
Pagi hari jam lima. Syafira di bangunkan dan semua orang sudah siap untuk pergi ke Pantai Anyer. Entah siapa yang merubah jadwal begitu saja. Liburan yang semula ke Lombok dengan durasi dua hari, pindah ke Pantai Anyer, dan cukup satu hari saja.
Syafira merasa bersyukur karena akhirnya tidak jadi bolos kuliah. Namun, ia juga dongkol. Sempat merasa senang karena bisa liburan ke lombok dengan gratis.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Mobil pertama, di Toyota Alpard ada Om Victor, Natasha, dan juga Xander. Di mobil kedua ada Syafira dan Nyonya Hani. Sementara Pak Herdi yang sudah sering sakit, memilih untuk tidak ikut di liburan kali ini.
Setelah dua jam perjalanan, tibalah mereka di pantai Anyer. Syafira, sudah meyakinkan dirinya bahwa dia tidak akan terlalu peduli. Ya, Om Victor sudah lebih dewasa dari dirinya. Pria itu pasti bisa bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihannya saat ini. Termasuk jika nanti Natasha memilih pergi meninggalkannya karena tidak berniat untuk serius dengannya.
Mereka semua sudah tiba di kamar hotel masing-masing. Hanya menyewa tiga kamar saja. Xander dengan Nyonya Hani. Victor dengan Natasha, sementara Syafira sendirian.
Tampak Victor dan Natasha sudah turun ke pantai lebih dahulu. Nyonya Hani masih di kamarnya, memesan sarapan lewat layanan Sevice room. Dan Xander anak itu sedang merengek untuk turun ke pantai, tetapi belum di izinkan oleh omanya.
Syafira melihat ke luar. Pemandangan pantai terlihat dari kamarnya. Hatinya saat ini sedang tidak menentu. Kalau boleh, ia berharap Natasha dan Victor lebih baik berpisah saja! Dengan begitu ia akan mengambil antrean pertama untuk mengantre menjadi kekasih selanjutnya Om Victor.
Terdengar ketukan pintu yang segera menyadarkan Syafira dari lamunan.
“Syafira!” panggil Nyonya Hani.
“Sebentar.” Syafira berbalik dan segera membuka pintu.
“Iya Nyonya, ada apa?” tanya Syafira.
“Tolong temani Xander turun ke pantai, dia maksa mau ke pantai!” ujar Nyonya Hani, yang selalu tidak mungkin di bantah oleh Syafira.
“Iya Nyonya.”
Ini adalah mengapa ia harus ikut. Untuk menjaga Xander.
“Sebentar, aku ganti baju dan akan segera ke sana!” ucap Syafira dengan sopan. Ya, meski hainya terbakar karena melihat Victor dan Natasha yang terus saja berduaan. Syafira harus menghibur diri. Mungkin suara ombak dan pemandangan air laut di pantai bisa mengurangi beban dia dalam hatinya.
Syafira, mengenakan hot pants dengan atasan tank top dan kemeja lengan pendek dengan motif floral untuk bagian luarnya. Kacamata dan topi melengkapi penampilannya kali ini.
Kemudian, ia keluar dari kamar tak lupa mengenakan sandal pantai berwarna putih, dan Sling bag warna senada.
“Xander,” panggilnya di bibir pintu kamar sebelah.
“Iya Kak Syafira!” sahut anak kecil itu. Berlari ke arah Syafria. Ada dua tas kecil berisi mainan yang ia bawa.
“Sini, kakak bawain!” Syafira meraih tas itu, lalu menuntun Xander untuk menurun tangga. Ya, mereka menginap di lantai dua, turun melalui tangga lebih efisien dari pada menggunakan lift.
Mereka berdua terus berjalan menuju pantai. Syafira melihat ke kanan dan ke kiri, mencari di mana keberadaan Om Victor! Seandainya tidak dengan Xander, ia tidak mungkin turun ke pantai sendirian.
“Kak Syafira, nanti temenin Xander bikin Castle ya,” pintanya sudah tidak sabar.
“Siap!” Syafira mengacungkan ibu jarinya.
__ADS_1
Mereka terus berjalan. Kedua manik mata Syafira tertuju pada Natasha yang bersandar di pundak Victor. Angin pantai yang bertiup tak mampu menyegarkan hati Syafira yang terbakar api cemburu.
Sial! Hatiku panas lagi.
“Kak Syafira, kita ke sana saja ya! Sama papa juga!” ajak Xander yang juga melihat Victor.
“Tidak Xander, kita di sini saja!” tolak Syafria. “ Lihat ini, ada kerang!” Syafira menunjuk kerang kecil di dekat kakinya.
Anak kecil itu terlihat sedang berpikir. Melihat sang papa dan melihat kerang yang berada di tangan Syafira.
“Baik, kita di sini saja.”
Xander membuka tas yang berisi mainan. Syafira duduk di sebelah anak itu, dan menemaninya bermain. Sesekali melihat ke arah Victor penasaran apa yang tengah di lakukan sepasang kekasih itu.
Tiba-tiba ada ombak besar yang bergulung, menyapa Syafira dan Xander. Ombak itu bukan hanya membasahi kaki Syafira, tetapi juga membawa kerang-kerang yang sejak tadi dikumpulkan Xander. Beberapa mainannya juga ikut terbawa.
