
***
Setelah pemeriksaan dari dokter yang di panggil ke apartemen tidak memberikan kejelasan yang memuaskan, Dean memutuskan membawa Zivana ke rumah sakit. Zivana yang tak tahu apapun itu hanya menurut saja, dia juga masih merasa pusing.
Dean membuat janji dengan salah satu dokter proporsional di rumah sakit itu, kebetulan sekali dokter itu adalah anak dari salah satu rekan bisnis nya. Dia mudah mendapatkan janji lewat bantuan rekan nya itu, kalau tidak mungkin akan sulit membuat janji dengan dokter Cicilia dokter ahli kandungan proposional.
Keduanya menunggu sebentar di ruang pemeriksaan khusus, dokter pun datang dengan perawat dan beberapa alat medis. Zivana sempat takut, tapi dokter menjelaskan alat-alat itu dan fungsi nya apa. Barulah dia merasa tenang, dan tentunya dia sempat terkejut kenapa bisa Dean punya pikiran kalau dia berbadan dua?
"Tenang ya, ini hanya pemerikasaan biasa. Nanti kalian bisa liat baby nya." Dokter itu begitu ramah, sehingga Zivana merasa sangat nyaman selama melakukan pemeriksaan karena terus di ajak berbicara.
Dean setia menemani nya, pria berumur itu siap siaga di samping Zivana. Ini juga kali pertama dalam hidup Dean, menemani sang istri untuk melakukan tes kehamilan. Jujur saja Dean sangat gugup, dia bahkan jauh lebih gugup dari Zivana.
"Mas," panggil Zivana saat melihat Dean begitu gusar di samping nya, dia tersenyum manis pada Dean. "Kenapa hhmm? Ziva gak apa-apa ko, ini kan pemeriksaan biasa aja. Katanya mau tau, di sini ada baby nya apa tidak." Dia menuntut tangan Dean untuk menyentuh perut ratanya.
"Aku hanya gugup." Kata Dean.
Dokter Cicilia tersenyum melihat keduanya, meski Dean terlihat lebih berumur dari Zivana tapi saat-saat seperti ini Zivana jauh lebih dewasa pemikiran nya. Sebab dia merasakan nya, dan paham betul bagaimana kondisinya. Berbeda dengan Dean yang hanya tahu lewat ungkapan kata-kata Zivana, tapi tidak tahu rasanya seperti apa itu jauh lebih membuat nya khawatir. Ditambah lagi ini adalah pertama kalinya untuk Dean, tentu saja dia akan merasa sangat gugup.
Terakhir dokter melakukan USG pada janin Zivana, layar monitor itu mulai menampilkan gambar. Dean berkeringat dingin sesaat setelah layar monitor itu menyala, dia hampir tak percaya bisa melihat hal ini dalam hidup nya.
Dokter Cicilia mengarahkan alat itu di perut Zivana, dia juga menunjukkan posisi janin nya di layar monitor. "Nah, ini baby kalian."
"Itu baby dok? Bukan kah itu lebih mirip biji kacang?" Dean menatap penuh teliti, dia merasa sedikit aneh dengan gambar di monitor.
Zivana memukul lengan pria itu, kenapa Dean terdengar begitu bodoh sekali. Pertanyaan macam apa itu?
"Huss!! Kamu itu ngomong apa sih, masa calon bayi sendiri di katain mirip biji kacang."
Dean menggaruk tengkuknya. "Maaf, tapi itu benar-benar terlihat seperti biji kacang."
Dokter Cicilia pun menjelaskan semuanya, kenapa dia terlihat kecil? Berapa usia nya? atau kemajuan kondisi Zivana yang sempat drop itu.
__ADS_1
Usia kandungan Zivana memasuki minggu ke 4, mungkin dia juga akan di serang morning sickness di tri semester pertama nya. Untuk itu dokter sudah menjelaskan beberapa tips untuk membantu Zivana agar tetap kuat menghadapi morning sickness nya. Dengan teliti juga Dean mendengarkan dan berusaha mengingat semuanya.
"Sebelumnya saya mohon maaf, tapi saya ada pasien darurat. Saya tinggal sebentar tidak apa-apa kan?" Dokter Cicilia mendapatkan panggilan adanya pasien darurat.
