
“Om, tolong lepasin!” pekik Syafira, berusaha mengurai kedua tangan Victor yang melingkar di pinggangnya.
Victor tidak menjawab. Tidak pula melepaskan pelukannya.
“Om Victor mendengarku kan! Tolong lepaskan!” tegas Syafira ada penekanan di dalam suaranya. Ia mengagumi Victor. Bukan berarti pria itu bisa dengan bebas menyentuhnya.
Alih-alih melepaskan pelukan, Victor menarik tubuh Syafira dan merebahkannya di atas ranjang. Kmi tubuh mungil Syafira dalam kungkungan dan kuasa Victor.
Dengan tatapan sayu, kedua indra penglihatan Victor, memandangi wajah Jesslyn. Rambut basah dengan aoram wangi tubuhnya, menggelitik indra penciuman Victor.
“Om, lepaskan aku!” Syafira berusaha bangkit meski kedua tangan kekar Victor terus mencengkeramnya. Apa daya, tenaganya tak sebanding dengan Victor yang hobi fitnes. Bukan hanya tubuh yang atletik, ada bagian tubuh yang berotot di tempat yang semestinya. Roti sobek di bagian perut, di bagian pundak yang membuat dadnya semakin terlihat bidang.
Victor tidak melepaskannya. Yang ada pria itu sekarang sedang berusaha mendaratkan kecupan di bibir Syafira.
“Om—, Om Victor!” pekik Syafira dan sudah tidak bisa menghalangi lagi ketika bibir Victor menempel di bibirnya. Selanjutnya, bibir itu terus dan terus mencium Syafira dengan basah dan lama. Bahkan, Victor terlihat rakus dan bernafsu.
“Om!” teriak Syafira disertai tangisan yang segera membuat Victor tersadar.
“Syafira—.” Victor menggeser duduknya dan mendekati gadis itu. Namun, karena terlalu bayak ia meminum alkohol. Victor tidak sadarkan diri dan terjerembap di atas tempat tidur.
Syafira yang ketakutan, segera pergi. Beranjak dari ruang kamar itu. Ia turun ke lantai dasar dengan menggunakan lift. Tidak peduli pada orang-orang yang mengamati, karena sesekali terdengar isakan darinya.
Syafira berdiri di samping pintu lift untuk menenangkan diri. Kemudian, ia baru menghubungi Aleta untuk mengantarnya ke asrama.
“Kenapa kamu tidak jadi masuk ke dalam?” tanya Aleta, ia pikir Syafira mengurungkan niatnya bertemu dengan Victor. “Apa Om Victor tidak ada di apartemen?”
Syafira hanya mengangguk dengan terus berpegangan pada Aleta yang sedang mengemudikan kendaraan roda duanya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Aleta tidak banyak bertanya. Ia tahu jika Syafira sudah kehabisan uang bulanan. Akhirnya sampailah mereka di asrama.
Syafira turun, ia melepaskan helm dan memberikannya pada Aleta. “Terima kasih ya,” ucapnya.
“Iya, sama-sama,” jawabnya. Ikut turun dari motor, beristirahat sejenak di kamar asrama Syafira.
Mereka berdua masih berjalan melewati lorong-demi lorong. “Pokoknya aku terima kasih banget, ya,” ucap Syafira sekali lagi.
“Iya, kamu mau pakai uangku dulu, nanti kalau Om Victor sudah kasih uang kamu bisa menggantinya,” tawar Aleta. “Bagaimana?’
“Tidak, tenang saja, aku masih memiliki sedikit uang di tabunganku! Kamu sendirikan yang bilang kalau alau harus menabung agar tidak bergantung pada Om Victor! Mungkin mulai sekarang aku harus mencari kerja untuk membiayai hidupku sendiri!” Syafira menunduk, kejadian barusan membuatnya merasa takut. Memberinya kesadaran bahwa tak selamanya ia akan terus bergantung pada pria yang ia kagumi itu. Ah tidak, yakinkah setelah kejadian tadi masihkah Syafira mengaguminya?
“Baiklah, aku pulang sekarang kalau kamu butuh bantuan! Jangan sungkan!” tutur Aleta.
“Iya, emm— bagaimana kalau aku—,” Syafira menghentikan ucapannya. Ragu ingin meminta tolong hal yang lebih sulit dari pada sekedar meminjam uang.
