Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 53


__ADS_3

***


Keributan yang terjadi akibat ulah Zivana membuat gempar seluruh kantor, yang paling menjadi pembicaraan hangat adalah pemecatan resepsinya itu. Kasihan bukan? Dia tidak tahu menahu siapa Zivana, dan harus berakhir dengan di berhentikan kerja.


Sebenarnya Zivana juga salah, dia tidak menjelaskan siapa dia sebenarnya. Tapi, mungkin tidak akan ada yang percaya juga padanya, sebab tidak ada yang tahu kalau bos mereka sudah memiliki istri.


Jujur saja Zivana merasa kasihan, tapi nampaknya Dean sudah membuat keputusan itu dengan yakin dan tidak bisa di ganggung gugat lagi. "Om, ehh mas kasihan resepsionis itu. Dia gak salah, Ziva yang gak kasih tau mereka siapa Ziva sebenarnya."


Dean yang tengah memeriksa beberapa laporan pun berhenti sebentar, dia melihat pada Zivana yang kini duduk di sopa. "Kau baik-baik saja? Dia membuat mu jatuh, mana mungkin aku membiarkan nya."


"Itu Ziva yang ceroboh, bukan salah resepsionis nya." Tegas Zivana.


Dean menghela nafasnya, dia menelpon Arzan untuk membatalkan pemecatan resepsionis itu. "Sudah."


Pria itu kembali fokus pada laporan yang dia periksa, Zivana yang tadinya duduk kini berdiri dan menghampiri Dean. Ia memeluk nya dari samping, membuat Dean yang kaget pun hampir terhayung untuk Dean cepat berpegangan pada meja.


"Maafin Ziva ya, gak ngabarin dulu mau kesini. Gara-gara Ziva suasana kantor jadi ribut, lain kali Ziva gak akan datang lagi."


Dean langsung mengubah posisi mereka, dia menarik gadis itu dengan satu tarikan hingga dia terduduk di pangkuan nya. "Aku senang kau datang, teruslah datang sesukamu. Setidaknya aku merasa lebih bersemangat saat bekerja, dan memandangi wajah mu di waktu bersamaan."


Zivana tersenyum manis, dia mencium singkat pipi pria itu. "Ziva sayang om Dean,"


"No!" protes Dean saat Zivana tak sengaja memanggil nya om, gadis itu tertawa dan kembali mengulang kalimat nya.


"Ziva sayang mas Dean,"


Dean menarik tengkuk Zivana, dia mencium bibir nya. Refleks Zivana mengalungkan tangannya, ciuman mereka semakin lama semakin dalam. Keduanya larut sampai tak sadar pintu ruangan tak di kunci, alhasil lagi lagi Arzan menonton live streaming mereka.

__ADS_1


"Ups! Maaf, saya tidak melihat apapun." Arzan langsung menutup kembali pintu ruangan Dean, pria itu mengumpat kesal karena selalu melihat adegan yang tak seharusnya.


"Sialan! Bisa-bisanya dia lupa mengunci pintu, dan aku selalu menjadi penonton mereka." Arzan kembali ke ruangannya.


Sementara itu, Zivana dan Dean kompak tertawa geli. Bukan sekali Arzan melihat mereka bermesraan, sudah beberapa kali dia melihat adegan romantis keduanya. Wajah Arzan selalu sama, dia selalu menampilkan wajah datarnya dan berpura-pura tidak melihat.


"Kak Arzan pasti mengumpati kita, dia selalu menjadi penonton live kita berdua." Kata Zivana.


"Arzan sudah terbiasa," sahut Dean.


...***...


Hari-hari Dean dan Zivana berjalan sangat baik, hingga tak terasa sudah hampir 4 bulan mereka di London. Zivana mampu berbaur dengan lingkungan di sana, meski di awal cukup sulit tapi sekarang dia mulai terbiasa. Dia juga melanjutkan kuliah nya, hari-hari dia datang ke kampus juga menyenangkan. Dia memiliki teman yang berasal dari dua negara berbeda, Luana gadis asal Tiongkok yang menetap di London, dan Valerie gadis asal Italia yang juga menetap di London.


