
Malam yang bertaburan bintang-bintang dan diterangi cahaya bulan, seolah mewakili apa yang dirasakan Syafira saat ini. Hatinya juga berbunga-bunga karena berpura-pura pacaran saja dengan Victor membuatnya merasa bahagia. Gadis itu sangat yakin cepat atau lambat, Om Victor juga akan menyukainya. Bagaimana tidak dalam waktu sekejap saja si om sudah berani menciumnya. Bahkan ia mendapat hadiah di hari pertama mereka bersandiwara.
Masih Ada Waktu 2 bulan dan ini baru berkurang 2 hari. Syafira sangat yakin dan percaya diri jika ia bisa mengambil hati Victor. Lantas, mereka tidak pura-pura pacaran lagi, tetapi benar-benar pacaran. Begitulah yang diinginkannya.
Syafira tengah berbaring di atas kasurnya yang nyaman seraya berkirim pesan dengan Aleta.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Suara Nyonya Hani di balik pintu terdengar nyaring, memanggil namanya. “Sebentar!” sahut Syafira. Ia segera bangkit dari tidur, menutup layar ponselnya, dan segera membuka pintu.
“Iya Nyonya.” Syafira menyunggingkan senyum Dan mengangguk hormat pada wanita itu.
“Boleh bicara sebentar?” Nyonya Hani, terlihat sangat berhati-hati seperti ada beban berat yang ada di pikirannya.
Syafira mengangguk kemudian mengikuti langkah Nyonya Hani menuju ruang keluarga di mana Xander dan Mbok Atun juga sedang duduk di sana.
“Begini, sebenarnya aku kemarin sudah berbicara dengan Elena, tapi kamu tahu sendiri kan Elena tidak mungkin jujur kalau denganku. Jadi, aku memintamu untuk berbicara empat mata dengan Elena.” Nyonya Hani tidak bisa meminta bantuan orang lain kecuali Syafira.
Hening.
Syafira menyimak apa yang dituturkan wanita itu. Namun, karena Nyonya Hani masih diam saja Syafira mencoba bertanya. “Apa yang harus aku bicarakan dengan Tante Elena, Nyonya?”
“Aku berharap Elena dan Victor bisa bersama lagi. Kemarin, Elena sudah mengiyakan. Sementara, aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Jadi aku minta tolong padamu untuk berbicara dengan Elena. Apakah dia benar-benar mau rujuk dengan Victor setelah penelitiannya di Afrika berakhir, hanya itu saja!” ungkap Nyonya Hani.
Safira bungkam. Jujur saja apa yang disampaikan Nyonya Hani berseberangan dengan apa yang dirasakan hatinya saat ini. Keinginan wanita paruh baya itu bertolak belakang dengan keinginannya. Namun, Syafira tidak bisa menolak.
“Sekarang Elena ada di kamar Xander. Kamu bisa ke sana dan membicarakan hal itu padanya. Tolong ya!” pinta Nyonya Hani dengan ramah.
“Iya Nyonya.” Hanya itu yang keluar dari bibi Syafira. Gadis itu menepis semua rasa berat di dalam dada, memacu kedua langkah kakinya untuk bergerak menuju ke kamar Xander dan berbicara dengan Tante Elena.
“Tante,” panggil Sayfira seraya mengetuk pintu yang terbuka. Ia melihat Elena tengah menata baju ke dalam koper. Satu tangannya menggenggam ponsel seperti sedang menanti pesan.
__ADS_1
“Iya Syafira, sini masuk!” jawab wanita itu.
“Maaf, Tante mengganggu sebentar. Bolehkah aku bicara dengan Tante?” Syafira bergerak mendekat.
“Tentu, sini duduk di sini!” Elena menepuk sofa di sebelahnya.
“Begini Tante, mungkin aku tidak berhak menanyakan ini pada Tante. Tapi, aku hanya ingin tahu saja. Apakah setelah pekerjaan tante di Afrika selesai, Tante berniat untuk menetap di Jakarta. Nyonya Hani, berharap Tante Elena dan Om Victor bisa kembali bersama.” Pertanyaan ini menghancurkan hati Syafira. Namun, ia mencoba menyembunyikan apa yang ia rasakan.
“Sebenarnya aku sudah memiliki teman pria. Dia satu profesi denganku. Aku bisa menetap di Jakarta dan lebih sering menghabiskan waktu bersama Xander, tapi aku tidak bisa rujuk dengan Victor.” Elena harus jujur. Memang sudah tidak mungjin dirinya dn Victor kembali bersama. “Kamu tahu akhir-akhir ini aku sadar, menikahi Victor adalah sebuah kesalahan untukku. Setelah dipikir kembali, jika mengenai pendamping hidup sepertinya pria yang kudambakan bukanlah Victor,” imbuhnya.
