Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 47


__ADS_3

***


Hari keberangkatan Dean dan Zivana ke London pun tiba, keduanya sudah mempersiapkan segala kebutuhan mereka. Menetap untuk 1 tahun lamanya memerlukan persiapan ekstra, untung nya selalu ada Arzan yang bisa di andalkan. Sebenarnya mereka bisa menetap di sana untuk selamanya, tapi Dean dan Zivana tidak mau meninggalkan orang tua mereka.


Mengenai kuliah Zivana, dia akan melanjutkan kuliah di London. Hanya satu tahun tapi tidak masalah, saat dia kembali ke Indonesia dia akan melanjutkan kuliah nya di Indonesia.


Kini keduanya sudah siap di bandara internasional Soekarno-Hatta, kedua orang tua Zivana dan Dean pun ikut serta mengantar mereka ke bandara.


"Kalian baik-baik ya di sana. Jangan lupa kabari mama tiap hari." Resa melepaskan pelukannya dari Zivana, wanita itu sedikit tak rela melepaskan putri kesayangannya itu.


"Ziva, kalau Dean nanti berbuat aneh-aneh di sana. Kamu pulang saja, tinggalkan dia." Kini mama Dean yang memberikan petuah, tentu saja itu membuat Dean nampak kesal.


"Mama, memang nya aku akan berbuat apa di sana. Jangan meracuni pikiran istri ku." Dean menampilkan wajah tak sukanya.


"Kamu kan suka aneh-aneh, mama tidak mau Zivana kesulitan gara-gara kamu." Wanita paruh baya itu memasang wajah julit nya. "Sayang, kalau Dean merepotkan mu lapor sama mama. Biar mama langsung berangkat ke sana, dan ngasih pelajaran dia."


Zivana tertawa kecil mendengar nya, dia merasa begitu di perhatikan dan sangat beruntung memiliki mertua seperti mama Dean ini. Dia di perlakukan seperti putrinya sendiri, bahkan Dean yang notabene adalah putra nya itu di nomor duakan karena Zivana.


"Mama jangan khawatir, Ziva bisa ko ngatasin nya. Jaga diri kalian ya, jangan sakit nanti Ziva sedih di sana." Zivana menahan cairan bening di pelupuk mata nya, dia tidak ingin menangis di hadapan semuanya.


Perpisahan itu semakin mengharukan saat Zivana dan Dean beberapa menit lagi lepas landas, dengan saling menggenggam tangan keduanya mengutamakan diri untuk meninggalkan keluarga nya sementara waktu.


"Satu tahun bukan waktu yang sebentar, tapi aku rasa semua akan terasa cepat saat kita sudah terbiasa di sana. Jangan khawatir kan apapun, secepatnya kita akan kembali lagi."

__ADS_1


Zivana mengangguk mengerti, dia memeluk lengan Dean dan menyandarkan kepalanya di sana. Mereka menaiki pesawat kelas bisnis, tinggal beberapa menit lagi pesawat itu akan lepas landas. Arzan duduk di kursi samping bersebrangan dengan Zivana dan Dean.


Menatap pada foto seseorang yang dia simpan rapi di dompet nya, Arzan mengulas senyum saat mengingat momen-momen kebersamaan mereka. "Kita akan bertemu."


Sementara itu Kia yang baru saja sampai di bandara berlari dengan nafas tersengal- sengal, gadis itu melihat ada keluarga Zivana yang berjalan ke luar bandara. Kia menghampiri mereka, gadis itu terlambat datang sebab mobil yang dia tumpangi mengalami masalah di jalan.


"Om, tante!"


"Kia?" Resa menatap Kia dari bawah sampai atas, gadis itu terlihat sedikit berantakan. "Kamu kenapa? Ini kenapa berantakan gini?"


Kia mencoba mengatur nafasnya, gadis itu membungkuk sebentar. Setelah di rasa cukup, Kia mengatakan tujuan nya datang ke bandara. "Ziva udah berangkat?"


Resa mengangguk mengiyakan. "Baru saja pesawat mereka lepas landas."


Semua memandang Kia kasihan, gadis ini pasti kecewa karena tidak sempat mengucapkan salam perpisahan nya. Apa lagi penampilan Kia yang terlihat sedikit berantakan itu membuat Resa semakin iba.


"Kia, kamu bicara pada Zivana saat dia sudah sampai nanti. Sekarang ayo pulang, biar tante antar kamu." Kia menolak dengan sopan ajakan Resa, gadis itu beralasan akan pergi ke tempat lain terlebih dahulu.


"Selamat tinggal, aku turut bahagia untukmu." Kia menatap nanar pada pintu keberangkatan, kisah perpisahan di bandara memang sangat menyakitkan. Tapi, dia cukup bersyukur setidaknya mereka hanya berbeda tempat, tidak berbeda alam.


***


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Dean, Zivana dan juga Arzan sampai di London. Di sana Dean dan Zivana tinggal di sebuah apartemen, itu bukan apartemen yang biasa Dean gunakan saat datang kemari. Dia membeli unit baru untuk dia dan Zivana tinggali, sementara apartemen yang lama di tempati Arzan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Zivana hanya tidur, sekarang pun saat di mobil gadis itu tertidur kembali. Dean merasa kasihan melihat wajah kelelahan Zivana, ini pertama kalinya gadis itu bepergian jauh.


"Ar, kau bisa menjemput ku lusa. Untuk besok istirahat lah dulu, aku juga tidak bisa langsung meninggalkan Zivana saat baru sampai." Kata Dean dan Arzan pun mengangguk mengerti.


Mereka sampai di apartement tempat tinggal Dean, gadis itu masih tertidur pulas. Tidak tega membangunkan akhirnya Dean memilih untuk menggendong Zivana, dengan Arzan yang membawakan koper-koper mereka.


Setelah sampai di unit yang akan Dean dan Zivana tempati, Dean meminta Arzan membuka kan pintu apartemen nya. Dean langsung menidurkan Zivana di kamar mereka, setelah dirasa Zivana merasa nyaman Dean pun kembali ke ruang tengah.


Di sana ada Arzan yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya, Dean ikut mendudukkan dirinya di sana. "Kau bisa pulang, dan istirahat lah. Jika kau memerlukan sesuatu katakan saja."


Arzan mengangguk mengerti. "Aku ingin mencari dia," sahutnya.


Dean mengerti, pria itu juga setuju dengan Arzan. "Katakan saja jika nanti kau butuh bantuan, mungkin aku bisa meminta beberapa rekan ku untuk membantu mencari nya."


"Baiklah, aku pergi dulu."


Dean menatap punggung lebar Arzan yang menghilang di sebalik pintu, dia merasa kasihan dengan nya. Pasti sulit untuk Arzan berharap pada sesuatu yang belum pasti keberadaan nya, tapi hebatnya Arzan tak pernah terlihat lemah. Dia selalu bersikap seolah hidup nya normal-normal saja, dia tak pernah mengeluh kan apapun.


"Aku hampir tidak percaya kisah mu jauh lebih menyakitkan dari kisah ku."


...***...


...Annyeong!!!...

__ADS_1


...Up!Up!Up!...


__ADS_2