"Iya, dom tidak masalah."
Akhirnya Dean dan Zivana menunggu dokter Cicilia dia ruang tunggu, hanya tinggal menunggu hasil USG keluar dan beberapa resep untuk Zivana juga beberapa laporan dari pemeriksaan tadi.
Mereka berdua menatap pada beberapa perawat yang sibuk berlarian, mereka sedang menangani pasien darurat yang di katakan dokter tadi. "Mas, apakah pasien nya separah itu ya? Duhh, kasian banget sih."
Dean menggedigkan bahunya acuh, dia tidak tahu dan tidak ingin tahu juga. "Tidak tau."
"Mas, dia bukan pasien melahirkan kan? Ziva, ko jadi ya?"
Nah, kan Zivana jadi parno gara-gara terlalu memikirkan pasien darurat itu. Dean menutup mata Zivana, dia menyuruh nya untuk tidak memikirkan apapun.
"Tutup matanya, kau jadi melantur kemana-mana." Dean bahkan menyembunyikan wajah Zivana di ketiak nya, tapi Zivana tak marah sebab dia menyukai bau ketiak Dean dari dua hari lalu.
"Jangan lupa untuk meminum vitamin nya sesuai resep ya." Kata perawat itu. "Jangan terlalu stres juga, semua akan baik-baik saja. Nikmati moment kehamilan pertama nya, dan makan yang teratur."
Zivana mengangguk mengerti, kemudian mereka pun mulai berjalan keluar. Sepanjang perjalanan menuju luar, Dean terus menggandeng Zivana bahkan dia sempat meminta Zivana untuk di gendong saja. Namun, Zivana menolak karena merasa dirinya juga mampu untuk berjalan.
"Sayang, sudahlah ayo aku gendong saja."
"Gak mas, Ziva bisa jalan sendiri."
"Sayang, kalau kamu terpeleset bagaimana? Aku tidak ingin terjadi apapun pada mu, dan calon baby kita." Dean terkesan sangat berlebihan menurut Zivana.
"Apa sih? Berlebihan tau tidak?!" jengah Zivana.
Zivana dan Dean sibuk beradu mulut, keduanya beradu pendapat. Dean yang terlalu paranoid dan Zivana yang tak bisa diam dia selalu aktif lincah bergerak kesana kemari.
__ADS_1
"Tuan, nona?"
"Arzan?"
"Kak Arzan?!"
Siapa sangka mereka tak sengaja bertemu Arzan di sana, Zivana dan Dean saling pandang dengan melempar pertanyaan. Sementara itu Arzan terlihat cemas, pria itu nampak gusar. Dean memperhatikan nya, seperti nya ada masalah pikir Dean.
"Ada masalah Ar?"
Arzan nampak berpikir sejenak, dia ragu untuk mengatakan nya. Pria itu berusaha untuk mencari alasan lain, agar dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Jujur saja Arzan kaget melihat keduanya ada di rumah sakit, jika tahu ada mereka Arzan pasti memilih jalan lain untuk masuk kedalam.
"Ar, apakah ada masalah? Sedang apa kau di sini?" Dean bertanya lagi.
"Oh, itu. Aku sedang memeriksakan kesehatan ku," imbuh Arzan.
"Kau sakit?"
"Kak Arzan sakit apa? Apakah serius penyakit nya?" Zivana ikut menimbrung, dia juga sangat penasaran.
Arzan menggaruk kepalanya, apa yang harus dia katakan sekarang?
"Tidak, aku baik-baik saja. Apakah memeriksakan kesehatan itu hanya untuk orang sakit? Aku rutin melakukan nya saat di Indonesia, kau juga tahu itu tuan." Jelas Arzan.
Dean mengangguk, dia pun tahu itu adalah rutinitas Arzan setiap bulannya. Tapi sepertinya kali ini ada yang berbeda, tapi apakah itu?
"Saya permisi tuan, nona. Sebentar lagi dokter akan memulai pemeriksaan nya."
...***...
...Annyeong guys!!...
__ADS_1
...Spam komen yuk!!!!...