
Di ruang keluarga lantai dua kediaman Erlangga. Hanya ada Syafira dan Elena, tampak keduanya bungkam dan beradu pandang satu sama lain. Syafira berharap wanita di hadapannya mau dan bersedia menghadiri ulang tahun Xander. Berbeda dengan Elena, wanita itu memilih untuk menghadiri acara reuni bersama teman-teman satu profesinya.
“Bagaimana Tante? Kenapa Tante diam saja? Tante mau kan menghadiri acara ulang tahun Xander? Ini hanya satu tahun sekali tante, dan tahun kemarin tante tidak menghadiri acara ulang tahun anak tante sendiri,” bujuk Syafira. Bagaimanapun, ia harus membuat Elena hadir di ulang tahun Xander. Dengan begitu Victor bersedia untuk berpura-pura menjadi pacarnya.
“Syafira. Apa kamu tahu reuni dengan teman-teman sefakultasku dulu itu hanya dilakukan 5 tahun sekali. Dan kali ini, aku harus hadir! Kenapa? Karena 5 tahun yang lalu aku tidak hadir di acara reuni ini. Kamu tahu aku rindu dengan teman-temanku. Dan mereka juga harus tahu pekerjaan keren ku di Afrika,” terang Elena. Baginya, karier adalah segala-galanya. Andai saja Xander menjadi prioritas dalam hidupnya, pasti tidak akan terjadi perceraian dengan Victor.
“Tante! Apa itu lebih penting dari Xander! Xander itu anak tante sendiri! Dan ia hanya ingin tante menghadiri acara ulang tahunnya, anak itu tidak pernah meminta tante untuk setiap hari mengantarkan sekolah. Asal Tante Elena tahu, bukan hanya aku tapi Om Victor juga Nyonya Hani. Mereka sangat berharap bisa membawa tante menghadiri acara pesta ulang tahun Xander, itu adalah salah satu keinginan terbesarnya.” Kali ini Syafira tidak bersandiwara. Jujur dari dalam hati yang terdalam. Ia memang ingin melihat Xander bahagia di hari ulang tahunnya.
Perkataan Safira membuat Elena beringsut. Ia terdiam menutup bibirnya rapat seraya memejamkan mata. Apa yang dikatakan Syafira itu benar, seharusnya ia memang menghadiri acara ulang tahun Xander daripada menghadiri reuni.
“Baiklah Syafira. Aku akan mengurungkan niatku untuk pergi reuni. Aku memilih menghadiri pesta ulang tahun Xander,” tegas Elena penuh keyakinan.
“Apa ucapan Tante Elena bisa aku pegang. Aku tidak ingin itu hanya kebohongan sesaat. Itu akan melukai Xander jika Tante Elena tidak bisa menghadiri acara ulang tahunnya.” Syafira menelisik, mengamati sorot mata wanita di hadapannya.
“Kamu bisa memegang ucapanku Syafira. Malam ini aku akan pergi. Dan besok sore aku datang ke sini di pesta ulang tahun putraku,” jelasnya sambil membalas tatapan mata Syafira.
“Anda berjanji, Tante? Aku tidak mau jika melihat Xander menangis di hari ulang tahunnya,” desak gadis itu.
“Ya aku janji akan datang ke sini esok hari.”
__ADS_1
“Apa anda akan datang tepat waktu?” Syafira tidak ingin wanita itu mengelabuhinya, datang dari saat pesta usai. Bukankah itu sama juga bohong?
“Aku akan berusaha datang tepat waktu Syafira,” jawab Elena ia tersenyum tingkah Syafira sedikit mengingatkan pada dirinya sewaktu remaja. Tidak mudah terpercaya percaya dengan orang lain, dan selalu waspada.
Tiba-tiba terdengar suara Victor dan Xander yang sedang berbicara. Sepasang ayah dan anak itu, berjalan menaiki tangga seraya mengobrol. Kemudian, Victor melangkah ke arah Syafira dan Elena. sementara Xander yang digendong, terus bergelayut manja melingkarkan lehernya.
