
***
Setelah drama di kamar mandi, kini mulailah drama di tempat tidur. Zivana merasa begitu merinding melihat Dean sekarang, pria itu terus menempel padanya. Dulu Zivana yang begitu agresif, tapi sekarang Dean yang menjadi agresif. Jika dulu Zivana yang selalu memulai lebih dulu, maka sekarang berbeda. Dean dengan celana pendek dan kaos putih polos, memeluk erat tubuh Zivana sambil mengendus aroma tubuh gadis itu.
Zivana yakin malam ini dia tidak akan bisa tidur karena Dean tidak membiarkan nya bergerak sedikit pun, tidak melakukan ritual lain tapi tetap saja Zivana yang tersiksa.
"Tidur Zivana," titah Dean.
"Om, Ziva gak bisa napas. Huhhhh!!" Gadis itu berakting terengah-engah agar Dean melepaskan nya, namun pria itu tak terpengaruh sedikit pun.
Masih terus memeluk erat tubuh mungil Zivana, Dean memejamkan matanya. Melihat itu Zivana yang hendak protes pun tidak jadi, pria itu terlelap dengan damai. Memandangi lamat-lamat wajah Dean, Zivana tersenyum sendiri. Pria ini suaminya sekarang, duda 30 hari yang dia kejar bahkan di saat dirinya masih SMA.
"Capek banget ya, om? Kasian suami Ziva, tidur yang nyenyak ya." Zivana mencoba menarik tangan nya untuk menyentuh lembut wajah Dean, perlahan Zivana menyentuh pipi beralih pada hidung mancung nya dan terakhir menyentuh bibir pria itu.
Zivana terkekeh geli mengingat dia yang dulu begitu berani mencium bibir pria ini, bahkan di saat dia belum menerima Zivana. Rasanya masih seperti mimpi, perjalanan nya untuk mengejar duda 30 hari ini sudah berakhir dengan bahagia. Mereka menikah dan akan memulai hidup baru sebagai pasangan suami istri, amat sangat bersyukur Zivana bisa mendapatkan pria seperti Dean.
"Suami mu ini memang tampan, tapi kau masih punya banyak waktu untuk melihat wajah tampan nya. Sekarang waktunya tidur, jangan memandangi wajahnya terus." Betapa terkejutnya Zivana saat Dean mengeluarkan suara, pria itu kan sudah tidur?
"Om, om belum tidur?" Zivana hendak bangkit namun Dean menahannya, pria itu menyuruh Zivana untuk tetap tidur di dada nya.
"Hmmm, tidurlah ini sudah malam. Ada banyak hal yang harus di kerjakan besok." Pria itu kembali menyahuti dengan mata nya yang tetap terpejam.
"Tapi Ziva susah napas om," ujar Zivana dan Dean pun melepaskan pelukannya. Zivana baru bisa bernapas dengan lega, gadis itu mencari tempat ternyaman di sana.
Zivana memandikan lengan Dean sebagai bantalan nya, gadis itu pun menjadikan tubuh Dean sebagai guling. Ini jauh lebih nyaman di bandingkan posisi sebelumnya, merasa begitu nyaman dengan posisi nya sekarang Zivana mulai memejamkan matanya.
"Om, om sudah tidur?" gadis itu kembali membuka matanya, dia jadi susah tidur sekarang.
__ADS_1
"Hmmm," hanya deheman saja yang Dean keluarkan.
"Isshhh! Padahal Ziva belum ngantuk."
Hening untuk beberapa saat, mungkin benar Dean tidur sungguhan kali ini. Zivana merasa bosan sekarang, dia kembali membangunkan Dean.
"Om, om! Bangun, Ziva gak bisa tidur. Om, bangun!!" gadis itu menepuk-nepuk pipi Dean.
Dean kembali terbangun, susah sekali tidur di saat Zivana belum tidur. Gadis ini tidak membiarkan nya tidur, karena dia tidak bisa tidur. Apa sekarang Dean akan menemani gadis ini untuk bergadang semalaman?
"Tidur sayang," ujar Dean dengan suara khas bangun tidur, pria itu mengucek matanya.
"Ziva belum mau tidur, om."
Dean menghela nafasnya dalam, menidurkan gadis ini ternyata sangat sulit. Apa harus Dean mengajak nya bermain seperti bayi, lalu dia akan tertidur karena lelah?
...***...
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Arzan saat melihat Dean berkali-kali menguap dan memijat pangkal hidung nya.
"Ya, aku baik-baik saja." Dean mencoba untuk fokus pada laporan yang di bawakan Arzan.
Arzan berpikir sejenak, kenapa Dean terlihat begitu lelah dengan mata yang sayu seperti kurang tidur. Wajah nya bahkan terlihat sedikit pucat, ingatan Arzan baru bekerja setelah beberapa saat. Dia baru teringat kemarin adalah pernikahan dadakan Dean dan Zivana, yang artinya tadi malam itu malam pertama mereka. Pantas saja terus menguap, gempur sampai pagi ternyata pikir Arzan.
"Tuan, harusnya mengambil cuti saja. Tuan pasti sangat ke lelehan," kata Arzan.
"Kau benar, tapi aku harus segera menyelesaikan semuanya dan berangkat ke London. Lagi pula lelah ku ini tidak ada apa-apanya, di bandingkan kenikmatan yang aku dapatkan."
__ADS_1
Arzan melotot mendengar nya, Dean sangat jujur sekali. Lelah yang dia rasakan tidak ada ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan yang dia rasakan, kalimat itu terdengar begitu ambigu di telinga Arzan.
Apa senikmat itu? Pertanyaan seperti itu tiba-tiba saja muncul di kepala Arzan, dia menjadi ternodai akibat kalimat ambigu Dean. Arzan menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran kotor nya.
"Kenapa kau menggelengkan kepala mu? Bosan memiliki kepala?"
Arzan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pria itu tersenyum kikuk. "Tidak tuan,"
Dean memutar bola matanya jengah, Arzan terkadang sangat aneh. Dean menggerakkan leher nya karena merasa pegal, pria itu menyandarkan tubuhnya.
"Badan ku rasanya sakit semua, Zivana benar-benar keterlaluan." Dengus Dean.
OMG!!! Apa yang baru saja Dean katakan? Otak Arzan semakin menjadi tidak suci, pria itu langsung membayangkan hal gila di kepalanya.
"Tuan,"
"Apa?!"
".............."
...***...
...Up!Up!Up!...
...Arzan otaknya astaga ðŸ˜ðŸ˜...
Guys, yuk follow Ig author @haluqueen09 follback langsung DM aja😚 sekalian kita ngobrol-ngobrol, aku juga pengen deket sama kalian😚😚
__ADS_1