“Kak Syafira!” Xander menangis melihat mainannya terbawa ombak. “Ambilkan itu!” rengeknya.
Syafira menaruh tas, dan segera berlari mengejar mainan milik Xander. Namun, beberapa ombak yang lebih besar bergulung ke arahnya. Syafira kehilangan keseimbangan dan terbawa ombak.
Orang-orang di sekitar Syafira mulai panik. Pun begitu dengan Xander.
Victor yang tahu bahwa gadis itu adalah Syafira, berlari dan berenang menghampiri Syafira.
Beberapa orang dan satu penjaga pantai berenang mengejar Syafira. Namun, Victor yang berhasil meraih tubuh Syafira dan membawanya ke tepi pantai.
Tanpa berpikir panjang, Victor membuka mulut gadis itu lalu memberikan nafas buatan, beberapa kali dia meniupkan oksigen ke bibir Syafira.
Bibir siapa ini, kenapa lembut sekali. Aku harus membuka mata sekarang juga.
Syafira kamu sudah sadarkan!
Kenapa seolah kamu menikmati nafas buatannya. Buka matamu!
Jika kamu menganggap ini ciuman, Victor hanya menganggap sentuhan biasa.
"Uhukk," Syafira terbatuk, lalu dengan perlahan membuka matanya. Semua orang yang menatapnya khawatir bernafas lega melihat gadis itu sudah sadarkan diri.
"Xander," teriak Syafira mencari Xander yang terakhir kali tengah duduk bersamanya.
Melihat orang-orang yang masih berkerumun mengitari Syafira, Victor segera menggendong Syafira dengan kedua tangannya. Diikuti Xander yang berjalan di belakangnya.
Degup jantung sang pria, membuat Syafira memperhatikan bibir pria yang sedang membawanya menuju kamar hotel. Disentuhnya bibirnya sendiri.
Apakah tadi bisa disebut ciuman pertama? Tentu saja tidak, itu nafas buatan Syafira. Tetapi bukankah kamu merasakan bibir lembutnya tadi, manis dan membuat nyaman bukan?
__ADS_1
Syafira sepertinya kamu sangat menikmati nafas buatan yang di berikan pria ini kepadamu!
Sadar Syafira dia tak pernah menganggap kamu ada! Bukankah berpikir seperti itu hanya menyakitimu!
Hentikan!
"Kamu pusing?" tanya Victor sambil menatap penuh perhatian. Ia ingin marah karena Syafira tidak berhati-hati.
"Tidak Om," gumam Syafira pelan.
Tanpa memperhatikan orang-orang yang menoleh ke arah mereka. Victor terus melangkah membawa gadis itu ke dalam kamar hotelnya.
"Kamu istirahat dulu di sini," perintah Om Victor. Menaiki tangga lantai dua, menuju kamar Syafira.
Setibanya di kamar Victor membaringkan Syafira di atas ranjang. “Aku akan menelefon dokter untuk melihat keadaanmu Sya,” Victor menggaruk belakang kepalanya. Ia ingat jika ponselnya ada di dalam tas Natasha. “Emm aku ambil ponsel dulu!”
“Aku tidak apa-apa Om!” ungkap Syafira menatap Xander yang tiba-tiba beringsut ketika beradu pandang dengannya. “Tidak perlu menelefon dokter!”
"Kak Syafira, maafin Xander ya.” Anak kecil itu mendekat dengan raut wajah menyesal.
Syafira mengangguk lalu menatap Xander dan Victor bergantian. “Xander kamu main sama papa ya, Kak Syafira tunggu di sini,” bujuk Syafira.
“Iya,” jawabnya menurut.
“Aku tidak apa-apa Om!” terang Syafira sekali lagi.
“Baik! Kalau butuh apa-apa telefon saja ya! Lain kali hati-hati! Untung saja tadi aku bisa menolongmu kalau tidak! Aku pasti akan sangat merasa bersalah!”
“Makasih ya Om.” Kedua manik mata Syafira melihat tepat di bibir pria itu. Bibir yang baru saja memberi nafas buatan untuknya.
“Ya.”
Xander dan Victor melambaikan tangan dan kembali bermain di pantai.
Kenapa ciuman itu begitu membekas! Sadarkan aku! Ciuman itu menurutku. Tidak dengan Om Victor!
Tak berapa lama suara pintu kamar hotel menutup. Kini ia berada di dalam kamar sendirian.
Dada bidang Om Victor yang menempel di lengannya, masih terasa hangat. Beberapa kali dia meraba bibirnya sendiri. Mencari sisa-sisa ciuman si Om. Hal itu membuat jantungnya kembali berdebar dan melupakan niatnya untuk segera melupakan Victor Erlangga.
Cukup Syafira kamu harus segera melupakannya!
Jangan berdebar lagi karenanya!
Bibirnya, cukup bibirnya saja yang menyentuhmu! Jangan biarkan kamu tenggelam dalam perasaan cinta sepihak!
__ADS_1
Bukankah kamu sudah berjanji untuk berusaha mengenyahkan Om Victor dari hatimu!
...****************...