
***
Dean menatap tajam kucing bernama Ciko itu, dia adalah musuh sesungguhnya. Menunggu Zivana menyiapkan makan malam, Dean di suruh menjaga Ciko. Kucing sombong itu menjadi semakin sombong menurut Dean, belum juga sehari sudah menggeser posisi nya bagaimana nanti.
Membayangkan itu Dean menggeleng kan kepalanya, tidak bisa dibiarkan!
"Sayang, Ciko nakal nih!" teriak Dean tiba-tiba mengadukan kenakalan Ciko, padahal kucing itu diam saja tidak menganggu nya sama sekali.
"Apa?! Sebentar mas, Ziva lagi masak. Jagain dulu Ciko nya!" Zivana menyahuti dengan berteriak juga.
Dean mengumpat sendiri, dia memasukan Ciko pada kandang besinya dan membawa nya menjauh dari ruang tengah. Pria itu membawa Ciko ke balkon, dia meninggalkan Ciko di sana. Dean menutup rapat-rapat pintu menuju balkon, biarkan kucing itu mendapat pelajaran.
Persetan dengan harganya yang mahal, Dean tidak peduli. Meski dia kucing mahal, tapi dia membahayakan posisi Dean sebab itu Dean tidak peduli dengan kerugian nya.
"Rasakan itu sialan!"
Dean kembali ke ruang tengah, dia duduk membaca majalah. Sesekali dia melirik pada arah dapur dan juga balkon. Suara Ciko tak terdengar, mungkin karena dia berada di luar. Dean menghidupkan televisi, dia sengaja membesarkan volume nya agar saat Ciko bersuara Zivana tak mendengar nya.
"Mas, makanan nya sudah siap!!" terdengar suara Zivana memekik indra pendengaran, Dean pun bangkit menuju dapur.
Zivana menarik kursi untuk Dean duduki. "Ayo duduk, Ziva ambiliin makan nya."
__ADS_1
Dean menurut, dia juga berusaha menahan Zivana di sana. Sebisa mungkin Dean membuat Zivana sibuk, agar tak ingat pada Ciko. "Sayang, duduk sini." Dean menggeser kursi di sebelah nya.
Zivana pun duduk dengan hati-hati, kehamilan nya yang sudah membesar itu terkadang membuat nya susah untuk bergerak. Seperti mau duduk ataupun saat bangun nya, posisi tidur pun Zivana terkadang kesusahan mencari posisi nyamannya.
"Susah ya mau duduk juga, kamu pasti repot kan?" Dean menatap kasihan istri kecilnya itu. "Maaf ya, harus buat kamu repot."
"Apa sih? Ziva, gak apa-apa mas. Lagian ini juga anak Ziva, ini baby kita. Ziva malah seneng bisa ngerasain yang namanya mengandung, dan akan melahirkan. Karena itu semua impian wanita di dunia, menjadi ibu setelah sembilan bulan mengandung dan berjuang untuk melahirkan. Ziva baik-baik saja mas,"
Dean mengusap puncak kepala Zivana, dia juga turun mengelus perut besarnya Zivana. Mengecup penuh cinta pipi Zivana dan bergantian dengan perut besarnya.
"Aku janji akan selalu menjaga kalian, dan akan melakukan yang terbaik untuk kalian. Hidup ku hanya untuk kalian berdua, jadi tolong tetap lah bersama ku." Dean berkali-kali menghujami kecupan di wajah Zivana, dia juga tak henti-hentinya mengelus perut perempuan itu.
***
"Hah? Kenapa?" Dean masih memejamkan matanya, dia masih begitu mengantuk.
"Ciko mas, Ciko hilang."
Dean langsung membuka matanya, mendengar kata hilang dia langsung terbangun. "Siapa yang hilang?"
"Ciko,"
__ADS_1
Dean kembali terdiam, dia berpikir keras siapa Ciko itu. Ah, dia baru ingat teranyata itu nama kucing sombong sialan itu.
"Cari besok saja, sekarang waktunya tidur." Baru saja akan tidur kembali, Zivana malah terdengar menangis di tepi ranjang.
"Hikss.... Hiksss..... Hikkssss........."
Ayolah ini hanya perkara kucing, kenapa pul Zivana sampai menangis seperti itu?
Dean bangun lagi, pria itu turun dari ranjang. Zivana mengikuti Dean yang keluar dari kamar, dia sebenarnya takut di tinggal sendiri.
"Dia tidak hilang, aku menaruhnya di balkon. Tidak mungkin kita membawanya ke kamar kita, itu tidak sehat untuk mu."
Akhirnya dengan terpaksa Dean mengambil Ciko di balkon, Zivana masih memperhatikan pria itu. Perlahan Dean membuka pintu balkon, dia keluar balkon untuk mengambil Ciko lagi. Tapi, yang terjadi di luar dugaan nya.
"Ciko!"
"Ciko, dimana kamu?!"
"Mana Ciko?" tanya Zivana.
"Hilang!!" sahut Dean mulai panik.
__ADS_1
...***...
...Up lagi!!!...