Menggoda Om Om

Menggoda Om Om
Hati Syafira berbunga-bunga.


__ADS_3

“Apa yang terjadi padamu Sya?” tanya Aleta. Mereka berdua tengah berjalan menuju kantin.


Syafira tidak segera menjawab. Ia tersenyum sendiri mewakili hatinya yang masih berbunga-bunga. Ya, malam tadi ciuman dai si Om masih sangat membekas di dalam ingatannya.


“Tuh kan, kamu senyum lagi. Bukannya menjawab pertanyaanku tapi kamu malah tersenyum!” Aleta menoel lengan tangan Syafira.


“Semalam Om Victor menciumku,” ucapnya dengan lirih dan malu-malu. Sengaja mengucapkan di tempat yang sepi agar tidak ada orang yang mendengarnya.


“Lalu?” Aleta menoleh akhirnya ia tahu alasan Syafira terus saja tersenyum sepanjang hari.


“Sebenarnya, itu bukan ciuman pertama kita sebelumnya Om Victor pernah menciumku di hadapan Natasha,” cerita Syafira. Ya, ia hanya tersenyum. Tai di jam mata kuliah matematika bisnis ia juga selalu tersenyum. Pelajaran di jam itu tak satu pun masuk di kepala Syafira. Di benaknya hanya ada Victor, Victor, dan Victor.


Aleta mengangguk paham. Pantas saja aura Syafira hari ini sangat berbeda.


“Oh iya, nanti malam aku akan makan malam hanya berdua bersama Om Victor. Dia bilang itu makan malam spesial,” ungkap Syafira. Bisa di bilang Aleta mengetahui seluk beluk hatinya. Ia tidak bisa menyembunyikan sesuatu mengenai Victor pada temannya itu. Pun begitu dengan Aleta. Ia tidak pernah menceritakan perihal Syafira terhadap siapa pun termasuk kakaknya yang bekerja menjadi sekretaris Victor.


“Sya, mungkinkah Om Victor akan menyatakan cintanya nanti malam! Haha, sepertinya misi kita berhasil, ternyata tidak perlu bekerja keras dan Om Victor bisa membalas citamu Sya! Aku yakin perasaan terpendammu selama ini akan terbalas, Sya! Om Victor akan membalas Cintamu! Aku yakin!” Aleta ikut bahagia mendengar cerita dari Syafra. Jika hal itu terjadi ia akan menjadi orang pertama yang memberikan selamat pada Syafira.


Aleta memikirkan sesuatu. Ini tidak akan mudah untuk Syafira dan Om Victor. Namun, ia tidak bisa menyatakan sekarang apalagi Syafira sepertinya tengah berbahagia. Dan Om Victor, jika pria itu benar-benar menyukai Syafira yakin pasti akan berjuang untuk hubungan mereka.

__ADS_1


“Aku tidak tahu, tapi akhir-akhir ini Om Victor selalu memperhatikanku. Bahkan semalam ia mengirim pesan selamat tidur untukku. Bukankah itu perkembangan bagus?” andai bisa Syafira ingin berteriak dan memberi tahu semua orang. Ya, memberi tahu kalau pria yang ia kagumi selama ini, ternyata memiliki perasaan cinta terhadap dirinya.


“Sya aku yakin nanti malam Om Victor pasti akan menyatakan cinta padamu!” Ia melontarkan apa yang menjadi keyakinan di hatinya. Syafira memang canting. Dia memiliki rambut hitam yang tebal layaknya orang Indonesia, tetapi dia memil mata biru yang cantik yang berbeda dengan orang asli Indonesia pada umumnya.


Syafira mengangguk dan tersenyum. Meski tidak begitu yakin dengan apa yang diucapkan Aleta. Ia berharap hal itu bisa terjadi. Ya, apa salahnya berharap hal baik untuk hubungan asmaranya dengan si Om.


“Sekarang Om Victor lagi apa Sya?” tanya Aleta sebelum memesan dua mangkuk bakso untuk makan siang mereka.


“Lagi kerja kan?” sahut Syafira yang memang tidak pernah berkirim [pesan dengan Victo saat pria itu di kantor.


“Kamu mau ikut saranku?” tanyanya lagi.


“Sekarang kamu kirim pesan untuk Om Victor. Oba kita lihat, kamu penting enggak buat dia. Kalau kamu penting untuk Om Victor dia pasti akan segera membaca pesanmu setelah membukanya,” terang Aleta. Kalau Om Victor menyukai Syafira, pasti Syafia akan menjadi salah satu daftar prioritasnya.


“Siap!” Syafira meraih ponsel dan segera mengirim pesan pada si Om sembari menunggu pesanan bakso datang.


Syafira sempat sedih melihat layar ponselnya. Si Om sudah membaca pesan darinya, tetap tidak segera membalas.


Baru ia ingin memberi tahu Aleta, telepon pintar miliknya bergetar ada panggilan telefon dari si Om.

__ADS_1


“Halo,” sapa Syafira dengan suara pelan dan lembut.


“Kamu mengirim pesan. Memangnya kamu tidak kuliah Sya?” selidik Victor.


“Aku sedang istirahat Om.”


“Oh, iya aku mengerti. Aku juga sedang istirahat, tetapi aku tidak bisa sepenuhnya istirahat karena terus memikirkanmu!” ucap Victor dari seberang telefon. Tentu saja tidak ada Juna di sekitarnya.


Jawaban itu membuat Aleta yang mendengarkan juga tersipu.


“OM nanti malam mau jemput aku jam berapa?’ tanya Syafira. Ia perlu ke salon atau minta bantuan Aleta untuk meriasnya.


“Jam tujuh, aku akan pulang ke rumah. Lalu, aku akan menjemputmu untuk makan malam,” jelas Victor.


“Baik Om.”


“Ya, sudah sampai ketemu nanti malam. Aku tidak sabar bertemu denganmu!” ungkapnya.


“Iya.” Hanya itu yang keluar dari bibir Syafira.

__ADS_1


* * * *


__ADS_2