Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Firasat Buruk.


__ADS_3

Sebuah mobil tengah berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota. Di dalamnya ada Pak Kardi sebagai si pengemudi. Ada Nyonya Hani dan Xander di kursi nomor dua. Sedangkan Victor dan Syafira ada di kursi belakang.


Terjawab sudah pertanyaan Syafira semalam. Ternyata Natasha lah yang membuat liburan ke Lombok beralih ke pantai Anyer. Victor bilang jika kekasihnya itu ada pekerjaan di sana siang ini.


“Om Victor enggak menginap?” tanya Syafira membuka pembicaraan. Dua kali memergoki dua orang itu tengah bercinta menjadi alasan bagi Syafira bahwa Victor dan Natasha menganut **** bebas, berhubungan **** di luar nikah.


Victor tidak menjawab, tetapi ia mengirim pesan ke ponsel Syafira sebagai jawabannya.


[ Mama mana mungkin memperbolehkanku menginap di kamar yang sama dengan seorang wanita. Mengenai waktu itu, aku harap kamu bisa jaga rahasia ya Sya. ]


Selesai membaca, Syafira melihat ke arah Victor dan segera paham. Mengedikkan mata dan tersenyum ke arah si Om.


“Natasha, ada jadwal kerja sore ini hingga malam, jadi aku harus pulang. Lagi pula besok Xander berangkat sekolah dan kamu juga berangkat kuliah. Aku pun harus berangkat kerja,” sahut Victor. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya pria itu penuh dengan perhatian. Manika mata legam seperti ,mutiara itu selalu berhasil membuat Syafira tersipu.


“Aku sudah membaik Om, tenang saja aku tidak apa-apa!” sahut Syafira.


“Kamu menginap di rumah saja malam ini, besok pagi biar Pak Kardi atau bisa berangkat kuliah bersamaku,” pinta Alex yang masih mengkhawatirkan Syafira.


“Tapi Om,” selanya.


“Tidak, tapi-tapian.”


“Iya Syafira, menginap saja!” imbuh Nyonya Hani yang mendengarkan percakapan mereka.


“Baik Nyonya!” Syafira tidak menolak lagi. Hanya satu malam, lagi pula tidak ada Natasha, tidak akan berat untuknya.


Akhirnya mereka pun tiba di kediaman rumah keluarga Erlangga. Xander yang tertidur segera dibawa Mbak Nani pengasuhnya menuju ke kamar. Victor segera ke kamarnya sendiri. Pun begitu dengan Syafira yang akan segera beristirahat agar esok pagi bisa berangkat kuliah dengan keadaan tubuh yang segar.


Dengan perlahan Syafira menaiki tangga menuju lantai dua. Berjalan ke kamarnya, tak lupa membawa tas gendong yang ia bawa ke pantai pagi tadi.


Jam di dinding menujukan pukul 16:15 WIB. Syafira memutuskan untuk tidur sebelum jam makan malam. Ia masih ingat, di rumah ini semua anggota keluarga tidak boleh absen ketika sarapan dan makan malam. Semua harus hadir kecuali jika sedang sakit atau memang sedang tidak ada di rumah.

__ADS_1


Rasa kantuk membuat Syafira terlelap. Tak terasa ia terjaga di jam setengah tujuh malam.


Pada saat itu ia baru menyadari bahwa ponselnya tertinggal di kamar hotel. Syafira beranjak dari tidurnya dan segera berlari ke kamar Victor.


“Om,” panggil Syafira seraya mengetuk pintu pelan.


“Om Victor!” ulangnya degan nada suara lebih keras dari sebelumnya.


“Sebentar!” sahut Victor. Tak ada satu menit, pintu kamar sudah terbuka. Pria dewasa itu sepertinya juga baru saja bangun tidur. Matanya sayu dan hanya mengenakan baju rumahan yang nyaman.


“Ada apa Syafira?” tanya pria itu menatap gadis mungil yang berada di hadapannya.


“Om, ponselku tertinggal di kamar hotel maukah Om Victor mengantarku ke sana untuk mengambilnya?” tanya Syafira penuh harap.


“Tertinggal di kamar hotel atau di pantai?” Victor memastikan. Jika di pantai kemungkinan besar sudah hilang. Namun, jika di kamar hotel pasti masih bisa ditemukan.