“Tolong bilang ke Kak Juna, untuk mencarikan pekerjaan. Tapi jangan bilang kalau pekerjaan itu untuk aku!” pinta Syafira. Dengan bekerja dan memiliki gaji, setidaknya ia tidak perlu menunggu dan mengandalkan uang bulanan dari Om Victor.
“Baik, aku kan bilang ke Kak Juna, apa pekerjaan yang kamu inginkan. Aku rasa kakakku memiliki banyak teman, yang bekerja di bidang yang berbeda!” Aleta tidak mungkin merelakan Syafira bekerja menjadi Office Girl atau pekerjaan berat lainnya. Syafira itu pandai!
“Apa saja, aku hanya lulusan SMA, kerja di kafe atau di swalayan asal bisa aku lakukan sepulang kuliah aku mau!” sahut Syafira. Ia sadar diri i hanya berijazah SMA, dan saat ini kuliah tetap menjadi prioritasnya.
“Siap! Kalau begitu aku pulang sekarang!” pamit Aleta. Ia selalu pulang tepat waktu sebelum jam tujuh malam atau sang mama akan memarahinya.
“OK, hati-hati ya!”
“Siap!” Aleta keluar dari kamar Syafira dan segera pulang ke rumah.
__ADS_1
Kini hanya Syafira sendiri di ruang kamarnya. Kejadian di apartemen Victor sore tadi kembali terulang di pikirannya. Syafira takut, ia mendengarkan musik lewat playlist musik di ponselnya. Perlahan ia mulai merasa tenang dan bisa terlelap.
****************
Victor terjaga, jam sudah menunjukkan pukul 21:15 WIB.
Dengan tangan kanan ia memijit keningnya yang terasa pening. Lantas, ia beranjak dari tidurnya. Berjalan keluar dari kamar. Pandangan matanya tertuju pada ruangan tamu yang berantakan. Dari foto yang bertebaran sembarang. Botol alkohol kosong dan belasan puntung rokok.
Victor mencari ponsel yang bahkan ia lupa menaruhnya. Benda pipih nan canggih itu harus ia teemukan agar ia tahu sudah berapa lama ia tertidur. Akhirnya, Victor menemukan ponsel pintar miliknya, yang brada di atas sofa ruang tamu.
IA melihat jam dan tanggal. Ternyata belum berganti, itu artinya ia hanya tertidur beberapa jam saja. Sekitar enam jam, dari jam tiga soe hingga jam sembilan malam.
Kembali ia terduduk. Melihat notifikasi di ponselnya. Kemudian, ia baru ingat akan kehadiran Syafira. Namun, ia ragu hanya di mimpinya saja, atau gadis itu benar-benar datang ke apartemen.
Victor yang ragu, melangkah pelan memeriksa CCTV ke kamarnya. Dua buah CCTV di ruang tamu tersambung langsung ke telefisi di dalam kamarnya.
Rekaman CCTV mulai terpapar di layar TV. Victor melihat rekaman beberapa jam yang lalau. Ya sekitar jam empat Syafira datang. Tampak jelas apa yang dilakukan gadis itu. Saat ia memungut foto dan mengamatinya. Begitu pun saat gadis itu masuk dari satu ruangan ke ruangan lain.
Terakhir Syafira masuk ke kamar tempat Victor terlelap. Stelah itu tidak terlihat lagi Syafira dalam rekaman CCTV. Sekitar lima menit barulah Syafira keluar dengan berlari seperti ketakutan.
“Astaga! Apa yang aku lakukan!” Victor berlari ke kamar mandi. Ia mencuci muka lalau segera keluar dari apartemen.
Dengan menggunakan lift ia pergi ke basemen. Mengambil mobilnya yang terparkir di sana.
Tanpa menunggu lama, ia segera masuk ke dalam mobil. Duduk di belakang kemudi dan menjalankan mobilnya menuju asrama.
“Bodoh!” umpatnya pada diri sendiri,. Bahkan ia tidak ingat apa yang telaah ia lakukan sehingga membuat Syafira ketakutan seperti itu. Victor menambah kecepatan mobilnya. Ia harus bertemu dengan Syafira dan segera meminta maaf.
__ADS_1
...****************...