Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 27


__ADS_3

***


Siang itu Zivana tengah sibuk melayani para pengunjung caffe, seperti biasa pengunjung caffe selalu ramai. Siang ini, pemilik caffe akan datang untuk memeriksa tempat itu. Kata para karyawan caffe lain, pemilik caffe akan datang setiap satu bulan sekali. Untuk yang mengawasi setiap Minggu nya ada orang kepercayaan nya. Para karyawan juga bilang, jika bos mereka masih muda.


Zivana dengan seragam kerja nya, apron berwarna coklat melekat pada tubuh bagian depan siap mengantarkan pesanan pada meja-meja pengunjung. Ada beberapa karyawan caffe cuti, jadi Zivana bekerja double sebagai kasir dan juga pelayan. Gadis dengan apron coklat itu melayani setiap pengunjung dengan senang, dia kelihatan tak memiliki beban sedikit pun.


"Mbak, sudah punya kekasih belum? Kalau belum, saya bersedia jadi calonnya." Goda salah satu pengunjung di meja nomor 10.


Zivana tersenyum menanggapi nya, dia menyajikan minuman nya lalu pergi tanpa menjawab apapun. "Sombong banget mbak!" seru pengunjung itu lagi.


Gadis itu tak perduli, dia juga tak masalah di katai sombong. Lagi pula hal yang dia tanyakan itu adalah privasi, memberitahu atau tidak itu hak Zivana. Dengan menahan kesal nya, Zivana kembali ke meja kasir.


"Kenapa Ziv?" tanya Sandra saat melihat wajah kesal Zivana.


"Biasa, ada orang yang kepo banget sama status orang lain. Heran deh, hidup nya itu kaya gak ada kerjaan lain." Kesal Zivana.


Sandra tertawa kecil mendengar nya, jika di perhatikan memang semenjak Zivana ikut membantu mengantar pesanan ke meja-meja pengunjung gadis itu sering kali di goda. Selain karena dia pelayanan termuda, dia juga sangat cantik dengan tubuh bak model.


"Semenjak kamu double kerjanya, kamu tuh banyak yang godain. Makanya cepetan punya suami, biar ada yang jagain." Ejek Sandra terdengar begitu menyebalkan di telinga Zivana.


"Memang nya kamu sudah bersuami? Nyuruh orang, tapi dirinya sendiri statusnya belum jelas." Sahut Zivana.


Sandra itu memiliki kekasih, dia sudah bertunangan tapi beberapa Minggu belakangan ini hubungan mereka tidak baik-baik saja. Bahkan tunangan Sandra kemarin ketahuan pergi bersama wanita lain, hubungan mereka menjadi semakin tidak jelas saja.


"Justru karena itu aku menyuruh mu langsung bersuami. Tidak perlu pake acara tunangan, langsung ijab qobul kan bisa." Kata Sandra tak mau kalah.


"Mending kalau ada yang mau, coba kalau tidak ada. Tunangan gak, nikah apa lagi. Berujung jadi perawan tua." Balas Zivana.

__ADS_1


Keduanya malah tertawa terbahak-bahak, perbincangan mereka tentang pasangan tidak pernah serius. Sandra bukan orang yang akan mengumbar masalah yang terjadi antara dirinya dan tunangannya, dia akan memilih memendam semua sendiri. Terkecuali, jika saat Zivana atau teman yang lain tahu dengan sendirinya dan bertanya kepada nya dia baru akan menjelaskan yang terjadi. Itu pun hanya ringkasan nya saja, dia tidak terlalu suka membagi masalahnya dengan orang lain.


"Satu yang harus kamu ingat. Jangan bodoh karena cinta, jangan pernah." Tegas Sandra mengingat begitu malang nasibnya.


***


"Maaf, saya tidak sengaja." Zivana menundukkan kepalanya karena takut. Dia tak sengaja menabrak seseorang saat membuang sampah sisa-sisa makanan caffe.


"Hati-hati saat berjalan. Kau punya dua mata dan dua kaki, apa itu belum cukup untuk memfasilitasi kau berjalan dengan baik?" kata orang itu, terdengar nada suara yang sedikit kesal.


Zivana menggigit bibir nya, dia juga heran kenapa dia melamun saat berjalan. Bisa-bisanya dia menabrak bos nya sendiri. Ya, orang yang Zivana tabrak itu Gio pemilik caffe tempat nya bekerja.


"Maaf pak, saya tadi melamun. Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar tidak sengaja." Ucap Zivana sambil terus menunduk karena takut.