Victor menurunkan Xander, anak kecil yang besok akan berulang tahun kelima itu berlari menghampiri sang mama. “Mama, besok Mama datang di acara ulang tahun Xander kan?” tanya anak kecil itu penuh harap. Ia terus menatap ke dua manik mata sang mama dan menunggu jawaban darinya.
Syafira melihat ke arah Victor, pun begitu dengan sebaliknya. Pria itu juga menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Elena. Ya, jawaban yang akan diberikan Mantan istrinya itu akan menentukan apa yang terjadi selanjutnya. Apakah ia dan Syafira akan berpura-pura pacaran atau tidak!
Tiba-tiba jantung Vicktor berdebar sangat kencang. Andai saja dia belum menyanggupi keinginan Syafira, untuk berpura-pura pacaran. Mungkin dia tidak akan segerogi ini hanya menunggu jawaban dari Elena.
“Mama! Mama akan datang di pesta ulang tahunku kan? Janji ya jangan terlambat?” pinta Xander dengan memelas. Kali ini Elena melihat ke arah Victor dan Syafira bergantian. Berpikir dulu sebelum memberikan jawaban.
Berhadapan langsung dengan Xander, membuat Elena tidak berkutik. Jika berhadapan dengan Nyonya Hani dan Victor, ia selalu saja menolak. Dengan Syafira Ia juga masih bisa menolak. Tapi ketika Xander sendiri yang meminta kehadirannya datang di pesta ulang tahun, maka Elena hanya bisa mengiyakan.
“Pinky promise mama.”
“Pinky promise Xander. Mama janji Mama besok akan hadir di pesta ulang tahunmu. Hadir tepat waktu dan akan berdiri di sebelahmu. Menyanyikan lagu pesta ulang tahun dan potong kue bersamamu. Mama janji!” ujar Elena mengakhiri ucapannya dengan mengecup kening Xander.
__ADS_1
“Hore,” teriak Xander, suaranya memecah keheningan rumah.
Ada dua ekspresi berbeda dari dua orang yang berada di ruang keluarga saat ini. Syafira yang bahagia karena Victor mau tidak mau harus menuruti keinginannya. Dan Victor yang merasa berat hati! Jawaban dari Elena berhasil membuat Syafira dan Victor beradu pandang satu sama lain dalam waktu yang lama.
Xander mengikuti mamanya turun ke lantai dasar. Kini di ruang keluarga lantai 2 hanya ada Victor dan Syafira. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Mengenai janji yang sudah mereka sepakati.
“Om aku sudah berhasil membuat Tante Elena datang ke pesta ulang tahun Xander,” ujar Syafira mengawali pembicaraan. Ia perlu memastikan janji yang sudah disepakati si Om.
“Bukankah itu hanya kebetulan Syafira. Jelas sekali Elena tidak bisa menolak, kalau Xander yang memintanya secara langsung,” seloroh Victor.
“Apa itu artinya Om tidak mau menepati janji Om padaku. Apa itu artinya Om mengingkari janji Om padaku. Terlepas itu benar atau tidak, aku tadi sudah membujuk Tante Elena untuk menghadiri pesta ulang tahun Xander,” ungkap Syafira perlu mengatakan apa yang ia lakukan.
Hening. Victor tidak mau dianggap munafik. Tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Tidak ada pilihan lain kecuali menepati janji. Atau, Syafira akan terus mengungkit kejadian itu.
“Siapa bilang aku tidak menepati janji, baik aku mau pura-pura menjadi pacarmu. Tapi kita tidak bisa mulainya malam ini, paling tidak kita tunggu sampai acara ulang tahun Xander berakhir.” Hanya itu jawaban yang terlintas di benak Victor.
“Apa itu artinya setelah pesta ulang tahun Xander selesai kita resmi pura-pura pacaran Om?” tanya Safira memastikan. Terpaksa menyembunyikan ekspresi bahagianya.
Victor tidak segera memberi jawaban. Sengaja membuat Syafira menunggu. Baru telah sekitar 1 menit, ketika Syafira mulai menyerah menanti jawaban darinya.
__ADS_1
Pria itu, menganggukkan kepala yang artinya. Ia setuju bahwa setelah selesainya acara ulang tahun Xander mereka resmi berpura-pura pacaran.
To be Continue.