
***
Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Pria dengan perawakan tinggi itu baru saja keluar dari lobi bandara, dia berdiri di luar menunggu sebuah mobil jemputan. Setelan celana jeans dan kaus hitam yang di balut sebuah jaket jeans yang senada dengan warna celananya, tak lupa sebuah kacamata hitam bertengkar manis di hidung mancung nya. Tak lama kemudian mobil yang dia tunggu pun tiba.
"Hallo bro, apa kabar nih?" Bian si bapak satu anak namun masih sering membuat ulah, dia turun dari mobil menyapa pria yang sedari tadi menunggu nya.
"Aku tidak punya waktu berbasa-basi, cepat antar aku pulang." Tegasnya.
"Oh, ****! Kau sama saja dengan Dean. Selalu marah-marah pada ku, padahal aku tidak salah apapun." Ujar Bian.
"Terserah!" Pria itu mulai jengah, selalu saja Bian itu terlalu banyak bicara.
"Ayolah Ar, aku bercanda. Arzan!" Bian mengejar Arzan yang meninggalkan dirinya. Arzan meninggalkan koper nya, dia sudah masuk lebih dulu kedalam mobil.
Alhasil Bian harus mengangkat koper Arzan memasukan nya kedalam bagasi, sembari terus mengumpat Bian tetap mengangkat koper itu. Di sini dia selalu menjadi budak, baik di hadapan Dean bahkan Arzan.
"Sialan! Dasar sudah tua, masih jomblo tidak berperasaan pula. Pantas saja tidak ada gadis yang menyukainya." Umpat Bian.
__ADS_1
Sementara itu Arzan dia memilih untuk tidak menghiraukan umpatan Bian, padahal dia mendengar jelas umpatan nya. Hanya saja Arzan terlalu lelah untuk berdebat sekarang ini, dia baru sampai dari London. Ya, Arzan memutuskan untuk kembali ke Indonesia lebih dulu. Dia akan mengurus perusahaan di Indonesia, sementara Dean mengurus pekerjaan di London.
"Aku kembali penguntit cilik," Membayangkan wajahnya saja sudah membuat Arzan sedikit kehilangan rasa lelahnya, rasanya lelah yang dia rasakan saat ini akan terbayarkan dengan melihat wajah cantik Kia.
Apa lagi suaranya dan tawa nya, Arzan masih ingat jelas semuanya. Terkadang itu salah satu alasan bagi Arzan untuk merindukan sosok Kia.
Menempuh perjalanan hampir 1 jam akhirnya mereka sampai di apartement Arzan, jalanan hari ini cukup padat. Menatap gedung apartemen yang menjulang tinggi itu, membuat Arzan semakin merindukan Kia. Di tempat ini lah semuanya di mulai, kisahnya dan penguntit cilik itu. Kisah uncle Spiderman dan penguntit cilik.
"Ar, apakah aku boleh menginap malam ini? Aku lelah sekali, kalau pulang pun rasanya aku tak sanggup mengendarai mobil lagi." Bian menunjukan wajah memelas nya.
"Tidak, aku tidak menerima mu di sini. Pulang sana, ada anak dan istri mu yang menunggu mu untuk pulang. Jangan melakukan hal bodoh yang bisa kau sesali nantinya, bagaimana jika besok mereka meninggalkan mu maka kau akan menyesali apa yang terjadi malam ini. Kau mau merasakan hidup namun seperti orang mati? Hidup tapi tidak tenang karena penyesalan, dan juga tidak memiliki tujuan apapun."
"Ar, kenapa terdengar sangat mengerikan sekali? padahal aku tadi hanya bercanda, tapi perkataan mu membuat ku sangat takut." Bian mengembuskan napasnya, dia berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk itu dia pun buru-buru pulang.
Jujur saja Arzan tidak berniat menakut-nakuti Bian, perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Seakan itu semua ungkapan dari lubuk hatinya, perasaan yang selama ini dia kubur dalam-dalam. Arzan juga tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama dengan nya, dia tidak ingin orang lain melakukan kesalahan seperti nya. Karena Arzan tahu, betapa menyedihkan dan melelahkan nya hidup dengan penyesalan.
...***...
Toko hari ini ramai pengunjung, mungkin karena ini hari libur dan banyak orang bermain di tempat yang berada tak jauh dari toko milik mama Kia. Sebuah kebetulan toko milik mama Kia ternyata cukup dekat dengan sebuah taman kecil, hanya menyebrang jalan saja. Biasanya akan ramai pada hari weekend seperti sekarang ini, mereka akan menghabiskan waktu bersantai di taman itu.
__ADS_1
"Kia, mama ada janji nih sama seseorang. Kamu bisa kan jaga toko dulu?"
"Bisa dong mah, udah mama tenang aja Kia jagain dengan baik ko toko nya."
Kala itu Kia sedang sibuk melayani para pembeli, apa lagi banyak anak-anak yang menjadi pembelinya jadi Kia harus extra dalam memberikan pelayanan.
"Permisi, air mineral satu mbak."
"Iya mas, di sebelah sana ya. Maaf, silahkan ambil sendiri."
Si pembeli itu mendadak terdiam, seakan merasa tidak asing dengan suara Kia. Dia menatap pada sang pelayan toko. "Kia?"
"Ya, kenapa?" Kia mendongakkan wajahnya, sama hal nya dengan orang tersebut Kia juga begitu terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang ini.
"Uncle?!"
...***...
...Update!!!!!...
__ADS_1