Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 35


__ADS_3

***


Esok harinya Dean membawa Zivana bertemu orang tuanya, gadis itu untuk pertama kalinya di bawa ke kediaman keluarga Dean. Rumah yang hanya di huni oleh mama, papa dan beberapa pekerja saja. Dean juga tak tinggal di sana, pria itu juga jarang berkunjung.


Zivana mengenakan celana jeans dan kemeja kotak-kotak, gadis itu berpenampilan sederhana yang mana memang seperti itulah dirinya. "Om, nanti di sana Ziva harus ngapain ya?" tanya Zivana pada Dean yang sedang fokus menyetir mobil.


"Jungkir balik kalau bisa, kalau tidak bisa cukup duduk saja." Dean menatap lurus jalan kota, dia tak melirik sekilas pun pada gadis di sampingnya.


Wajah Zivana terlihat kesal, gadis itu mengeratkan gigi nya dan mengangkat tangan hendak memukul Dean. Namun, dia tak berani tentunya.


"Nyebelin banget!"


Dean terkekeh sendiri, kemarin gadis ini santai-santai saja bahkan dia begitu bersemangat kenapa sekarang malah jadi bingung sendiri.


"Bersikaplah seperti biasa, orang tua ku tidak akan mempermasalahkan apapun." Kata Dean.


Zivana tak menghiraukannya, gadis itu memilih menatap kearah luar jendela. Dia kemari bersikap biasa saja, bahkan begitu bersemangat tapi hari ini dia mendadak gugup.


Setelah beberapa saat keduanya pun sampai di kediaman keluarga Dean, kegugupan gadis itu semakin terlihat. Bahkan tangan Zivana berkeringat karena gugup, dia menarik nafas guna mengusir kegugupan nya.


"Siap?" Dean menggenggam tangan gadis itu, dapat Dean rasakan tangan Zivana basah. "Kau gugup?" Zivana menganggukkan kepala.


"Sedikit."


Dean merangkul Zivana membawa nya masuk kedalam rumah, gadis itu semakin gugup saat melihat seorang wanita berdiri menyambut mereka. Apakah itu mama Dean? Sepertinya begitu, karena disini tidak ada saudara yang lain nya yang ikut tinggal.


"Hai! Wellcome sayang, ayo masuk! masuk!"

__ADS_1


Wanita yang diketahui mama Dean itu pun menyambut baik mereka, tanpa ada basa basi lagi Zivana langsung di rangkul dan di bawa masuk. Seketika itu, Zivana mulai lega. Gugup yang dia rasakan mulai berkurang.


"Papa mana mah?" tanya Dean karena tak melihat sang papa.


"Oh, itu papa kamu di kamar. Sebentar lagi turun, biasalah papa kamu kalau bersiap-siap seperti ibu-ibu, lama pake banget."


Dean terkekeh mendengar nya, papa nya ternyata masih senarsis dulu. Dia akan lama untuk bersiap-siap ketika akan ada acara penting atau pertemuan keluarga, papa Dean memiliki kebiasaan unik. Bagaimana tidak di saat para pria lain lebih cepat dan lebih simpel dalam berdandan, lain halnya dengan papa Dean yang membutuhkan waktu lama.


Pertama, dia akan sibuk memilih pakaian lalu aksesoris seperti jam tangan, bahkan cincin batu akik antik. Lalu sepatu, dan tak lupa juga model rambut. Mungkin ada pria yang sama juga seperti papa Dean, tapi kebanyakan dari mereka melakukan itu dengan cepat. Lain hal dengan papa Dean, dia memiliki beberapa model yang dia suka lalu mencobanya ketika merasa tidak cocok dia akan mengganti lagi.


Begitu seterusnya sampai dia menemukan hal yang pantas untuk nya, dan juga nyaman menurut nya. Satu hal lagi, papa Dean gemar mengubah warna rambut nya. Tua bangka, masih banyak gaya.


"Mah, Dean ke kamar dulu." Dean menaiki tangga menuju kamarnya.


Zivana dan mama Dean langsung sibuk mengobrol, baru bertemu tapi sudah sangat asik berbincang. Zivana gadis yang mudah berbaur dan banyak bicara, dipertemukan dengan mama Dean yang cerewet. Sama sama suka berbicara, maka tak heran keduanya langsung akrab.


