Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
S2• Kesempatan


__ADS_3

***


Sebuah pertemuan yang sebelumnya tak pernah Kia bayangkan, pertemuan dirinya dan Arzan. Ini benar-benar suatu keajaiban bagi nya, dia pria yang berhasil mencuri hatinya yang beberapa waktu lalu pergi kini ada di hadapannya lagi. Sayangnya, perasaan nya begitu canggung. Seakan pria yang dulu dia sukai, berbeda dengan pria yang kini ada di hadapannya.


Entah kenapa Kita sendiri tidak tahu, yang jelas rasanya sangat berbeda. "Uncle, kapan kembali ke Indonesia? Apa Zivana juga sudah kembali?" tanya Kia.


"Tidak, hanya aku yang kembali. Mungkin mereka akan kembali setelah nona Zivana melahirkan." Sahut Arzan.


"Wah, sebentar lagi aku jadi aunty?!" Kia terdengar begitu antusias, sebuah senyum yang selama ini ingin Arzan lihat kini terlihat jelas di wajah Kia.


Gadis itu masih belum berubah, sangat ceria dan selalu tersenyum dengan lebar. Ini yang selalu Arzan rindukan dari sosok Kia.


"Hmm, apa kau sangat merindukan nona Zivana? Bagaimana jika kita kesana saat dia sudah melahirkan nanti, kemungkinan besar mereka baru akan kembali ketika anak mereka sudah besar. Kau tau kan, Dean itu sangat posesif terhadap keluarga nya." Kata Arzan.


Kia tertawa kecil, benar juga kata Arzan Dean itu posesif. Ide untuk ke London pun tidak buruk, Kia juga ingin bertemu baby mungil yang mirip Zivana dan Dean itu. Nanti, dia akan memikirkan hal ini lagi mengingat Zivana baru akan ke Indonesia setelah bayi nya tumbuh besar.


Sesaat keheningan menyelimuti keduanya, ini benar-benar aneh Kia merasa begitu canggung padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini.

__ADS_1


"Kenapa kau diam? Apa sekarang penguntit cilik ini sudah berubah, hmmm?" tangan Arzan terulur menyentuh puncak kepala Kia, tentu saja Kia menjadi semakin canggung sekaligus deg-degan.


"Eh, itu... Aku merasa sedikit canggung, kita sudah lama tidak bertemu." Arzan mengangguk membenarkan ucapan Kia, jujur saja Arzan pun merasakan nya.


"Kau benar, tapi apa itu akan menciptakan jarak antara kita? Ku rasa tidak, sebab kita hanya canggung untuk sementara. Aku akan berusaha membuat mu nyaman saat bersama ku, jadi berusaha juga untuk menghilangkan rasa canggung mu."


Apa ini? Kia sekali lagi dibuat terheran-heran, pria di hadapannya baru saja mengatakan akan berusaha membuat nya nyaman. Sebuah kenyamanan apa lagi yang dia maksud? Dulu saja tanpa sadar dia sudah membuat Kia nyaman, namun pada akhirnya dia menghancurkan semuanya lalu sekarang apa lagi?


"Kenyamanan apa yang kau maksud? Aku sungguh tidak ingin merasakan itu darimu, sebab aku sudah terlanjur merasa kecewa pada rasa nyaman itu." Kia mulai mengungkapkan unek-uneknya, jika Arzan datang untuk mengungkit hal yang sudah berlalu Kia rasanya enggan untuk merespon.


Arzan menatap serius, apa Kia membenci dirinya?


"Aku tidak lupa, aku ingat itu. Tapi, rasanya itu sudah tidak penting lagi sekarang. Aku sudah berhasil melupakan mu, perasaan ku untuk mu sudah tidak ada lagi. Aku tidak tahu kapan persisnya perasaan itu memudar, yang jelas sekarang ini aku tidak menyukai siapapun."


Pernyataan Kia terdengar begitu menyakitkan, Arzan benar-benar terlambat. Sekali lagi dia menjadi pria bodoh karena terlalu lama berpikir, alih-alih mendapatkan jalan yang tepat justru dia semakin jauh dengan cintanya. Dulu Gladys, sekarang Kiara.


"Kia, dengarkan alsan ku baru setelah itu kau bisa memutuskan semuanya." Pinta Arzan.

__ADS_1


"Aku sudah memikirkan semuanya, dan aku rasa semuanya sudah benar. Lagi pula untuk apa aku terus menunggu mu, yang pergi untuk membawa cinta masa lalu nya pulang." Kali ini sebuah tamparan keras seperti baru saja menghantam Arzan, perkataan Kia berhasil membuat Arzan bungkam.


Kia sudah mulai tersulut emosi, dia tidak ingin melewati batas dan mengatakan hal yang lebih kasar dari itu. Sebab itulah dia memutuskan untuk pergi, dia juga belum menutup toko untungnya tadi ada Ziko untuk dimintai tolong menjaga toko.


Tak mau tinggal diam, Arzan mengejar gadis itu. Dia tahu dia salah, Arzan tahu dirinya begitu bodoh. Tapi, sebuah kesempatan terakhir masih pantas Arzan dapatkan.


"Tunggu! Kia!" Arzan menarik tangan gadis itu, dia mengunci pergelangan tangan Kia begitu kuat. "Beri aku kesempatan sekali lagi, biarkan aku menjelaskan semuanya dan membuktikan perasaan ku pada mu."


Kia malas mendengar nya, rasanya percuma dia sudah terlanjur kecewa. "Aku mohon, aku berjanji tidak akan mengecewakan mu lagi."


Wajah memohon Arzan, perkataan nya dan juga tatapan matanya terasa tulus. Kia merasakan nya, tapi ego nya menolak untuk percaya. Hatinya juga masih mengharapkan pria ini, namun egonya tidak ingin mengakuinya.


"Kia, beri aku kesempatan terakhir."


"Baiklah, satu minggu. Kesempatan mu hanya satu minggu, jika dalam waktu satu minggu gagal meyakinkan ku, kau harus pergi dan jangan pernah mengganggu ku lagi."


...***...

__ADS_1


...Up!!!...


__ADS_2