“Apa itu artinya Tante Elena tidak ingin rujuk dengan om Victor?” desak Syafira.
“Tidak Sya. Awalnya aku sempat terkecoh. Tapi telah membaca pesan ini. Sepertinya aku sangat yakin dengan apa yang aku rasakan saat ini. Aku lebih memilih dia.” Elena menunjukkan layar ponselYang memaparkan sebuah foto seorang pria yang baru saja mengirim pesan untuknya.
“Bagaimana kalau ada wanita yang mencintai Om vektor dengan tulus. Apa Tante Elena rela Xander memiliki mama baru dan Om Victor mempunyai wanita pengganti?” tanya Syafira ia mengutarakan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri yang saat ini mencintai Victor.
“Tante Elena yakin tidak ingin rujuk dengan Om Victor?” tanya Syafira lagi. Entahlah, ia merasa harus bertanya berkali-kali karena dia memang menginginkan posisi itu. Ingin menjadi wanita spesial bagi si Om.
“Iya Safira. Aku tidak ingin rujuk dengan Victor, aku memilih untuk berangkat kerja ke Afrika, menyelesaikan penelitianku, dan setelah itu mungkin aku mulai memikirkan masa depanku dengan pria ini.” Elena menunjukkan foto pria itu sekali lagi dengan bangga.
“Tante yakin?” tanya Syafira untuk terakhir kalinya.
“Iya aku sangat yakin.”
Bibir Syafira terkatup rapat. Ini mungkin kabar buruk untuk Nyonya Hani. Namun, hatinya bersorak gembira karena Elena benar-benar sudah tidak ingin membina rumah tangga dengan Om Victor.
“Apa tidak apa-apa jika aku menyampaikan ini pada Nyonya Hani?” tanya Syafira.
“Tenang saja, besok sebelum berangkat aku akan menyampaikannya pada mama. Bagaimanapun aku tidak bisa membohongi beliau. Aku tidak ingin memberi harapan palsu pada mama,” tuturnya.
__ADS_1
“Baiklah Tante kalau begitu terima kasih aku pamit keluar dulu.”
“Iya.”
“Setelah ini Tante harus turun ke bawah untuk makan malam bersama.”
“Iya Syafira.”
Gadis itu keluar dari kamar Xander, di ruang keluarga sudah tidak ada Mbok Atun dan Nyonya Hani. Pun begitu dengan Xander anak kecil itu sudah berada di ruang makan untuk makan malam bersama. Lantas, ia melangkah menurunia tangga.
Tiba-tiba Victor berdiri tepat di hadapannya. Pria itu baru saja dari lantai bawah. “Kamu dari mana saja, aku mencarimu!” tanya Victor menatap Syafira dengan pandangan mendominasi.
“Aku baru saja dari kamar Xander, bicara dengan Tante Elena,” jawab Syafira. Jantungnya berdegup kencang, apalagi ketika berada dekat dengan pria itu.
“Hal penting apa yang membuatmu bicara dengannya?” sudah dua hari ini tiap pulang kerja Victor selalu menyempatkan melihat Syafira. Pun begitu dengan malam ini, Entah mengapa mengobrol dan melihat wajah gadis belia itu sedikit mengurangi rasa penatnya karena pekerjaan.
“Tidak ada.” Syafira tidak berniat membahas nama itu di pembicaraan mereka berdua. “Ayo kita turun!” ajaknya.
“Tidak! Lebih baik kamu ikut denganku!” Victor meraih tangan Syafira, menuntun Gadis itu masuk ke dalam kamarnya.
Tak Berapa lama Elena keluar dari kamar Xander. Berjalan menuju ruang makan untuk makan malam bersama. Ia tampak keheranan karena Syafira tidak ada di sana.
“Apa Victor belum pulang? Di mana Syafira?” tanya wanita itu pada Nyonya Hani dan Pak Jaya.
“Victor baru saja naik ke atas dan Syafira. Mungkin dia tidak akan makan malam bersama biasa pasti dia sedang diet,” jawab Nyonya Hani asal.
Elena mengernyitkan keningnya tidak mungkin Syafira tidak makan malam. Gadis itu sendiri yang mengajaknya untuk segera turun ke bawah. Meski barusan ia melihat sekelabat dua orang masuk ke kamar Victor, ia segera menipis pikiran buruknya. Tidak mungkin kan Syafira dan Victor diam-diam bertemu? Ia menggelengkan kepala, membuang jauh-jauh pikiran itu.
To be Continue.
__ADS_1