
Pagi harinya.
Bella bangun, dan mendapati Victor sudah duduk di sampingnya. Pria itu sedang memperhatikannya.
Gluk.
Syafira menjadi salah tingkah. Dalam keadaan yang masih berantakan karena baru saja bangun tidur, Victor sudah menatapnya dengan padangan yang membuatnya salah tingkah. Refleks, Syafira memukul kepalanya. Mengingat kejadian semalam.
"Apa kamu pusing?" tanya Victor. Sekilas ia melihat jam karena tidak sabar menunggu kedatangan dokter yang akan memeriksa keadaan Syafira.
"Enggak Om," sahutnya.
Menghentikan gerakan tangan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ide gila dari Aleta sudah gagal dan sekarang, ia tidak memiliki ide lagi bagaimana cara untuk mendekati Victor.
"Sebentar lagi dokter akan datang kemari dan memeriksamu!" jelas Victor.
Sebenarnya, Victor juga sedang memikirkan kejadian akhir-akhir ini. Kalau ditelisik lebih lanjut, Victor tidak mencintai Syafira. Namun yang pasti ia tidak bisa melihat Syafira tidak baik-baik saja. Mengenai ciuman-ciuman itu Victor tidak menyangkal. Ia tertarik pada Syafira dan terbawa perasaan.
"Iya Om."
Syafira beranjak dari tidur, lalu bersandar dengan bantal. Pandangan matanya sesekali tertuju pada Victor. Si Om memang tampan. Bahkan sekarang saat dia baru saja bangun tidur.
Pintu terbuka.
Seorang dokter laki-laki masuk ke ruang perawatan Syafira, kemudian ia mulai memeriksa keadaan pasiennya.
“Bagaimana dr. Apa Syafira bisa pulang hari ini?” tanya Victor.
“Boleh, tapi harus datang lagi untuk mengontrol bekas lukanya,” jawab sang dokter seraya melepas perban dan melihat bekas luka jahit di lutut pasiennya.
__ADS_1
“Terima kasih dok, baiklah pagi ini juga aku akan membawa Syafira pulang ke rumah.” Victor merasa lega, Syafira bisa segera pulang.
Setelah dokter keluar dari ruang perawatan Syafira. Victor mulai mengemasi barang-barang milik gadis itu. Dia harus segera pulang dan berangkat kerja. Ada pertemuan dengan klien pagi ini.
"Aku bisa jalan sendiri Om!" ujar Syafira, kejadian semalam saat Victor menolak perasaannya masih membekas. Ia tidak ingin si Om menggendongnya. Dia tidak ingin membiarkan imajinasi liarnya terus bergulir di otaknya. Harus sadar diri, cintanya telah ditolak. Tidak mungkin dia terus menerima kebaikan dari menerima setiap sentuhan pria itu sementara hati pria itu bukanlah untuknya.
"Sungguh?" tanya Victor memastikan. Memikirkan Elena yang sudah berada di Jakarta membuat fokusnya terbagi.
"Iya Om," sahut Syafira yakin. Ia segera turun dari ranjang dengan pelan. Membawa tas berisi seragam. Kemudian melangkah lebih dulu menahan rasa sakit di kakinya.
Victor berjalan di belakangnya. Diam-diam menjaga Syafira. Ia tidak yakin jika kaki Gadis itu sudah sembuh. Jelas sekali di raut wajahnya ia menahan sakit. Namun, Victor memilih tidak memaksa Syafira agar mau digendongnya.
Pria itu terus mengamati.
Dan benar saja sampai di tangga menuju basemen Syafira akan terjatuh. Lantas, Victor dengan gesit segera meraihnya.
"Diam! Jangan menolak biar aku menggendongmu!” tegas Victor membawa Syafira menuruni tangga berjalan menuju ke mobilnya. Kemudian, ia mendudukkan gadis itu di kursi belakang.
Hening!
Hanya suara debar jantung Syafira yang terdengar cepat dan keras seolah terdengar oleh seseorang yang duduk di sebelahnya. Kemudian, mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Keluar dari area parkir menuju kediaman rumah Victor.
Di tengah perjalanan Syafira merasa ada yang keluar dan basah di area bawah sana, di bagian sensitif tubuhnya. Kemudian, ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Memeriksa tanggal yang tertera di layar gawainya. Berada satu malam dengan Victor membuat ia lupa segalanya, termasuk lupa pada hari dan tanggal saat ini. Setiap bulannya siklus menstruasi teratur, selalu di awal bulan.
Syafira menutup mulutnya. Lupa jika hari ini adalah hari pertama haid nya.
Bagaimana ini?
Apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1
Tidak mungkin aku meminta Om Victor untuk membelikanku pembalut!
Tapi jika aku terus duduk di sini dan nanti membasahi jok mobil???
Maka itu akan lebih berbahaya dan Om Victor bisa memarahiku!! ini kan mobil super mahal!!
Syafira beringsut sementara cairan di bawah sana tak terkendali. Semakin keluar dengan deras, Ia bisa merasakannya.
"O ... Om...," panggil Syafira terbata.
"Ya."
"Tolong hentikan mobilnya?" pinta gadis itu.
"Mau ke mana!"
Victori mulai gelisah karena ada pertemuan mendadak dengan kliennya.
"Berhenti di mini market itu Om."
Syafira menunjuk sebuah mini market di sebelah kiri jalan.
Victor menurut menepikan mobilnya.
Tanpa berkata-kata Syafira nekat keluar dari mobil. Ia membuka pintu, dan turun menahan rasa sakit di lututnya. Meski sakit, ia tetap berjalan dan memacu kedua kakinya untuk masuk ke mini market.
Victor yang melihat noda merah celana yang dikenakan Syafira sekaligus di jok mobilnya. Tertegun, terkesiap antara ingin marah dan tak tahu harus berbuat apa.
Kemudian, Victor bergegas dari duduknya. Ia berjalan cepat, menghampiri Syafira kemudian menarik tangan gadis itu.
__ADS_1
“Ada apa Om?” tanya Syafira menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah Victor.
Victor tidak menjawab, ia melepas jas dan mengikatnya di pinggang Syafira untuk menyembunyikan noda yang berada di belakang celana gadis itu. Tanpa mengatakan apapun, Victor kembali menggendong Syafira, lalu membawanya masuk ke dalam mobil.