
***
Hari ini Zivana di perbolehkan pulang, hanya saja mereka perlu memperhatikan beberapa makanan yang akan di berikan pada Zivana. Tentunya itu sudah menjadi hal yang biasa bagi seseorang setelah melahirkan. Ada beberapa hal yang harus Zivana pelajari juga, bukan hanya Zivana tapi Dean pun demikian.
Mereka harus mulai terbiasa bangun tengah malam, mengurus bayi dan juga masih banyak hal lainnya yang harus mereka lakukan. Tapi, itu tidak terlalu berat sebab keduanya sangat menikmati masa-masa seperti itu. Keduanya berpikir bahwa, momen seperti itu tidak akan bisa di ulang kembali karena itu mereka tidak ingin melewatkan momen apapun.
"Ziva, mama letakan Alister di tempat tidur nya ya. Nanti kalau bangun kamu susui saja, mama mau masak dulu." Ujar Resa.
"Iya ma, tapi Ziva masih belum berani ngangkat baby Al tanpa bantuan." Zivana masih sedikit kaku, dia selalu di bantu Resa atau mama mertuanya untuk menggendong baby Al.
"Nanti panggil saja mama atau mama mertua kamu, tapi saran mama kamu harus belajar juga." Zivana mengangguk mengerti, setelah itu Resa pun pergi menuju dapur.
Zivana merapihkan beberapa peralatan Alister, dia meletakkan benda yang mungkin akan di butuhkan seharian ini di tempat yang mudah di jangkau. Alister sesekali menggeliat dengan sigap Zivana menggoyang-goyangkan tempat tidur nya.
Baby boy yang satu itu tertidur kembali, dia terlihat lebih anteng dibandingkan hari-hari sebelumnya. Alister tertidur begitu pulas, sampai Zivana pun tanpa sadar ikut tertidur juga. Beberapa menit berlalu, Alister masih tertidur dengan nyenyak. Dean masuk untuk menyimpan beberapa popok yang baru saja dia beli, pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah wajah damai kedua makhluk yang menjadi sumber semangat nya.
Tangan Dean terulur untuk memperbaiki posisi tidur Zivana, dia tertidur dengan bersandar pada sandaran tempat tidur. Tidur seperti itu bisa membuat nya merasakan sakit di bagian leher.
Tiba-tiba saja suara tangisan Alister terdengar, Dean buru-buru menghampiri bayi kecil itu. "Wah, wah! Jagoan daddy, sudah bangun hmm?"
__ADS_1
"Ooeekkk! ooeekkk!!!
"Suttt!! sutt!!! Kenapa, mau mimi ya?" Dean lebih mahir untuk menggendong bayi, tanpa ragu dia mengangkat tubuh Alister dan menggendong nya.
Menggoyangkan tubuh nya untuk menenangkan Alister, tapi sepertinya Alister haus sekarang ini. Dia tak berhenti menangis meski Dean sudah berusaha, suara tangisan Alister itu sangat keras Zivana pun terbangun.
"Mas, Alister sudah bangun?"
"Dia haus, dari tadi nangis terus."
"Ya ampun, kenapa gak bangunin Ziva sih? Bawa sini Alister nya." Dean menyerahkan Alister, dengan hati-hati Zivana mengambil alih bayi kecil itu.
Dengan hati-hati Zivana menyusui bayi laki-laki itu, Alister masih terus menangis karena tidak mendapatkan asi nya.
"Tenang sayang, coba sekali lagi." Dean membantu memegangi Alister, dia meminta Zivana untuk kembali memberikan asi nya.
Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Alister dapat menyusu dengan baik. Itu berkata Dean yang terus mengarahkan Zivana, dia juga meminta Zivana untuk tak panik saat Alister menangis seperti tadi. Zivana hanya perlu tenang dan memberikan asi nya.
"Wah, Alister kehausan ya? Pelan-pelan sayang, mommy nanti kesakitan." Dean begitu gemas melihat Alister, bayi itu terlihat begitu kehausan.
__ADS_1
"Ziva takut kalau Alister tidak mendapatkan asupan asi yang cukup, apa kita tidak sebaiknya menggunakan susu formula juga buat Alister?" Baby blues itu yang Zivana alami untuk minggu pertama nya menjadi seorang ibu, Dean selalu memberi nya pengertian untuk tidak terlalu khawatir.
"Tidak perlu sayang, asi kamu saja sudah cukup. Kamu hanya perlu lebih memerhatikan asupan makanan, Alister tidak akan kekurangan apapun percaya lah." Kata Dean.
Zivana diam untuk sesaat, dia merasa dirinya sering merasa khawatir belakang ini. Kadang Zivana susah tidur sebab memikirkan Alister, dia sering merasa dirinya kurang dalam mengurus Alister. Tapi tentunya ada Dean yang selalu memenangkan dirinya, pria itu selalu mengatakan bahwa apapun yang Zivana lakukan sudah lebih dari cukup. Dean sering mengatakan bahwa Zivana itu wanita hebat, dia istri sekaligus ibu yang luar biasa untuk Dean dan juga Alister.
"Mas, makasih ya. Sudah sabar menghadapi Ziva yang kadang seperti anak kecil, cengeng dan merepotkan." Ujar Zivana.
"Tidak ada yang merepotkan ataupun di repotkan, aku senang bisa membantu dan ikut mengurus Alister juga. Kita rawat Alister sama-sama, sesibuk apapun aku jika kamu butuh bantuan akan aku usahakan." Dean menarik Zivana dalam dekapan nya, dia mengelus lembut pipi mungil Alister.
"Ziva, beruntung banget punya suami sebaik mas Dean dan juga bayi lucu seperti Alister. Ziva janji, akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi ibu dan istri yang baik."
"Aku jauh lebih beruntung memiliki kalian berdua dalam hidup ku." Sebuah kecupan mendarat di kening Zivana, dan pipi Alister.
Keduanya akan saling membantu untuk merawat Alister, mereka akan melakukan yang terbaik untuk putra kecilnya itu. Kehadiran Alister semakin memperkuat cinta keduanya, Alister akan menjadi alasan mereka untuk selalu bekerja keras.
...***...
...Guys! Gak bisa ngasih banyak extra chapter nya, tapi semoga suka ya🥳...
__ADS_1
Mungkin sebagian dari kalian tidak merasa puas dengan akhirnya, tapi ini beneran yang terbaik versi aku🙏 Maaf masih memiliki banyak kekurangan, di cerita selanjutnya semoga bisa lebih baik. Silahkan kasih masukan nya agar bisa aku evaluasi lagi🙏
Ini bukan akhir guys, masih ada cerita Arzan dan mungkin akan ada cerita lainnya lagi🤗