Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Terlalu Ikut Campur.


__ADS_3

Sejak semalam Syafira memandangi potret Victor yang berada di atas nakas di sebelah tempat tidurnya. Rasanya susah untuk tidak memikirkannya. Syafira masih ingat ketika pria itu mengulurkan tangan untuk pertama kalinya, saat ia menangis melihat jenazah kedua orang tua.


Saat itu, ia tidak memiliki siapa pun. Hanya Victor yang ada untuknya. Hanya Victor yang ada di sampingnya. Hanya Victor, yang peduli padanya bahkan sampai saat ini.


Mungkin sejak saat itu, rasa kepercayaan di dalam hati Syafira mulai tumbuh. Dan saat ini rasa percaya dan yakin juga ketergantungan pada pria itu, membuat Syafira jatuh hati. Bukan sekedar jatuh hati dengan ambisi ingin memiliki. Namun, lebih ingin melihat Victor bahagia.


Dari tadi malam sebelum tidur, dalam tidur, hingga bangun tidur. Syafira selalu memikirkan Victor. Pun begitu saat mandi.


Pagi hari di kampus bersama Aleta. Syafira berjalan menyusuri lorong menuju ruang kelas. Langkah kaki mereka seirama sejalan dengan hati mereka, saling mendukung satu sama lain. Aleta menoleh ke arah Syafira yang berjalan di sampingnya. Terlihat murung.


“Apa ada masalah lagi? Apa mengenai Om Victor!” tebaknya.


"Nanti siang aku mau izin, aku tidak bisa mengikuti pelajaran terakhir karena aku ada acara!" kata Syafira. Sekali lagi, ia mau ijin di jam terakhir.


"Kamu mau ke mana?" tanya Aleta. Hanya sekali ia mengajak Syafira membolos, sepertinya hal itu menjadi candu baginya yang bisa dilakukan setiap minggu.


"Aku mau cari dan menemui Natasha, ada yang ingin aku bicarakan!" jawab Syafira dengan yakin. Kedua sudut bibirnya melebar membentuk sebuah senyuman, karena merasa ini adalah ide yang bagus.


"Syafira sadar! Kamu jangan terlalu jauh masuk dalam kehidupan Om Victor, pria itu punya privasi dan kamu tidak boleh mengganggunya, tidak boleh melebihi batas mencampuri urusannya di ranah bisa kamu jangkau!" jelas Aleta, Tidak setuju! Menemui Natasha itu artinya Syafira sudah berbuat lebih.


"Diam! Aku bisa menemui Natasha sendiri dengan atau tanpa dirimu!" tegas Syafira. Kemudian Ia melangkahkan kakinya lebih cepat karena tidak ingin berdebat lagi dengan Aleta.


Dari mata kuliah jam pertama hingga Syafira dan Aleta saling diam satu sama lain. Tidak ada yang mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu.


Sebenarnya Syafira ingin ikut dan menemaninya. Sedangkan Aleta, tidak tega jika Syafira pergi sendirian.


Sebelum mata pelajaran jam terakhirnya, Syafira mengemasi alat tulis dan segera berdiri. Membawa sling bag dengan lengan tangan kirinya.


Ia berjalan dan pasrah. Namun, tanpa disangka Aleta sudah berjalan di sampingnya.

__ADS_1


"Aku akan mentraktir cumi asam manis! Mari kita izin sama-sama!" ajak Aleta tidak tega membiarkan Syafira pergi sendirian.


Gadis itu tersenyum, memang selalu baik. Akhirnya mereka berdua izin dan segera memesan ojek Online menuju sesuatu tempat.


Semalam Syafira sudah mencari tahu, di mana jadwal kerja Natasha hari ini. Kebetulan tidak terlalu jauh dari kampusnya.


Turun dari motor, Aleta mengikuti langkah Syafira. Menyelinap di sebuah gedung hotel. Ia sudah mengingat semua tentang Natasha, nama manajernya, agensinya, dan juga sudah mencari tahu ruang make-up nya di acara hari ini.


"Kamu tunggu di sini! Biar aku saja yang masuk!" Jika Aleta ikut, Syafira takut, sahabatnya itu akan menghentikan. Bisa jadi akan melarang aksi nekatnya.


"Iya," jawab Aleta menurut.


Kemudian, Syafira masuk


Dengan mengaku sebagai saudara dari Natasha. Dengan mudah Syafira di izinkan masuk ke dalam ruang make-up sang model.


"Permisi," sapa Syafira. Mengangguk sopan menatap wanita cantik, seksi, sempurna elegan tiada tara. Begitulah paras Natasha sang model. Wanita yang dicintai Victor Erlangga.


Dengan pelan ia melangkahkan kaki menghampiri sang model. “Kak Natasha,” panggil Syafira.


"Maaf, kamu siapa?" tanya Natasha berbalik. Menatap gadis di sampingnya dengan Aneh. Jelas-jelas ia mengenali Syafira, tetapi pura-pura tidak mengenalinya.


Kedua indra penglihatan mereka saling berpandang.


"Kak Natasha, aku tidak pintar berbasa-basi. Tapi bisakah Kakak memperbaiki hubungan dengan Om Victor?" ucap Syafira menunduk dengan satu kali nafas.


Hening. Beberapa orang yang ada di sana fokus menatap Syafira. Melihatnya dengan penuh keheranan.


"Kenapa? Apa alasanku harus memperbaiki hubungan dengan Victor?" selidik Natasha mengira jika Victor yang telah menyuruh gadis itu menemuinya. Benar-benar rencana yang tidak gentelman.

__ADS_1


Syafira bergeming, bibirnya bergetar.


Aura kuat wanita yang berada di hadapannya. Membuatnya menciut, menghilangkan semua tekad dan rasa percaya dirinya.


"Katakan! Apa alasanmu menyuruhku untuk memperbaiki hubungan dengan Victor!" desak Natasha seraya menajamkan pandangan matanya.


"Emm ... emm ... ," hanya itu yang keluar dari bibir Syafira.


"Katakan!" paksa Natasha lagi dengan nada suara lebih keras dari sebelumnya. “Apa Victor yang menyuruhmu datang ke sini?” Wanita itu menggelengkan kepala dengan ekspresi mengejek.


Syafira gemetar.


"Aku ... tidak ... ingin melihat Om Victor bersedih!" jawab Syafira mengatakan alasan sebenarnya dengan terbata-bata karena ketakutan.


"Sini, duduk di sini dan jangan pergi sebelum aku mengizinkan kamu pergi!" tegas Natasha. Menarik kasar tangan Syafira agar berada dekat dengannya.


Syafira hanya menurut.


“Diam, dan jangan bicara!” titah Natasha.


Kemudian, Ia segera meraih ponsel . Menghubungi nomor Victor yang masih tersimpan di ponselnya.


Panggilan telefon tersambung.


"Dasar pengecut, kamu mengirim bocil ini untuk mengemis cinta dariku! Datang kemari atau aku tidak akan membiarkannya keluar dalam keadaan baik-baik saja!" bentak Natasha bahkan sebelum orang di seberang telefon menyapanya.


Syafira memejamkan mata. Bibirnya terkatup rapat, yakin, pria yang di telefon oleh Natasha adalah Om Victor.


Apa aku salah? Apa Om Victor akan memarahiku? Apa aku terlalu berlebihan mencampuri urusannya?

__ADS_1


****


__ADS_2