Diawal mungkin sulit untuk mereka bisa berteman, apa lagi jadi teman dekat. Tapi, ketiga nya mampu mengatasi itu, hingga waktu beberapa bulan ini membuat mereka sangat dekat.


Terlebih lagi ini kali pertama Dean melihat Zivana sakit, di tambah mereka jauh dari keluarga. Bisa dibayangkan betapa khawatir nya Dean sekarang? Dia membatalkan rapat di kantor, dia juga sudah meminta Arzan untuk mengatur penerbangan keluarga dari Indonesia untuk ke London.


"Sayang, makan dulu." Dean membawakan makan untuk Zivana, sedari pagi dia belum makan apapun.


Zivana lagi-lagi menolak makanan yang di bawakan Dean, sudah tiga kali dia menolak makan. Dean menghela nafasnya berat, dia tak tega melihat kondisi Zivana. Wajah nya semakin pucat, dia juga sudah beberapa kali membujuk Zivana untuk pergi ke dokter.


"Mas, pusing banget." Keluh Zivana.


"Pusing? Sayang, ayo kita kedokter saja. Mau ya, ke dokter sekarang?"


Kali ini Zivana mengangguk setuju, buru-buru Dean bersiap untuk membawa nya kedokter. Baru saja Dean akan membantu nya bangkit, tapi Zivana mengeluhkan pusing nya semakin terasa. "Ssssttt!! Pusing banget mas,"

__ADS_1


"Iya sayang, sabar sebentar kita kedokter." Dean memapah nya untuk keluar kamar, Zivana melangkah sangat pelan karena lemas dan juga pusing.


Sedikit lagi sampai di pintu, Zivana tiba-tiba tak sadarkan diri. Tentu saja Dean menjadi semakin panik, buru-buru Dean mengangkat Zivana dan menidurkan nya di ranjang. Pria menelpon Arzan agar memanggilkan dokter, selagi menunggu dokter sampai Dean berusaha melakukan sesuatu agar Zivana sadar.


"Sayang, bangun. Jangan membuat ku khawatir, ayo bangun."


Dean mengoleskan minyak angin, dia menggosok-gosok kaki dan tangan Zivana dengan minyak angin itu. Selang beberapa menit Zivana sadar, gadis itu perlahan-lahan membuka matanya.


"Mas," lirihnya.


"Iya sayang, pusing banget ya? Tahan ya, dokternya sebentar lagi sampai." Dean mengelus lembut puncak kepala Zivana, dia juga memijat-mijat kepala gadis itu.


Zivana berusaha untuk bangun, Dean pun membantu nya untuk duduk. Dean menautkan alisnya saat Zivana meminta untuk mendekat, lebih tepatnya meminta Dean untuk memeluk nya. Meski heran tapi Dean melakukan nya, dia memeluk tubuh hangat Zivana.


Bel dari arah depan terdengar berbunyi, Dean meminta Zivana untuk berbaring lagi. Dia membukakan pintu, itu dokter yang di panggil Arzan. Tanpa menunggu lama Dean langsung menyuruh nya untuk memeriksa Zivana, dia sudah tak tega melihat gadis itu menahan sakit.


Dean memperhatikan semua yang di lakukan dokter wanita itu, dia terus diam meski ingin bertanya. Sebenarnya apa yang dokter itu lakukan kenapa lama sekali?


"Dokter, istri saya kenapa? dia baik-baik saja kan?" tanya Dean yang sudah tak sabar lagi.


Namun, dokter itu menyuruh Dean untuk bersabar sebentar. Dia masih melakukan beberapa pemeriksaan pada Zivana, setelah beberapa saat pemeriksaan terakhir pun selesai di lakukan.


Dean yang sudah tak sabar pun langsung mengajukan pertanyaan lagi, dia masih mengulang pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. "Dokter, istri saya kenapa? dia baik-baik saja kan?"


"Saya tidak bisa memastikan semuanya, lebih baik secepatnya di periksakan ke dokter yang lebih ahli."


...***...

__ADS_1


...Up!Up!Up!...


__ADS_2