"Kamu cantik, masih muda bisa mendapatkan pria muda juga. Tapi, kenapa mau sama Dean? Dean itu tua, dia juga duda. Kalau mama jadi kamu sih ogah." Mama Dean bergidik seperti jijik, padahal yang dia bicarakan itu putra nya sendiri.


"Hah? Cinta pandangan pertama dong?" Zivana mengangguk malu-malu, mama Dean bersaksi berlebihan menurut Zivana. Wanita itu membuka lebar-lebar mulut nya shock.


"Asal kamu tau ya, Dean sama papa nya itu punya sifat yang sama. Mama dulu tergila- gila sama papa Dean, tapi sekarang kalau saja bisa mama mau nyari suami baru saja."


Zivana menautkan alisnya. "Kenapa?"


"Mereka sama-sama aneh, nyebelin dan udah tua." Mama Dean terkekeh sendiri diakhiri kalimat nya.


Zivana tertawa mendengarnya, mama Dean sangat humoris dan juga sama seperti dirinya banyak bicara. Zivana merasa nyaman saat berbincang bersama, tidak ada kecanggungan antara mereka.

__ADS_1


"Kalau Ziva sih gak mau nyari yang baru, soalnya mendapatkan om Dean sudah lebih dari apapun." Zivana membayangkan betapa sulit nya dia saat Dean bersikap dingin padanya dulu, dan dia merasa sangat bersyukur sekarang dia dan Dean bisa bersama.


"Mama kasih tips, nanti kalau kalian sudah menikah kamu jangan lemah-lemah. Mending jadi istri galak kaya mama, biar suami kamu itu takut dan gak berani macem-macem." Saran mama Dean sangat terdengar sadis apa lagi suami Zivana nantinya adalah putra nya sendiri.


"Mama jangan meracuni pikiran calon istri Dean!" pria yang sedang berjalan kearah mereka mengeluarkan suara, itu papa nya Dean. "Cukup mama saja yang seperti nenek lampir, menantu papa jangan."


Zivana langsung berdiri dan bergerak untuk menyalami papa Dean, gadis itu tersenyum ramah. "Apa kabar om?"


"Om? Kamu manggil istri saya mama, lalu kenapa memanggil saya om. Panggil papa, kan nanti juga seperti itu." Zivana mengangguk mengerti, gadis itu meralat perkataan dia yang sebelumnya.


"Apa kabar pah?" ralat Zivana.


"Seperti yang kamu lihat, papa sehat sejahtera. Di tambah sejahtera karena sebentar lagi akan menjadi kakek, benar kan?"


Zivana tersenyum kikuk, gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Belum apa-apa sudah membahas menjadi kakek, tapi Zivana juga sebenarnya sudah memikirkan mengenai malam pertama. Sepertinya kepala mereka memiliki pemikiran yang sama.


"Siapa yang akan menjadi kakek?" Dean tiba-tiba saja ikut bergabung, pria itu menarik Zivana untuk duduk di dekatnya.


"Papa lah siapa lagi? Tuh, lihat belum juga sah tapi duduk aja nempel-nempel terus. Gimana udah sah? Langsung meluncur cucu papa." Sepertinya otak papa Dean sedikit tidak suci, tapi sangat satu server dengan Zivana.


Dean semakin menarik Zivana untuk lebih dekat dengan nya, pria itu dengan tidak tahu malu nya memeluk Zivana lalu mencium pipinya. "Nih pah! Seperti ini, supaya mama galaknya berkurang."


"Oh, no! Mata suci papa!" histeris papa Dean.


Pipi Zivana memerah karena malu, gadis itu tidak berani mengangkat pandangannya. Dean sungguh tidak waras, bisa-bisanya dia melakukan itu di depan orang tua nya.


...***...

__ADS_1


...Hallo!...


Sepertinya sekarang kita akan di hadap kan dengan keluarga setengah sengklek 😭 Doakan semoga Zivana tidak tambah sengklek karena punya calon mertua seperti papa Dean 😭😭


__ADS_2