“Di kamar hotel Om,” jawab Syafira yakin.


“Sya, nomor Natasha tidak aktif, bagaimana kalau aku membelikanmu ponsel baru saja?” tawar Victor. Ini sudah hampir jam tujuh. Perjalanan dari Jakarta ke pantai Anyer butuh waktu dua jam jika menggunakan mobil . jam sembilan malam baru tiba di sana. Dan kemungkinan tengah malam baru sampai di Jakarta lagi.


“Tapi Om, banyak tugas yang aku simpan di file handphone ku,” kekeh Syafira. Terpaksa berbohong, sebenarnya banyak foto antara dirinya dan Victor yang ia simpan di ponsel itu. Jika ponsel hilang itu artinya kenangan bersama Victor juga akan musnah. Dan Syafira tidak ingin hal itu terjadi.


Victo berdiam, terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Baiklah, kita ke sana sekarang. Kamu harus ikut karena kamu yang tahu dimana kamu menaruh ponsel itu!” ucap Victor. Ia masuk ke dalam kamar dan berganti baju. Pun begitu dengan Syafira mengganti baju santainya dengan baju hangat.


Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil. Alex mengemudikan sendiri mobil Ferrari hitam miliknya.


Sepanjang perjalanan keduanya, hanya diam tidak banyak bicara. Terlebih Syafira yang mengetuki dirinya sendiri karena teledor menunggalkan ponselnya di kamar hotel.


Sementara Victor sesekali memeriksa ponsel. melihat notifikasi pesan yang ia kirimkan ke Natasha. Dan sampai detik ini, sampai ia tiba di hotel tempat mereka menginap. Nomor Natasha tak kunjung aktif juga.

__ADS_1


Victor segera Chek-in di kamar yang tadi di pesan Syafira. Gadis itu berjalan memimpin menuju bekas kamar hotelnya.


Sampai di sana Syafira segera masuk dan memeriksa seluruh ruangan untuk mencari ponselnya. Berbeda dengan Victor yang menaruh curiga karena nomor telefon sang pacar tak kunjung aktif.


Pria itu memeriksa kamar hotel tempat Natasha menginap. Tertutup, tetapi ia tidak tahu siapa yang berada di dalam? Kemudian, ia melihat seorang pelayan mengantarkan dua porsi makan mala ke kamar itu. Apa Natasha masih di dalam?


Akhirnya Victor kembali ke resepsionis untuk mengetahui, apakah Natasha masih menginap atau sudah pergi.


“Tadi saya menginap di kamar 401, apakah Natasha sudah chek-out! Sepertinya saya meninggalkan sesuatu di kamar itu,” dalih Victor.


“Tamu nomor 401 belum chek-out sejak tadi pagi Pak. Jadi silakan Anda masuk ke kamar itu, karena masih orang yang sama yang datang dengan Anda tadi pagi,” sahut karyawan bagian resepsionis seraya melihat layar laptopnya.


Degh.


“Baiklah, terima kasih atas infonya.”


Dengan perasaan takut dan penuh firasat buruk. Victor menaiki tangga menuju ke lantai dua. Sangat pelan.


“Om ponselnya sudah aku temukan!” seru Syafia merasa bahagia.


“Oh, bagus!” Victor tersenyum sumbang.


“Baiklah, ayo kia pulang sekarang!” ajak Syafira.


“Ya, kamu tunggu di mobil, ada yang ingin aku kerjakan sebentar!” titah Victor.


“Baik Om.” Syafira melangkahkan kaki menuruni tangga, berseberangan dengan Victor yang melangkah menaiki tangga dengan perasaan tak menentu. Ia terus melangkah ke kamar nomor 401.


Kemudian ia berdiri di depan pintu 401. Victor tidak tahu siapa yang ada di dalam sana bersama Natasha. Namun, ia yakin itu adalah seorang pria.


Victor mengurungkan niatnya mengetuk pintu. Ia akan mengirim seseorang untuk menyelidiki siapa pria yang berada di kamar yang sama dengan sang kekasihnya. Akhirnya, ia melangkahkan kaki menuju area parkir mengikuti Syafira yang sudah terlebih dulu menunggunya di dalam mobil.

__ADS_1


* * *


__ADS_2