Gio menghela nafasnya, dia benar-benar kesal tapi melihat Zivana yang ketakutan membuat nya tak tega. Pria itu memilih meninggalkan Zivana, entah kenapa Gio selalu merasa iba saat melihat gadis ini. Dia merasakan hal aneh pada dirinya. Tatapan mata Zivana itu mengganggu nya, tatapan sayu itu mengganggu pikirannya. Ini kali pertama mereka bertemu, tapi Gio hampir tidak waras karena tatapan gadis itu. Benar-benar susah untuk di percaya.


"Gio, kau sudah gila." Umpat nya pada dirinya sendiri.


Akan seperti apa hidupnya jika sampai kehilangan pekerjaan ini, dia tidak akan makan dan minum. Bahkan dia tidak akan bisa tidur dengan tenang karena tidak punya tempat tinggal, benar-benar mengerikan saat membayangkan itu semua.


Gadis itu bergegas masuk untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, sebentar lagi caffe tutup. Hari ini tutup lebih awal, sebab mereka akan sibuk menyiapkan sebuah acara besar. Sebuah acara perayaan besar yang akan di gelar lusa, acara itu juga di gelar dalam sebuah gedung besar.


"Baiklah, besok separuh karyawan datang ke caffe dan separuhnya ke gedung tempat acara. Kalian mengerti?" kata Gio memberikan instruksi untuk besok dan persiapan acara besar itu.


Semua karyawan mengangguk paham, bos mereka itu selain masih muda dan tampan dia juga tegas. Banyak wanita yang menyukai pria seperti nya, tak heran jika ada beberapa pelanggan yang datang itu karena ingin melihat nya bukan karena caffe nya. Mereka tidak tahu saja bahwa Gio tidak setiap hari datang ke caffe, bahkan Gio datang satu bulan sekali.


Caffe di tutup, semua karyawan pun bergegas pulang tak terkecuali Zivana. Gadis itu kini sedang menunggu taxi di pinggir jalan, dia akan memesan taxi online tapi ponselnya ternyata mati. Terpaksa Zivana menunggu taxi di pinggir jalan. Beberapa menit berlalu, taxi tak ada yang lewat. Zivana memutuskan untuk berjalan sedikit dari tempat nya, ada sebuah halte di sana. Gadis itu duduk di halte untuk menunggu kendaraan umum lewat, dengan bermain ponsel Zivana menunggu dengan tenang di sana.

__ADS_1


"Kenapa belum pulang?" tanya Gio yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Zivana.


Zivana terlonjak kaget, gadis itu hampir saja menjatuhkan ponselnya. "Pak Gio? Bapak sedang apa di sini, nunggu bus juga?"


"Untuk apa saya menunggu bus, saya bawa mobil." Gio menunjuk mobil nya yang berada di depan mereka. "Jawab pertanyaan saya, kenapa belum pulang?" ulang Gio.


Gadis cantik dengan rambut panjang tergerai itu tersenyum kikuk, kenapa pula dirinya jadi bodoh. Mana mungkin owner caffe tempat nya bekerja menunggu bus, sudah pasti membawa mobil pribadi nya.


"Jawab!" titah Gio lagi.


"Itu, saya nunggu bus pak. Mau pesen taxi online, ponselnya mati. Jadi, saya nunggu angkutan umum." Jawab Zivana.


Gio menatap sekeliling, di sana sudah mulai sepi. Seperti nya juga, bus tidak akan lewat taxi pun tidak ada yang akan lewat rasanya.


"Masuk ke mobil, tidak akan ada bus lewat kemari." Ucap Gio sambil berjalan menuju mobil nya.


Zivana tercengang, gadis itu masih tak bergerak bahkan tak bersuara. Dia hanya diam menatap Gio yang sudah masuk kedalam mobilnya.


"Ayo masuk!" kata Gio yang terdengar seperti perintah tegas.


Zivana kembali di buat tercengang, dia jadi bingung harus bagaimana. Masuk, atau tetap diam di sana. Tapi, jika tidak ada bus ataupun taxi lewat dia pulang menggunakan apa?


"Masuk atau tetap di sini sampai besok?" Gio terlihat begitu dingin, namun dia sangat perhatian dan baik. Itulah kesan pertama yang Zivana dapatkan di hari pertama nya bertemu Gio.


...***...


...Annyeong!!...

__ADS_1


...Up nih!!...


...Ngilang lama dan baru nongol wkwk🙏🙏 Extra sabar ya kalian🙏...


__ADS_2