melahirkan. Meski bukan proses normal, bayi dan ibunya berhasil di selamatkan. Namun bukan melahirkan anak darinya, melainkan dari orang lain. Suasana haru dan canggung bercampur menjadi satu, saat Gladys memperkenalkan dirinya pada suami wanita itu.


"Terima kasih, berkat bantuan anda istri dan bayi saya baik-baik saja." Ucap suami Gladys.


"Ah iya, tidak perlu berterima kasih."


"Makasih ya Ar, kamu sudah menolong ku dan bayi ku. Gak nyangka ya, kita bertemu lagi dalam situasi seperti sekarang ini." Arzan tersenyum menyahuti, pria itu tidak bisa berbicara terlalu banyak padahal ada banyak sekali hal yang ingin dia tanyakan.


Bayi mungil yang baru saja lahir secara prematur sangat mirip dengan Gladys, tadi Arzan sempat melihat nya di ruang inkubator. Melihat itu Arzan semakin yakin memantapkan dirinya, jika malaikat kecil itu bisa hadir dalam kehidupan baru Gladys kenapa dia tidak bisa melanjutkan hidupnya?


"Aku semakin yakin melepaskan mu, dan aku sangat yakin dengan pilihan ku."


...***...


...Holla!! Double up, kalian harus ramein!!...


...Like jngn lupa!!!...

__ADS_1


^^^Kalo boleh mnta yok spam komen!!😭😭^^^


Arzan otw Comeback ke indo!! Ayo spam kome!!!


__ADS_2